Laman

Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2022

Agar Tetap Strong Saat Anak Sakit

Minggu-minggu ini banyak sekali ibu yang mengeluhkan kondisi anaknya yang terserang batuk dan pilek. Klinik dan dokter anak pun antrinya Masya Allah. Hal sama pun saya alami sejak seminggu yang lalu.  Ketiga anak saya sedang diuji untuk mendapat giliran sakit.  

Pertama si kakak, disusul adik, kemuadian adiknya lagi. Mbak yang mengasuh mereka saat saya harus bekerja pun ikut dapat giliran. Disusul dengan suami yang nggak mau kalah. Sebagai istri dan ibu, jujur saya merasa sangat lelah sekali. Siang dan malam harus begadang. Apalagi si bungsu yang terus minta gendong. Meski badan rasanya nggak karuan, namun tetap "seorang ibu dilarang sakit" atau "boleh sakit tapi jangan lama-lama ". 😁😁😁

Untuk tetap bertahan agar tetap sehat, saya berusaha memanage emosi dan mengurangi beban pikiran. Berikut tips dari pengalaman pribadi selama hampir 2 minggu menemani keluarga yang sakit bergantian:

Pertama adalah perbanyak istighfar dan minta maaf ke suami. Bisa jadi apa yang menimpa kita saat ini akibat dari dosa kita. Sebagaimana Firman-Nya yang artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30). 

Dalam kehidupan rumah tangga, kunci utamanya adalah suami istri. Jika hubungan keduanya baik, Insya Allah anak-anak pun akan nyaman.  Karena tak bisa dipungkiri, pasangan adalah orang terdekat yang sering berinteraksi dengan kita. Barangkali ada khilaf yang kurang berkenan tanpa kita sadari. 

Kedua adalah ikhtiar untuk berobat. Berdasarkan riwayat Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu ia berkata: Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia telah menetapkan bagi setiap penyakit obatnya, maka janganlah berobat dengan perkara yang haram." (H.R Abu Dawud No:3372)  

Sebagai ikhtiar sembuh, kuantar anak-anakku berobat ke klinik terdekat. Anak pertama dan ketiga rawat jalan. Sedangkan yang kedua harus rawat inap karena panasnya tinggi dan belum turun juga meski sudah saya beri penurun panas. 

Ketiga adalah sabar dan ikhlas menerima apa yang Allah tetapkan. Karena sejatinya, semua yang menimpa kita adalah kebaikan. Bisa jadi, sakit yang Allah berikan kepada kita adalah perantara rejeki untuk orang lain. Atau bahkan sebagai penggugur dosa kita selama ini. 

 Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda yang artinya: "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia tertimpa kebahagiaan dia bersyukur, maka hal ini adalah baik baginya. Dan jika tertimpa musibah dia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Stay strong dan jaga kewarasan ya, Mak.... 
Semoga yang diuji dengan keluarga yang sedang sakit, segera diberi kesembuhan. Aaamiin.... 

Minggu, 30 Januari 2022

Ketika Anakku Sakit

Aku terburu pulang, khawatir bungsuku menangis. Terpaksa kutinggal anak keduaku ranap hanya bersama suami. Sebenarnya nggak tega mendengar tangisannya saat kutinggal pulang. Cuman ya mau gimana lagi. Lha kedua anakku yang lain nggak ada yang jaga. 

***
Malam pertama aman. Ibuku menemani di kliknik, jadi anakku bisa bubuk tenang bersama Utinya. Keesokan harinya baru aku menyusul ke klinik. Uti masuk kerja, suami pulang mencuci. Jam satu siang suamiku kembali ke klinik, giliranku pulang ke rumah. Ternyata bungsuku nggak mau minum botol.

Segera kususui dia. Malam harinya badannya mulai panas.  MasyaAllah... kukabari suamiku. Akhirnya Uti yang rencana menemani di klinik jadi menginap di rumah.  Menemaniku merawat 2 anakku. Semalaman aku dan ibu bergantian menggendong bungsu. Uti baru pulang menjelang subuh. 

Sekitar jam 6 pagi, aku membuka hp. Kudapati kabar mbah sedo. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.  

***
Stay strong n calm down. Pening kepalaku rasanya. Tapi harus kuat dan sehat karena ada banyak anak yang membutuhkanku. 

Aku kembali ke klinik jelang sholat Jumat. Anak keduaku tak mau makan dari kemarin, begitu katasuami. Jadi kusiapkan makanan dari rumah. Kusuapi dia, alhamdulillah habis. Dia mulai merengek minta pulang. Dan tak mau lagi kutinggal. Terpaksa aku berbohong untuk pulang. 

Hasilnya, sampai maghrib dia malah menangis terus memanggil namaku. Akhirnya dokter membolehkan ia pulang. Selepas Isya sudah sampai di rumah dijemput tetangga. Karena keluarga masih repot di rumah duka. 

***

Alhamdulillah... semuanya sudah berada di rumah. Meski kondisi masih minum obat semuanya sekeluarga. 

Alhamdulillah, Januari ini meski masih sama diuji dengan sakit, kita masih bisa berkumpul.  Januari tahun lalu kita harus terpisah karena suami dan sulung harus karantina karena wabah covid-19.  

Alhamdulillah juga, tahun ini bisa ikut klip kembali. Setelah tahun sebelumnya saya gagal baru di bulan pertama.

Alhamdulillah, kondisi kesehatan mulai membaik. Semoga memasuki bulan Februari tanggal 1 besok semua sudah pulih kembali. Dan hari berikutnya sudah bisa masuk kerja dan sekolah seperti biasa.  

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

Allaahumma rabban naasi, adzhibil ba'sa. Isyfi. Antas syaafi. Laa syaafiya illā anta syifaa'an lā yughaadiru saqaman.

Artinya:

"Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkan lah penyakit ini, sembuhkan lah, hanya Engkau lah yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.

Ya Allah sembuhkan keluargaku, jauhkan dari segala marabahaya, dan selamatkan dari api neraka. Aaamiin... 

Ketika Anakku Sakit

Membersamai anak-anak yang sedang sakit memang cukup menguras tenaga. Mulai dari Sabtu pekan lalu sampai Minggu hari ini, masih berkutat diseputaran mendampingi anak sakit.

Mula-mula Sulungku minta diantar pulang pas sekolah. Dua hari sebelumnya menginap di rumah Uti. Sampai rumah badannya demam.  Kuminumkan madu syifa kiids turpan. Selang tiga hari panasnya reda. Tapi malah batuk dan masih pusing. Akhirnya kubawa ke dokter. Diberi obat, dan mulai berkurang setelah minum obat. 

Sepulang dari dokter, anak keduaku masih tidur sama suami. Setelah bangun ia muntah, badannya mulai hangat. Suhu tubuhnya 39 derajat celsius. Kutawarkan makan kembali, dan minum air putih yang banyak. Tak lama setelah makan selesai ia pun tertidur. Bangun tidur muntah lagi. Suhu tubuhnya naik 40 derajat.  Kuberikan paracetamol, dua jam berselang, kembali panas lagi. Kaki dan tangannya dingin.  

"Mas, bawa ke klinik aja. Aku gak bisa jaga mereka di rumah. Tangannya dingin detak jantungnya cepat banget." Ucapku ke suami. "Siapa nanti yang jaga kalau opname?" Tanya suami. "Itu bisa dibahas nanti. Sekarang berobat dulu, belum tentu juga harus opmane." Pungkasku. 

Kupanggil tetangga belakang rumah, untuk menemani sulung dan bungsu selama aku dan suami ke klinik. Ditengah gerimis malam kugendong anakku sambil membawa payung dibonceng suami. Bismillah, aku ikhtiar untuk kesembuhan anakku yang Kau amanahkan pada kami Ya Allah....

****
Selepas mahrib, kami menanti giliran di ruang tunggu.
"Panasnya tinggi, 41,5. Sudah minum obat apa?" Tanya dokter. 
"Paracetamol jam 3 tadi." Jawabku. 
"Saran saya rawat inap saja, karena panasnya tinggi. Nggak harus disini, terserah njenengan mau ranap dimana. Karena ini dikasih turun panas pun juga panasnya tetep belu mau turun." Jelasnya. 
"Iya Bu. Ranap di sini saja. Kamarnya masih ada yang kosong?" 
"Masih".

Kugendong anakku ke ruang UGD, untuk dipasang selang infus.  Sementara suami pergi sholat. 
"Mbak, nanti sakit sebentar pas disuntik. Kalau sakit berdoa, baca bismillah dipeluk Umi." Ucapku menjelaskan. Tapi anakku hanya diam. Ketika perawat mulai memasang jarum, diapun gak menangis. Ekspresinya datar. Nggak ada raut kesakitan. "Sakit mbak?" Dia no respo, sepertinya masih lemas. Hanya diam, dan memintaku untuk tetap disampingnya. 

Sabtu, 29 Januari 2022

Sugeng Tindak Mbah

Innailaihi wa inna ilaihi roji'un.
Entah rasa seperti apa yang aku rasakan. Saat mendengar kabar dari wa keluarga kalau mbah sedo hari ini jam lima pagi. Deg, rasa hatiku. Langsung teringat Bapak dan Ibuk yang semalam menginap di rumah menemaniku, dan baru pulang subuh tadi. Sementara suami menjaga anak keduaku di klinik.

Yang terbayang pertama adalah Bapak.  Yang biasa merawat Mbah setiap hari, pas pergi pas ngenangi apa nggak. Aku langsung telpon suami, minta izin untuk takziah sebentar. Secara anak pertamaku juga belum begitu sehat. Sedang anak ketigaku semalam rewel karena panas.

Kulirik jam berulang kali, menunggu mbak datang untuk titip menjaga anak-anak sementara aku ke rumah mbah.
"Mbak, bapak dah disana? Tadi malam ki nginep rumahku." Tanyaku pada mbak sepupu. "Sampun Mbak, iki dimandikan." Aku sedikit lega, masih dimandikan. Aku masih punya waktu untuk kesana.

****

Kupacu motorku ke rumah Ibuk dulu. Ternyata pintu masih terbuka. Bapak sedang di kamar mandi. Aku menunggu sampai selesai. Dan berangkat bersama.

Sesampainya di  sana, kusalami satu per satu tamu yang sudah hadir. Mbah dimana?  Tanyaku. Disana. Sambil menunjuk kamar biasanya mbah tempati. Aku bergegas, tapi ternyata sudah kosong.

Mbah, Apa sudah dibawa ke masjid?
Iya. Aku kecewa dan bingung. Disana bapak² sudah banyak di halaman masjid. Aku pengen mendekat. Tapi aku malu menerobos kerumunan bapak². Beruntung Bulikku membaca kebingunganku. Beliau mengantarkanku mendekat keranda Mbah. Nggak bisa berkata-kata. Lisan ini kelu, cuman bisa sesenggukan menahan tangis agar tidak mengeras. Bulik menuntunku menjauh, dan menemui Ibuk.

"Wes, pulango. Anak-anak  kasihan. Ojo nangis turut ratan." Pesan Bulik menyuruhku segera pulang.


***

Ya Allah, ada rasa getun. Kok pas hari terakhir,  Bapak yang biasa nemani malah tidur di rumahku, nemani aku dan anak-anak yang lagi sakit. Aku sendiri karena ketiga anakku sakit, akupun cuman bisa datang sebentar.  Nggak bisa nunggu sampai berangkat. Semoga mendapat kebaikan nggih mbah. Njenengan kondur pas hari Jumat. Nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu.

Jumat, 28 Januari 2022

Rabu, 26 Januari 2022

Untuk Hana

Assalamualaikum Hana Shalihah... 
Sudah bangun yaa?? 
Doa dulu nggih...

Mendengar sapaanku setiap pagi, dia akan membalasku dengan senyumnya yang menggemaskan. 

***
Hana, Uma mau bercerita. Januari 1 tahun lalu, tepatnya tahun 2021. Saat itu rame-ramenya Covid-19 di tempat kita. Saudara jauh ada yang meninggal, rekan sesama guru sekecamatan juga meninggal. Corona yang awalnya hanya dilihat di televisi ki sudah sampai di dekat kita. Uma mulai khawatir, takut, karena Abi juga bekerja di Puskesmas.  Meski staf TU, dan tidak bersinggungan langsung dengan pasien, rasa was-was itu ada. 

Hingga akhirnya ada swab masal untuk semua karyawan. Abi dinyatakan positif.  Astagfirullah, Uma bingung banget saat itu. Usiamu baru 2 bulan dikandungan. Kakakmu juga masih kecil. 6 th dan 20 bulan. 

Berat banget rasanya Hana. Abi dan Uma menangis dalam kejauhan.  Karena kami khawatir kamu akan tertular. Sampai tibanya Abi dijemput Ambulan ke tempat karantina. Abi menangis karena khawatir meninggalkan kita berempat. Uma biasanya sering sakit dan masuk angin kalau malam. Tapi saat itu, kamu memberi kekuatan untuk Uma. "Abi, Abi gak perlu khawatir.  Ikut aja apa kata petugas. Anak-anak biar Umi yang urus. Yang penting Abi sehat. Kalau semisal kemungkinan terburuk kita gak bisa bertemu lagi, InsyaAllah Abi syahid karena ini adalah wabah." Begitulah berbicara lewat telpon dari ruang tamu ke kamar Abi sembari mengelus kamu yang ada di perut.  

Keesokan harinya, Uma dan kedua kakakmu harus ke rumah sakit untuk swab. Hasilnya baru keluar sore. Hasil itu yang membuat Uma benar-benar harus belajar sabar. Kakakmu positif juga. Begitu kabar dari Abi, kemudian menyuruh kakakmu untuk berkemas ke temoat karantina. Bidan desa mengabarkan kakak dijemput hanya dengan sopir ambulan saja. 

MasyaAllah... Uma benar-benar kaget. Tapi lagi-lagi tetap harus bertahan.  Karena ada dua anak lagi yang harus dijaga. Alhamdulillah kakakmu hebat. Dia berani meski sendiri bersama orang yang belum pernah dikenal sama sekali. 

Uma masih sibuk menata hati. Ternyata di sekolah Uma ditakuti, meski hasil menunjukkan bahwa Uma negatif. Akhirnya Uma harus karantina mandiri di rumah. Kita anggap aja ini liburan bersama kita. Uma punya izin untuk di rumah bersama kakak. 
Selang 3 atau 2 mingguan Abi dan kakak pulang. 


Selasa, 25 Januari 2022

Nggak Belanja

Pernahkah ngalamin yang kayak saya???? 
Ya, hari ini saya nggak belanja. Kenapa?  Ya karena brekat kondangan kemarin masih, terus hari ini juga dapat brekat lagi. Jadi gak perlu masak dan belanja. Biar nggak mubadzir. 

Sayur osengan kemarin masih ada sisa, tinggal daur ulang aja kasih santan. Terus ada stok kacang hijau di kulkas, bisa diolah jadi bubur. Alhamdulillah  ala kulli hal. Selalu ada jalan untuk cukup disela-sela keterbatasan yang ada. 

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan. Nggak belanja pun, masih teteep bisa makan. Dan nggak kelaparan.  

***

Kata Alm. Ibuk di pesantren, hidup kaya itu nggak perlu latihan. Semua orang pasti bisa. Yang perlu belajar adalah hidup sederhana, bukan karena pilihan, tapi karena keadaan.  

Kalau sederhana karena pilihan, jelas dia punya opsi lain. Alias mampu untuk hidup enak. Berbeda dengan sederhana karena tuntutan. Kita harus hidup sederhana karena dengan begitu kita bisa bertahan, agar tidak besar pasak dari pada tiang. 

Ibarat kita punya air segelas, ya jangan gunakan air itu untuk mandi. Jelas aja nggak cukup dan sangat kurang. Cukupnya air segelas ya untuk minum. Kalau punya seember air, bisa saja kita berbagi minum barang segelas. Atau pilih untuk cuci muka dulu. Nanti kalau udah punya air sekolam atau sesumur pastilah tiba waktunya dimana kita punya keluangan untuk bermain air secukupnya.  

***

Terus apa dunk masakan di rumah hari ini? 
Ada gulai kambing sisa semalam, osengan tempe buncis kemarin masih ada. Tinggal kasih santan aja biar jadi sayur baru. Terus bubur kacang hijau.  Sayur daun singkong, sambal goreng telur ayam dan tahu, ayam goreng, pepes kemangi tahu, ikan lele goreng, dan kering tempe. 

Nah, kan... nggak masak malah makan enak beraneka ragam. Jajan juga masih ada.  Manco, pisgor, kerupuk, roti kering, dan basah. Sebagian masih jadi penghuni kulkas karena nggak habis. Jadi inget rangkaian ayat ini.

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ

“dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm : 43).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ

“dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An-Najm : 44).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ

“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. ” (QS. An-Najm : 45).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ

“dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” (QS. An-Najm : 48).

***

Memberi kekayaan dan kecukupan. 


Senin, 24 Januari 2022

Belanja Harian 25k

Day 3 challenge belanja 25k sehari. Alhamdulillah masih berusaha istiqamah.  Hari ini masak ikan teropong goreng, beli dipasar setengah kilogram dengan harga sepuluh ribu rupiah.  Untuk sayurnya oseng tempe dan buncis. Tempenya dua ribuan, belinya empat ribu. Terus buncisnya seribu lima ratus rupiah aja. Dan karena kakak gak mau ikan laut, dianya minta lele. Akhirnya beli lele delapan ribu rupiah.  Total habis dua puluh tiga ribu lima ratus rupiah.  Yeay.... masih ada sisa. 

Tadi pagi Pak Mer berkunjung, bawakan terung, jagung dan kelapa hasil panen kebun.  Kelapa yang muda bisa dibuat es degan. Yang tua bisa buat bubur kacang ijo. Lumayan lah buat dimasak besok. Jadi besok gak perlu belanja.  

****

Begitulah cara Allah yang selalu ada celah untuk menyampaikan rejeki. Karena rejeki tak hanya berbentuk gaji. 

Kalau kita mau jeli, dan membuka hati, kadang emang gak bisa dilogika banget. Siapa juga yang menggerakkan hati mereka buat kirim aneka makanan ke rumah coba? Matematika kita jelas gak bakal nyampe buat berhitung bagaimana cukup uang dua puluh lima ribu rupiah buat makan berlima selama sehari. Makan juga tiga kali, nggak cuman sekali aja loh. Dan itu cukup. 

Seringkali kita kurang percaya bahwa Allah mampu melakukan apapun, jauh diluar nalar dan logika kita. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan rejeki. Itulah yang harus kita yakini. 

***

Hari ketiga challenge ini, saya seperti diajak untuk mencari dan memahami bahwa logika kita nggak bakalan sampai untuk mengakses cara kerja rejeki. Seperti tantangan hari ini. Saat saya udah seneng bisa punya sisa belanja, dengan menu yang sudah saya buat, ternyata ada hal tak terduga. Anak minta lauk yang lain. Akhirnya pres banget, hanya sisa seribu lima ratus rupiah ajah. 

Padahal itu rencana untuk jajan. Akhirnya saya sounding diri. Kalau emang rejeki buat anak saya, ya udah tak beli. Yang penting nggak samapai terlewat budget harian. Lha ternyata malah dapat kiriman roti goreng gratis. Alhamdulillah dapat jajan dari jalan lain. 

Nggak cuman itu, malam harinya menjelang maghrib ortu mampir, sepulang kondangan. Brekatnya ditinggalin semua di rumah. MasyaAllah... alhamdulillah 'ala kulli hal. 

Minggu, 23 Januari 2022

Belanja Harian 25k

Hari Minggu hari libur buat masak. Waktunya bersantai dan berkebun. Jadi masaknya kita beli di pasar. 

Qadarullah hari ini si kakak panas, jadi ya gegoleran aja sama anak-anak.  Sebentar pas lagi bubuk disambi ke beli sayur, pas lagi anteng disambi lagi nyuci, habir itu beberes dan seterusnya. Dinikmati aja ritmenya berbuntut tiga dengan jarak 5 dan 2 tahun. 

Hari ini kita ke pasar bareng anak kedua aja. Cari sayur mateng, karena pastinya gak bakalan sempat kalau mau masak. Karena biasanya masak pagi-pagi saat anak-anak masih bubuk nyenyak.  Atau kalaupun terbangun, ya merekanya masih fresh. Gak pake drama. 

Awalnya sih beli sayur lodeh aja sama sayur bening. Karena anak nomor 2 pilih sayur bening. Ternyata pas sampai rumah si sulung minta sayur soto. So, kita balik lagi beli sayur soto di pasar. Alhamdulillah masih kebagian meski antrinya luamaaaa banget. Maklumlah pas Wage, hari pasarannya sini.  

Nah berapa jumlah belanjaan kali ini kalau kita hitung? 
Sayur lodeh saya ambil 2 bungkus, total enam ribu rupiah. Adik minta sayur bening, 1 bungkus aja cukuplah. Harga juga masih sama tiga ribuan. Terus sebungkus soto buat kakak harga sepuluh ribu rupiah. Berhubung semua sayur udah dibungkusin, jadi ya tinggal ambil aja. Total semua sayur sembilan belas ribu rupiah.  

Untuk lauk belum ada kan ya... berhubung udah mepet banget, jadi lauknya kerupuk bawang ajah. Kita beli seharga lima ribu rupiah.  Nah, jatah uang belanja cuman sisa seribu perak. Sedangkan anak minta jajanan pasar. Mesti gimana dunk?? 

Kadang mamak sering kali jebol kalau udah berhadapan sama anak. Untungnya belanja kita yang kemarin kan ada sisa delapan ribu, jadi bisa buat beli jajan buat anak-anak.  Udah dapat susu kedelai 5 bungkus, dan jajan basah 5 potong. 

Alhamdulillah, cukup... 
Malah Allah kasih bonus kita buah-buahan gratis hari ini. Pas adik duduk di teras, ada tetangga yang panen rambutan. Diberi dia tangkai buah rambutan. Nggak berapa lama dapet telepon dari Uti, dikabarin baru panen pisang. Giliran ambil pisang kesana dibonusin kelapa muda dan tua. Alhamdulillah bisa buat es degan. Padahal sebelumnya kita udah muter-muter cari kelapa muda, dan yang jualan tutup semua. Eh, malah dapat gratisan. Apalagi Yang tua bisa buat masak besok. Jadi gak perlu beli kelapa lagi lah buat beberapa hari bahkan minggu kedepan. 

Kadang rejeki dalam bentuk uang kita memang nominalnya tak seberapa.  Tapi Allah selalu punya cara agar rejeki itu sampai ke kita.

Sabtu, 22 Januari 2022

Menu Harian 25k

Buat berlatih sekedar nulis bebas apasaja, ternyata kok ya gak mudah. Kadang bingung banget buat nuangkan sekedar 300 kata. Padahal kalau ngomel, ampun Mak… jangan tanya dech. Sejam pun kuat. 

Ok, sekarang udah tanggal 22 dan aku mulai bingung mau nulis apa. Intip punya kawan-kawan peserta Klip kok pada keren badai tulisannya. Bloger sejati semua. Tulisannya udah terstruktur rapi getu. Pembahasannya fokus pada 1 topik aja. Dan itu yang bakal diulik apik sampai selesai. 

But its ok lah… anggap aja aku masih belajar dan pemula banget. Nulis masih ngalor ngidul gak jelas mau bahas apa. Ya sekedar curhatan ajalah ala Mamak keseharian. 

****

Beberapa waktu lalu pas scroll fb, aku nemuin postingan rincian belanja bulanan seorang istri dengan gaji 3 jutaan sebulan. Untuk biaya hidup 3 orang. Alias anaknya masih 1. Lhah nggak jauh beda ama saya sih penghasilannya, malah saya buat biaya berlima. Soalnya anak udah 3. 

Ya emang puyeng-puyeng begitulah ngaturnya. Harus benar-benar jeli, mana yang kebutuhan, mana yang keinginan. Kalau dibilang, emang gaji segitu cukup??? Ya kuranglah, cuman kan ya mesti dicukup-cukupin biar cukup. Yang penting anak gak sampe kelaparan.  Makanan yang didapat meski sederhana setidaknya bisa lah untuk mencukupi kebutuhan nutrisi harian. Apalagi anak-anak masih masa pertumbuhan.  

Dari sini akhirnya aku dapat ide buat bikin challenge buat dokumentasikan menu harian yaag sederhana sekali untuk keluarga sehari-hari. Budget belanja hariannya 25.000 rupiah aja. 

Hari ini masak pepaya dan cambah. Pepayanya gratis metik dari samping rumah. Cambahnya beli di sayur 1000 aja. Kerupuk 3000, dan tempe 3000. Tambah tepung buat goreng tempenya 1500. Ada sisa uang 16500. Masih banyak lah ya… bisa buat beli yakult 8500. Jadi buat hari ini save kembalian 8000. Itu bisa buat tambah belanjaan besoknya kalau bahan menu berikutnya lebih dari 25k. 

Sederhana banget kan ya? Gak papa kok. Alhamdulillah masih bisa makan. Diluaran sana ada banyak orang yang belum makan. 

Salam sehat selalu buat para istri yang masih berjuang dimanapun berada. Anda tidak berjuang sendirian. 

#KLIPDay3

Senin, 10 Januari 2022

Mendamping Anak Belajar Membaca

Memasuki usia Kakak yang ke 5 tahun  10 bulan, dan belum mau untuk masuk ke PAUD membuat saya harus benar-benar meluangkan waktu untuk membantu belajar Kakak sehari-hari. Pasalnya saya adalah ibu yang bekerja di ranah publik dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang, dan juga mempunyai balita yang harus saya susui pada jam istirahat, membuat saya ketetran untuk membagi waktu dengan Kakak. Tantangan yang saya punya adalah ritme belajar yang belum sesuai. Kadang pas Kakak on mau belajar, saya masih berjibaku dengan pekerjaan. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari ilmu praktis yang bisa saya kerjakan disela waktu yang saya punya dengan bergabung di kelas Selingkar, Sekolah Literasi Sayang Keluarga. 
Harapannya saya dapat menstimulasi anak sulung saya untuk gemar membaca. Karena membaca adalah kunci untuk membuka gudang ilmu pengetahuan. Berikut adalah materi yang saya dapatkan terkait persiapan untuk mengajarkan anak membaca.
1.Kemampuan untuk bicara, mendengarkan dan memahami.
Saya merasakan sekali manfaat dari pada mengajarkan anak berbahasa Indonesia sehari-hari. Karena untuk bahasa daerah, anak secara otomatis akan belajar dari lingkungan yang ada. Sehingga terasa sekali saat kita mulai membacakan buku yang notebene berbahasa Indonesia. Anak akan lebih mudah untuk menerima apa yang kita sampaikan.
2. Kemampuan mengenal bentuk
Kemampuan mengenal bentuk ini dapat diasah dengan mengenalkan anak pada berbagai bentuk objek yang ada disekitar kita. Seperti bentuk segitiga pada atap rumah, segiempat pada jendela, lingkaran pada piring, dll) sehingga anak dapat menggambar bangun tersebut sesuai denga imajinasi mereka.
3.Kepekaan pada bunyi
Kegiatan ini dapat dilatih dengan mendengarkan lagu. Contoh ketika Kakak pertama kali mendengar lagu cicak di dinding, saya nggak menyangka kalau dia akan ingat dalam sekali dengar. Sehingga moment setiap dia lihat cicak dia akan bilang "hap". Dan saya pun mulai menyanyi lagu tersebut dan berhenti sebentar saat anak harus merespon "Hap". kenapa hal ini perlu dilatihkan, karena pada umumnya lagu anak-anak memiliki rima, dan ini baik untuk melatih kepekaannya terhadap silabel (kata-kata yang runtut). selain itu kita juga dapat menstimulasi dengan ayat-ayat pendek dalam Alquran umumnya juga memiliki rima (misal, surat Al Ikhlas dan An Naas). Biasanya anak mulai usia  6 sampai 9 bulan sudah bisa menirukan atau melengkapi satu suku kata di bagian akhir surat. 
4. Kepekaan pada gambar
Diasah dengan mengajak anak menceritakan sebuah gambar. Waktu itu saya memberinya buku bergambar. Atau menggambarkan cerita burung ababil. Dan ternyata kakak bisa membaca gambar yg saya buat. 
Anak-anak umumnya punya imajinasi sendiri tentang gambar-gambar yang ia lihat di sebuah buku. Biarkan dia menceritakan gambar-gambar di buku ceritanya untuk anda, atau minta dia menceritakan gambar yang ia buat.
5. Ajaklah anak-anak bicara tiap anda dan anak menemukan sesuatu yang menarik (kalau pun menurut anda tidak menarik dan biasa, usahakan agar itu terlihat menarik. Ini untuk melatih dia memperhatikan sesuatu). Misal, saat anda berjalan bersama anak, lalu melihat sebuah pohon, anda bisa menceritakan tentang pohon itu. Ajaklah anak bercerita tentang apa saja. Tentang baju yang anda kenakan, buku-buku di toko buku, cuaca, makanan, dll. Minta pendapatnya tentang sesuatu. Misal, ketika anda hendak membeli sepatu, minta pendapatnya mengenai sepatu pilihan anda. Ini untuk melatih dia berpikir dan mengemukakan pendapat. Selain itu, ini juga menunjukkan respek anda padanya. Anak-anak yang biasa menerima respek, biasanya juga akan belajar untuk memberi respek pada orang lain.

Minggu, 28 Februari 2021

1 MARET-KU

Januari dan Februari ku berlalu penuh dengan perjuangan dan gejolak jiwa. Semoga saja awal Maret ini gelombang kehidupanku mulai stabil. Aaamiin.

Mengawali tanggal 1 Maret dengan subuh berjamaah sekeluarga di mushola, adalah hal yang sangat nikmat. Pagi ini adik bangun awal, begitu juga dengan kakak, yang biasanya ogah-ogahan bangun pagi, alhamdulillah pagi ini mudah dibangunkan. Adik berangkat lebih awal bareng Abi, sementara Kakak bareng saya nyusul belakangan. Ditengah jalan, sandal Kakak putus. Meski demikian Kakak tetap melanjutkan langkahnya sampai ke masjid, meski dengan terseok karena harus menyeret sebelah sandalnya yang putus. 

Untungnya jarak antara mushola dan rumah nggak terlalu jauh, sekitar 100 meteran lah... 

Sesampai di mushola, kakak langsung ambil shaf pertama, sedang adiknya duduk didekat jendela. Saya ada dibarisan belakang bersama jamaah ibu yang lain. Dalam hati aku bersyukur, alhamdulillah ya Allah, berkahi anak cucuku, agar senantiasa terpaut dengan masjid.

“Kakak, Umi pengen punya anak yang sholih.” Itu yang senantiasa kuulang dan kusampaikan. Rasanya tak berlebih jika aku berharap kelak anak-anakku menjadi generasi shalih-shalihah, yang senantiasa saling menolong dalam ketaatan.

Bulan depan kakak genap 7 tahun. Aku ingin dia sudah bisa membaca Al-Qur’an. Meski saat ini jilid 4 saja masih terbata. Namun aku optimis dia pasti bisa InsyaAllah. Tentang sholat, memang aku tidak menggegas dia utuk sholat. Hanya saja yang aku tekankan saat usia 7 harus belajar sholat. Karena itu perintah Allah.

“Bulan depan, kakak usia 7. Dan itu pas bulan Ramadhan. Jadi kita harus bersiap mulai sekarang. Umi pengen kakak sudah bisa baca Al-Qur’an di usia iitu.” Begitulah, saat kuungkapkan harapanku kemarin sore.

“Penting mana bisa membaca buku sama membaca Al-Qur’an?” tanya kakak.

“Penting baca Al-Qur’an.” Jawabku mantab. Karena aku tahu kakak sudah bisa membaca buku.

Hanya perlu waktu sekitar 1 sampai 3 bulan untuk mengajari dia bisa membaca. Mengingat kakak hanya beberapa minggu saja masuk PAUD, dan selebihnya dia ikut saya ke sekolah. Aku sendiri hanya akan mengajarkan dia membaca saat dia bertanya. Jika tidak, aku pun hanya membacakan buku yang dia minta.

Upss... ceritaku ngelantur kemana-mana dan nggak fokus. Tapi biarlah, sebagai coretan ringan yang kelak pasti akan bermanfaat sebagai terapi stok 300 kata.


Jumat, 01 Januari 2021

Belajar Lagi Untuk Menulis

Menulis itu memang perlu niat yang kuat. Kenapa? Karena menulis adalah suatu Perjalanan yang sangat panjang. Ingat awal 2012 lalu saat punya resolusi pengen punya buku, dan alhamdulillah lah itu tercapai. Meski karya masih amatiran ya, juga antologi Indi gitu. Dan antologi terakhir terbit sebelum menikah di tahun 2013. Habis itu saya ya cuman nulis untuk Ngerjakan tugas di kuliah Ibu profesional aja. Setiap tahun Padahal saya selalu menuliskan mimpi Pengen banget bisa nulis lagi koma, tapi ternyata kalah sama anak-anak, ngurus rumah ah cari maisyah dan lain seterusnya.

Awal 2021 ini, aku cobalah nulis lagi. Perkara nulisnya konten ringan atau berisi ntar dulu lah yang penting pengennya tahun ini tulis apa aja yang bisa sampai 300  kata dalam sekali setor.

Senin, 14 September 2020

Ikhtisar Materi 4: What is The Mission of Life, Urngency and Criteria

Mengikuti program takhassus yang diawali dengan Tazkiyatun nafs,  membuat saya merasa perlu untuk membahasnya bersama suami. Kemudian dilanjut dengan materi minggu kedua, Islamic world view yang membuat saya merasa teraduk-aduk. Kadang protes ke suami, kadang minta nasihat beliau juga. Saya seringkali melihat suami itu begitu enteng, tenang dan nyaman banget dalam hidupnya. Kenapa saya nggak seperti itu. Saya seringkali emosional. 

Hingga diskusi kami tentang pembahasan materi kedua membuat saya berderai air mata. Disitu saya melihat sudut mata suami pun menetes, meski terburu diusap. "Tazkiyatun nafs itu adalah penyucian jiwa. Setiap orang akan berbeda dalam memaknainya, dan cara mendapatkannya.  Kamu harus mencari maknanya itu dengan jalanmu sendiri." Lanjutnya lagi, "Dunia itu hanya bayang², jika kau mengejarnya, ia akan semakin menjauh. Dan kamu akan semakin jauh dari sumber cahaya. Namun jika kamu mendekat pada cahaya, dan pemilik cahaya, bayang² itu akan selalu mengikuti."

"Apa maksudnya?" Spontan saya bereaksi. "Pikirkan sendiri." Begitu pungkasnya sore itu.

Keesokan harinya,,, aku kehilangan satu pendengaranku. Tiba² telingaku tuli sebelah. Awalnya aku hanya berfikir kemasukan air. Ternyata sampai sehari dua hari, tak kunjung sembuh. Aku mengadukan ke suami. "Itu akibat diskusi kita kemarin." Jawabnya.

Aku semakin pusing, apa sih sebenarnya Tazkiyatun nafs itu. Kenapa aku jadi budek gara² beginian. Setiap hari aku minta diantar berobat, namun suami menolak. Sampai pada haru ke tujuh. Kamipun berangkat ke klinik. Turun dari motor, di depan pintu masuk, mendadak telinga saya sembuh. Dan kami pulang. Nggak lucu kan kalau kemasukan air aja, dan udah sembuh terus mau berobat. 

Keanehan terjadi kembali, di rumah telinga saya kambuh lagi. "Bersabar dulu aja." Pesan suami saat itu. Saya menjadikan moment itu untuk bermuhasabah, mengingat kembali kesalahan² yg terlewat, dan mencoba untuk mendengar kata hati. Saya sadar, selama ini saya terlalu mendengar semua apa kata orang. Itulah yg membuat saya sering gelisah dan lupa. 

Memasuki minggu kedua telinga saya masih sakit, meski agak membaik. Kali ini saya mencoba berencana berobat lagi. Ketika siap² pergi, eh sembuh lagi untuk kedua kali. Saya mulai tertawa... Ya Allah,,, apa pesan yang ingin Kau sampaikan...??? Izinkan aku untuk segera menemukan misi penciptaan yang Kau amanahkan.  


*Nb. Sampai saat ini saya belum sempat dengar materi 3 di g.class. Namun udah sempat nyimak materi 4 kemarin. Alhamdulillah,  dapat gambaran untuk mensinergikan atau minimal meraba² menekuni profesi saat ini untuk menemukan misi bersama suami. 

Rasanya ini lebih ke curhatan, bukan ikhtisar.  🤭 maafkan para senior... 

Senin, 31 Agustus 2020

Ikhtiar Materi 2: Islamic Concept of Life and Happines

"Ilmu agama ibarat cahaya, sedang dunia ibarat bayang-bayang semata. 

Saat kita fokus mendekati cahaya, maka bayang-bayang akan semakin besar dan mengikuti kemanapun kita pergi. 

Akan tetapi sebaliknya, jika kita mengejar bayangan, cahaya akan semakin jauh, sedang bayangan akan semakin mengecil."


Begitu pula makna bahagia. Saat kita fokus berusaha untuk memahami makna keberadaan dan misi penciptaan kita, Insya Allah kelapangan itu akan ada.  Namun sebaliknya, jika kita salah dalam memaknai hidup dan hanya memikirkan materi semata, maka kesempitan yang akan kita dapatkan.

Sebagaimana FirmanNya. 

Al-An'am 6:125

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ 

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.



Minggu, 23 Agustus 2020

Ikhtisar Materi 1: Tazkiyatun Nafs dan Concept of Human Nature (Fitrah Konsept)

Alhamdulillah dapat kesempatan kembali untuk belajar bersama Ust. Harry Santosa. Kali ini tentang Tazkiyatun Nafs. Tazkiyatun Nafs adalah perkara hati yang menuntut kita untuk jujur terhadap diri sendiri, dan mampu mendengarkan isi hati. Ditengah rumitnya krisis yang melanda negeri ini, seringkali kita mengabaikan suara hati saat melihat realita. Disinilah perlunya kita kembali mengasah hati, mensucikan jiwa dan kembali pada fitrah.

Mengingat kembali The Day of Alastu, Q.S Al-A’raf (7): 172. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Pada hari penciptaan, Allah telah menginstalkan 3 hal dalam diri setiap manusia, yakni:

1.       Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb. Pencipta dan Pengatur urusan manusia.

2.       Fitrah. Karena setiap manusia terlahir dalam kondisi fitrah.

3.       Kemampuan untuk memahami ilmu yakni Kitabullah. Ayat-ayat Allah baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kehidupan, manusia dan alam semesta.

Ketiga hal tersebut adalah bekal bagi manusia dalam menemukan misi spesifik hidupnya sebagai Khalifah di muka bumi. Dengan cara tersebut manusia dapat memahami dari mana mereka berasal, untuk apa hidup di dunia dan kemana mereka akan kembali. Sehingga mereka akan senantiasa berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus (Syiratal mustaqim) dengan misi spesifik yng telah Allah gariskan. Kelak, saat kembali kepada Allah termasuk dalam golongan Nafsul Muthmainnah. Q.S Al-Fajr: 27-28. Allah berfirman: “Hai jiwayang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”

Berikut adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk Tazkiyatun Nafs:

1.       Mu’ahadah. Menyadari janji dan maksud penciptaan.

2.       Muroqobah. Menjemput takdir peran perdaban.

3.       Muhasabah. Mensyukuri dan melacak nikmat sumber daya potensi pada diri dan orangtua.

4.       Mujahadah dan Hijrah. Merancang hayatun thayyibah dengan sungguh-sungguh dan berani hijrah.

5.       Taufiqullah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah berharap agar kehendak kita bertemu dengan kehendak Allah.

Selasa, 07 Juli 2020

Jurnal Minggu 7 Kelas Kupu-kupu

Perlu banyak belajar untuk manajemen waktu kembali. karena banyak sekali hal tak terduga yang harus menuntut untuk diselesaikan dengan segera. Dalam proses mentorship ini sebagai mentee Saya berusaha untuk komitmen dan tepat waktu dalam mengerjakan jurnal. Meski untuk bertemu dengan mentor bisa saya lakukan di jam-jam sela antara pekerjaan domestik dan publik. Alhamdulillah mentor saya bisa mengerti. Terima kasih Mbak Tami

Untuk para mentee saya Mbak Nia, Mbak Minta, Mbak Angrum,  Mbak April dan Mbak Endah, terimakasih telah menjadi teman belajar saya selama ini. Be belajar empathy, bertanya sebelum berprasangka, Mencoba memahami kondisi, dan selalu mencoba untuk berprasangka baik bahwa seseorang setiap orang yang selalu memiliki alasan atas setiap apa yang mereka pilih.

Selasa, 23 Juni 2020

Jurnal minggu 5 Kelas Kupu-kupu

Tidak hanya keberhasilan saja yg perlu kita rayakan, namun juga tentang kegagalan.  Kenapa??! Karena dengan mengenal kegagalan kita akan tahu dimana letak kesalahan yang harus kita akui dengan legowo dan tau bagaimana cara memperbaikinya.  
Dengan begitu kita bisa merangcang kembali strategi dan cara yang baru untuk mencoba kembali terbang. Karena kita tak mungkin mengharapkan hasil yg berbeda dengan cara yang sama. 

Mengakui Kesalahan as Mentee
Saya kurang dinamis saat menghadapi kondisi yang berbeda. Setelah terbiasa masuk setiap dua hari sekali, selama pandemi, yaitu antara wfh dan wfo kini harus berubah lagi. Masuk sekolah setiap hari persiapan new normal. Setelah berhasil menyesuaikan diri,  saya harus bertemu dengan libur semester genap.  Dan saya liburan @home aja. Hanya ada piket Rabu dan Sabtu untuk masuk sekolah. 
Dan disini saya ditantang kembali untuk komitmen waktu yang otomatis berubah pola. 
Plan minggu ini dalam target portofolio adalah menemukan cara yang paling nyaman untuk menyusun catatan harian anak². Dan saya belum menemukan, atau tepatnya karena saya belum mencari. Masih ada waktu 1 minggu untuk berproses. Semoga bisa maksimal. Karena sebelum liburan ini fokus ngerjakan rapor siswa. 

As Mentor
Saya mengakui masih dalam proses belajar. Selain itu saya kurang fokus sama mentee karena masih awam sama proses mentorship ini. Ditambah lagi hp mulai pusing dan tereset.  Jadi chat sama mentee yg sebelumnya pada ilang. Lupa gak buat back up. Semoga di waktu yg tersisa ini bisa fokus ke mentorship. Dan saya bisa lebih intensif atau berinisiatif mancing ke mentee. Secara saya sendiri tipe yg anteng. 

Senin, 15 Juni 2020

Jurnal Minggu 4 Kelas Kupu-kupu

Jurnal 4 Check in.  Kita jeda sejenak, mengevaluasi sejauh mana progres mentoring ini. Sebenarnya masih susah move on dari liburan.  Untungnya mentor saya fleksibel. Secara jadwal saya gak pasti, kadang pilih komitmen di sekolah, eh ternyata pas di sekolah banyak kerjaan yang harus dilakukan.  Kalau komitmen di rumah, anak-anak kadang minta perhatian. Minta kerja sama dengan suami, lihat suami pulang dengan sehat dan selamat itu udah nikmat. 

Biarkan belajar saya masih begini prosesnya. Bukannya saya tidak menjadikan belajar ini prioritas,  hanya saja ada syarat tertentu yang harus saya penuhi dulu, untuk menjadikan belajar ini prioritas. Halah... 😅

Plan saya di minggu ini mencari referensi untuk portofolio,  alhamdulillah udah terbeli buku portofolio anak, meski bekas. Masih lah bisa buat dibaca. Habis ini projek saya adalah buat blog baru lagi buat catat kegiatan harian anak. Udah sempat buat tapi bingung, akhirnya tak gabung lagi, sekarang pengin buat lagi. 😆 yah begitulah sebuah proses belajar.