Laman

Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2023

Mengenal Gaya Komunikasi Pasangan

Lima hari jelang kesepuluh tahun pernikahan kami, rasanya seperti baru kemarin saja. Sampai saat ini, selisih pendapat,  salah paham, ego, itu masih saja sering terjadi.  

Di tantangan hari pertama ini saya baru memulai dengan merefleksi kira-kira yang mana ya yang dominan dari tipe berikut??? 

Komunikasi pasif 

Ciri dari komunikasi ini yaitu kurang kontak mata, gestur tubuhnya yang buruk, tidak bisa mengatakan "Tidak", selalu menghindari konflik, buru-buru "minta maaf" tanpa tahu kesalahannya dimana.

strategi, ajak bicara empat mata, sabar, tunggu responnya, banyaklah bertanya, bukan menjelaskan, dorong untuk menyampaikan maaf, dengan menyebutkan poin sikapnya.

Komunikasi agresif 

Cirinya adalah full kontak mata secara intens, mengintimidasi, menyuruh, suara keras dan lantang, tidak bisa mendengarkan orang lain, "aku benar, kamu salah", "ini semua salahmu", "sudah selesai? ini fakta dan datanya". 

strategi, jangan mudah terpengaruh dan terpancing emosi, tetap tegas tegas bicara dengannya. tahu kapan berhenti dan pergi

Komunikasi pasif agresif 

Hal ini dapat kita deteksi dari sering memakai gestur tubuh, pasif di luar tapi agresif dalam dirinya, menunjukkan wajah bahagia saat kesal, kurang terbuka komunikasinya, sering bergumam pada diri sendiri, "silakan, jangan kaget saja kalau nanti ada yang marah"

Komunikasi asertif

Tandanya adalah komunikasi terbuka dan tegas, berani mengatakan "TIDAK", mampu mendengarkan dengan empati, dapat mengungkapkan pendapatnya, mampu berkolaborasi dengan orang lain, "saya tidak suka, kalau kamu datang terlambat".

Dari keempat tipe diatas, kayaknya keempatnya ada semua kadang-kadang, jadi bingung mau nentuin yang mana. 

Selasa, 16 Januari 2018

Day 12 Level 7


Bermain boneka kaus kaki. 
Pemadaman kemarin menginspirasi kita buat bermain bayangan. Sampai esok hari nya, Mas masih mau juga. Padahal kan siang² dan gak ada pemadaman juga.  
Finally, kita tetap main dan pake kaus kaki ini adalah ide Abi. Aslinya kita pake tangan aja. 

Foto di atas senyumnya cerah banget kan... He is my star. Kalo udah bermain getu gak mau stop. Sampe saya yang lelah dan ngantuk. 
"Umi ayo main ular²an." 
"Umi jangan merem."
"Umi gak boleh bubuk." Begitu pintanya

Lelah dengan boneka kaus kaki, Masa sih ngajak besok peran juga pake boneka ninja go. Ceritanya masih sama, kue ulang tahun.

Soalnya hari minggu lalu, ada anak tetangga yang ulang tahun. Mas ketinggalan, gak dapat undangan. Akhirnya nangis guling². Awalnya saya kasihan, pengen aja tak antar. Tapi niat saya dicegah Abi. Akhirnya kita memutuskan untuk menemani Mas belajar menerima keadaan. Sebagai gantinya seharian kata main kaus kaki dengan tema ulang tahun, dan sampe hari ini juga masih sama. Tema percakapan dalam permainan ini adalah ulang tahun.


Senin, 15 Januari 2018

Day 11 Level 7

"Umi, aku bisa gambar tengkorak."
"Umi ajarin dunk, gimana caranya?"
"Lihat ya Umi..."
Beginilah jagoan kecil kami menjelaskan caranya...
"Ini kepalanya, (membuat lingkaran besar), ini matanya dua (Dua lingkaran kecil dalam lingkaran besar tadi), ini mulutnya (garis zigzag memanjang dari kanan ke kiri)."
Saya mengamati sambil manggut², kok bisa ya? Batin saya bicara.
"Siapa yang ngajarin Mas?"
"Mas Beril. Tadi aku diajarin gambar."
"Tengkorak kok ada rambutnya mas?" Tanya saya.
"Ya iya, ini tengkorak perempuan. Kalo laki² ada jenggotnya." Jawabnya simple.
Xixixixi... Gambarnya kayak zombie ya...


Kalo gambar yang bawah ini mesin penggilingan gula, buat Umi gak repot bikin teh. Jadi mesinnya bisa bikin teh sendiri. Begitu jawabnya ketika saya tanya itu gambar apa.


Alhamdulillah, dengan gambar, Mas bisa berekspresi dan menuangkan ide kreatif nya... 

Tak bisa baca tulis, mengerti sendiri, guruku terimakasih ku....
Guruku tersayang, Umi ku tercinta, 
Tanpamu apa jadinya aku... 

Begitulah lagu yang seringkali dinyanyikan balita kami. Duh... Bikin trenyuh sekaligus lucu. Karena lagunya berasa "gue banget" buat dia.

Minggu, 14 Januari 2018

Day 10 Level 7

Jam sekolah lagi free, kebetulan cuman dapat 2 jam pelajaran saja. Selepas itu cuman nunggu di kantor. Sambil rapikan rak buku yang berantakan, saya menemukan buku kelas satu tahun lalu.

"Mas, belajar yuk. Mau dibacakan cerita?"
"Mau." Jawabnya tegas.

Awalnya ketika saya bacakan, ms kurang antusias. Mungkin karena biasanya saya bacakan kisah² nabi dan rasul, atau sahabat. Namun ketika bertemu dengan gambar² Mas mulai antusias.

***
"Mas, ini gambar apa?"
"Buku."
"Dihitung yuk, bukunya berapa?"
"Satu, dua, tiga."
Dari sini saya merasa kaget, biasanya mas berhitung acak tidak sesuai dengan jumlah bendanya. Bendanya 4, hitungnya bisa sampe 9 lebih. Penasaran, saya pun mencoba soal yang lain.

"Ini pulpen coba dihitung yuk.."
"Satu, dua, tiga, ..., sepuluh."

Wow... Semua soal dijawab betul.
Kita lanjut ke penjumlahan sampai sepuluh. Alhamdulillah bisa juga. Namun sayang, jam saya ngajar kelas tiba. Dengan wajah murung, Mas menggerutu.
"Alah... Nanti aja ke kelasnya. Disini aja berhitung² lagi."
"Berhitungnya dilanjut di kelas ya..."
Akhirnya mas tersenyum.




Sabtu, 13 Januari 2018

Day 9 Level 7

Sampai pada hari ke 9, dengan berbagai macam kegiatan yang kami lakukan, ada 2 hal yang selalu buat mas mau meninggalkan aktifitas lainnya. Dia hal itu adalah mendengarkan cerita dan menggambar. 

Mendengarkan adalah efek pembiasaan pada game level sebelumnya. Dan karena terbiasa dibacakan, efek selanjutnya adalah mas ingin bisa baca sendiri. Suatu kemajuan yang kami syukuri. 

Pernah suatu ketika ada teman kelas 2 beda pendapat gara² cicak. Apakah cicak boleh dibunuh atau tidak. 

"Bu, cicak nggak boleh dibunuh ya... Kan kasihan. Katanya Habibie cicak boleh dibunuh."
"Boleh ya bu. Katanya Fadhil cicak itu dibunuh." Kata Habibi. 
Dan akhirnya saya pun menjelaskan alasan kenapa cicak boleh dibunuh. 

***
Aha... Dan akhirnya saya temukan kegiatan yang menarik buat Mas. Belajar membaca.  Ada banyak teori yang bilang belajar membaca tak perlu terburu. Tapi karena anak yang minta, saya ambil kesimpulan anak saya sudah siap belajar membaca. 
"Aku suka susu SGM."
Lanjut, saya tunjuk ke bagian yang lain. 
"Lilin, lading. Lilin lading."
Hehehe... Spontan kita tertawa lepas. Lha tulisan pisau dibaca lading. Heu...heu...

Ditengah asyiknya kita belajar membaca, ups... Tiba² aja pemadaman. Apalagi tambah hujan angin. Sekaligus Abi pas keluar. Br... Horor. Baru kali ini menepati rumah baru dengan kondisi pemadaman tanpa ada Abi. 

