Alhamdulillah dapat kesempatan kembali untuk belajar bersama Ust. Harry Santosa. Kali ini tentang Tazkiyatun Nafs. Tazkiyatun Nafs adalah perkara hati yang menuntut kita untuk jujur terhadap diri sendiri, dan mampu mendengarkan isi hati. Ditengah rumitnya krisis yang melanda negeri ini, seringkali kita mengabaikan suara hati saat melihat realita. Disinilah perlunya kita kembali mengasah hati, mensucikan jiwa dan kembali pada fitrah.
Mengingat kembali The Day of Alastu, Q.S Al-A’raf (7): 172.
Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini
Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”.
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Pada hari penciptaan, Allah telah menginstalkan 3 hal dalam
diri setiap manusia, yakni:
1.
Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb.
Pencipta dan Pengatur urusan manusia.
2.
Fitrah. Karena setiap manusia terlahir dalam
kondisi fitrah.
3.
Kemampuan untuk memahami ilmu yakni Kitabullah. Ayat-ayat
Allah baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kehidupan, manusia dan alam semesta.
Ketiga hal tersebut adalah bekal bagi manusia dalam
menemukan misi spesifik hidupnya sebagai Khalifah di muka bumi. Dengan cara
tersebut manusia dapat memahami dari mana mereka berasal, untuk apa hidup di dunia
dan kemana mereka akan kembali. Sehingga mereka akan senantiasa berusaha untuk
tetap berada di jalan yang lurus (Syiratal mustaqim) dengan misi spesifik yng
telah Allah gariskan. Kelak, saat kembali kepada Allah termasuk dalam golongan
Nafsul Muthmainnah. Q.S Al-Fajr: 27-28. Allah berfirman: “Hai jiwayang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha
dan diridhai-Nya.”
Berikut adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk Tazkiyatun
Nafs:
1.
Mu’ahadah. Menyadari janji dan maksud
penciptaan.
2.
Muroqobah. Menjemput takdir peran perdaban.
3.
Muhasabah. Mensyukuri dan melacak nikmat sumber
daya potensi pada diri dan orangtua.
4.
Mujahadah dan Hijrah. Merancang hayatun
thayyibah dengan sungguh-sungguh dan berani hijrah.
5.
Taufiqullah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah
berharap agar kehendak kita bertemu dengan kehendak Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar