Aku kecewa pada Bulan. Kenapa ia
masih mengharap bertemu dengan Matahari, padahal ia sendiri tahu bahwa hal itu
mustahil. Kenapa ia tak pernah menyadari keberadaanku, aku yang selalu berada
disampingnya saat kelam menyelimuti malam. Membuat langit penuh warna, membuat
suasana malam tak lagi mencekam, aku yang selalu ada untuk Bulan.
Begitu istimewakah Matahari di mata
Bulan?
Hingga ia tak bisa melihatku...
Bulan pernah bilang, ia mencitai
Matahari karena Mataharilah yang membuat ia dapat bersinar.
Bukankah Matahari juga sama-sama
Bintang sepertiku??
Apakah karena sinarku tak secerah
Matahari??
Apakah karena orbitku tak searah
dengan Matahari??
Aku tak habis fikir, kenapa semesta
kadang tak adil. Kenapa Bulan mencintai Matahari, yang bahkan tak pernah memikirkan Bulan. Ia
bahkan hanya memanfaatkan Bulan untuk menyinari Bumi di malam hari. Kenapa
Bulan tak juga sadar, Matahari mencintai Bumi.
Aku yang sepenuh hati mencintai
Bulan, kenapa aku tak bisa mendapatkan cintanya?
Inikah yang dinamakan takdir?
Bulan tak berjodoh denganku, ia tak
mencintaiku, ia hanya menganggapku sebagai sahabat dalam mengarungi malam, saat
ia sendirian…
Mungkin saat ini sudah waktunya aku
pergi jauh dari Bulan.
Mulai malam ini,
biarlah aku bersembunyi dibalik awan, aku tak akan lagi menemani Bulan. Aku tak
sanggup lagi melihat Bulan menagis merindukan kedatangan Matahari. Dan akupun
tak kuat mengarungi kenyataan bahwa Bulan tak pernah mencintaiku selama ini.
Bulan, aku berjanji
untukmu. Kelak jika rasa ini telah
pergi, aku kan kembali sebagai seorang sahabat seperti yang kau inginkan...
*dapet point 74
Tidak ada komentar:
Posting Komentar