Aslinya saya agak takut, cuman harus berusaha berani di depan anak. Heh eh... 


Ditengah gelap, Mas membakar ujung sedotan bekas susu hingga meleleh dan jatuh ke lantai. 

"Umi, aku kayak burung ababil."
Apa maksudnya????
"Burung ababil yang jatuhkan api panas ke gajah. Gek gajahnya kalah."
"Subhanallah... Bagus banget Mas." 

Kami lalui malam itu dengan bermain lilin sampai jam tidur, sembari menunggu Abi pulang. 

Rabu, 10 Januari 2018

Day 6 Level 7

Ini hasil jepretan Mas di sekolah. Lagi pengen main gadget. Padahal program emaknya nyapih hp. But its ok lah... 
"Umi, langitnya biru, ada awannya. Aku pinjam hp buat foto." Begitu serunya. 
Sepulang sekolah, ma langsung tidur pulas sampe sore. Akhirnya saya punya kesempatan buat bikin peyek udang. 

Ini aktifitas abi menjelang maghrib, lagi buat data base. Akhirnya saya punya inisiatif buat ngabarin Mas pake path. Wow...ternyata binar mata itu ada. Subhanallah, indahnya... 



Selasa, 09 Januari 2018

Day 5 Level 7


Ini karya Mas, memotong kertas dan membuat kolase sangat sederhana. Sayang nempelnya disitu. Disarankan nempel ke tempat lain gak mau.
Moodnya hari ini lagi gak mau belajar. Minta kunjung ke rumah Uti, nonton tv, pulang, tidur siang, bangun tidur ikut ke rumah Uti lagi. Hmmm ... Kesempatan buat beberes rumah sampe ke sudut²nya. 

Giliran jam 10 malam, terdengar pintu digedor², ternyata anak pulang. 
"Aku gak bisa bubuk Um.."
Hedew... Mas belum bisa lepas dari rambut Umi saat tidur. 


Senin, 08 Januari 2018

Day 4 Level 7

Minggu ini kita jadwal kunjungan ke mertua. Hal ini rutin kita sepakati setiap minggu. Namun beberapa bulan terakhir, terkendala kesehatan, jadi mertua dan ortu yang datang ke rumah. Dan alhamdulillah hari ini kesampaian. 
Tiap main ke rumah mertua, saya dan suami mengajak anak untuk eksplor lingkungan. Khususnya sawah. Kebetulan mertua punya sawah. 
***

Di halaman rumah mertua ada beberapa ulat bulu hitam. Naluri seorang ibu otomatis bilang, "Dek, hati² ada ulat." Spontan saya bilang ke anak. Eh, suami malah bilang, 
"Dek, sini tak kasih tahu ulat."
"Gak mau. Nanti digigit."
"Tak ajarin caranya biar gak gatal. Sini, tak ajarin pegang."

Nah, beda banget kan reaksinya sama emak???!! 

"Gak lucu kalo anak laki² takut ulat."
Kata si Abi anteng. Tak pikir, mah... Iya juga. Hehehe.. 

Nih, Mas Fadhil mau pegang ulat bulu. 
***
Puas dengan ulat bulu, kini waktunya bantu Abi mupuk padi. 
Alhamdulillah, tanpa disuruh Mas punya inisiatif sendiri buat bantu dorong gerobak Abi sampe sawah lo. . .(servicing cluster) golongan tipologi melayani, alias membantu sesama. 

Dorong gerobak Abi


Belajar jalan di sawah. Eh, kepleset... Sandalnya nyungsep kena lumpur. Mau mewek, tapi gak jadi. "Lumpur is ok, gak papa" support saya.

Akhirnya sukses muterin sawah sepetak, dan merangkak naik. Sandal jepit dibawa Umi.

Yei... I'm the star of my Mom...

Muterin lagi ke sawah sebelahnya, saya mah diminta buat ngekor dia mulu. (Headman bagian ngatur orang)
"Umi, ayo ikutin aku. Umi jadi pasukannya. Ikutin aba² saya."
Begitulah, sampe saya capek jalan terus muter² sawah.

Di bagian ini, jalannya agak lebar. Mas, lari sambil lompat² dibelakang saya.
"Ciat, ciat, hiyak."
Tiba² byur... Walah, terjerembab masuk lumpur. Wkwkwkw..  

Ini bekasnya waktu jatuh. 

Kita pulang duluan, karena hujan. 

Cuci celana dan baju sendiri, pasca nyebur lumpur.

Jumat, 05 Januari 2018

Day 2 Level 7

Menggali bakat anak. 
Setiap pagi, saya bertanya², kegiatan apa ya yang bisa kita lakukan untuk hari ini? 
Biasanya Mas akan meniru apa yang dilihat dari saya. Saat saya pegang buku dan menulis, maka Mas pun akan minta buku. Seperti malam ini, saya mencatat materi level 7 di buku catatan. 
Ketika jarum jam menunjuk pukul 9 malam, saya mengakhiri kegiatan ini. 
"Mas, sudah dulu ya menulisnya. Kita bubuk, besok biar bisa bangun pagi."
"Hmmm... Belum lho, Um" rengeknya.
Hingga saya beberapa kali siat siut, ngantuk. Efek dari kelelahan siang tadi. Membersihkan rumah, mencuci kamar mandi, cuci baju, sekalian main hujan-hujanan sedari pagi hingga sore. Jam sembilan mi mata udah lengket banget.


"Umi jangan bubuk, lihat aku." Serunya berulang kali, saat melihat mata saya terpejam dengan sendirinya.

"Mas, Umi ambil hp ya, biar gak ngantuk. Buat fotoin Mas." 
"Iya."
"Tapi, nanti setelah selesai langsung bubuk ya, gak boleh pinjam hp Umi."
"Iya." 


"Mas, lihat Umi dunk..."
Cekrek... 


"Sini tak buatkan tanda tangan Umi." Ucapnya sambil narik tangan saya. Selesai menjiplak tangan saya, Mas mulai menghiasnya.
"Ini kukunya."
"Lha ini yang ditengah apa, Mas?" 
"Ini tangan Umi pake pitek merah."
Wow... Sedetail itu. Alhamdulillah, gak terasa udah pukul sepuluh malam.
"Mas udah jam sepuluh istirahat dulu nggih.." ajak saya, karena beberapa kali ia mulai menguap.
"Coba Umi lihat gambarannya Mas yang tadi apa aja?"
Dan inilah gambaran Mas sebelumnya.

Roy terbang pake jet

Boboy

Perosotan panjang banget, dari alun² sampai terminal bus. 
(Ini hasil liburan kemarin)
"Kok panjang banget, Mas. Sampe alun²?"
"Ya, iya. Soalnya yang di alun² cuma kecil."
Wuih..  keren imajinya.

Ini gambar perosotan di alun².

Day 1 Level 7

Pagi ini saya libur sekolah, terlintas seketika untuk mengajak anak berlibur ke alun² kita. Tempat yang terjangkau untuk pergi tanpa Abi, yang harus bekerja.

Keluarga kecil kami memang masih jarang berlibur keluar. Kalaupun keluar, kami memilih untuk pergi pagi² hingga belum banyak pengunjung, dan pulang ketika mulai ramai. Atau sekedar berkunjung ke rumah mertua saja tiap pekannya. Karena berlibur ke luar itu memang butuh dana.

***

Pagi ini kita meluncur ke perpustakaan daerah, Fadhil sangat antusias sekali untuk mendapatkan kartu anggota seperti punya Umi. Tapi ternyata sampe sana, ada beberapa lampiran yang belum lengkap. Alias beda dengan aturan selama Umi daftar dulu. Finally, kita cuman baca² saja.
“Bukunya banyak Um.” Ucapnya penuh gairah.

Mas pilih beberapa buku dan minta dibacakan.  Dinosaurus.... Adalah buku pilihannya. Setelah puas membaca, kita melanjutkan perjalanan. 

"Umi, kartuku mana?" Tanyanya sewaktu sampai di area parkir. 
"Belum sekarang ya, Mas. Fotonya belum ada, lain kali kalo lagi ke sini." Jawab saya. 

****

Ini kegiatan setelah keluar perpustakaan daerah.

Hutan kota

Rumah coklat