Laman

Minggu, 23 Agustus 2020

Ikhtisar Materi 1: Tazkiyatun Nafs dan Concept of Human Nature (Fitrah Konsept)

Alhamdulillah dapat kesempatan kembali untuk belajar bersama Ust. Harry Santosa. Kali ini tentang Tazkiyatun Nafs. Tazkiyatun Nafs adalah perkara hati yang menuntut kita untuk jujur terhadap diri sendiri, dan mampu mendengarkan isi hati. Ditengah rumitnya krisis yang melanda negeri ini, seringkali kita mengabaikan suara hati saat melihat realita. Disinilah perlunya kita kembali mengasah hati, mensucikan jiwa dan kembali pada fitrah.

Mengingat kembali The Day of Alastu, Q.S Al-A’raf (7): 172. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Pada hari penciptaan, Allah telah menginstalkan 3 hal dalam diri setiap manusia, yakni:

1.       Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb. Pencipta dan Pengatur urusan manusia.

2.       Fitrah. Karena setiap manusia terlahir dalam kondisi fitrah.

3.       Kemampuan untuk memahami ilmu yakni Kitabullah. Ayat-ayat Allah baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kehidupan, manusia dan alam semesta.

Ketiga hal tersebut adalah bekal bagi manusia dalam menemukan misi spesifik hidupnya sebagai Khalifah di muka bumi. Dengan cara tersebut manusia dapat memahami dari mana mereka berasal, untuk apa hidup di dunia dan kemana mereka akan kembali. Sehingga mereka akan senantiasa berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus (Syiratal mustaqim) dengan misi spesifik yng telah Allah gariskan. Kelak, saat kembali kepada Allah termasuk dalam golongan Nafsul Muthmainnah. Q.S Al-Fajr: 27-28. Allah berfirman: “Hai jiwayang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”

Berikut adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk Tazkiyatun Nafs:

1.       Mu’ahadah. Menyadari janji dan maksud penciptaan.

2.       Muroqobah. Menjemput takdir peran perdaban.

3.       Muhasabah. Mensyukuri dan melacak nikmat sumber daya potensi pada diri dan orangtua.

4.       Mujahadah dan Hijrah. Merancang hayatun thayyibah dengan sungguh-sungguh dan berani hijrah.

5.       Taufiqullah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah berharap agar kehendak kita bertemu dengan kehendak Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar