Januari dan Februari ku berlalu
penuh dengan perjuangan dan gejolak jiwa. Semoga saja awal Maret ini gelombang
kehidupanku mulai stabil. Aaamiin.
Mengawali tanggal 1 Maret
dengan subuh berjamaah sekeluarga di mushola, adalah hal yang sangat nikmat.
Pagi ini adik bangun awal, begitu juga dengan kakak, yang biasanya ogah-ogahan
bangun pagi, alhamdulillah pagi ini mudah dibangunkan. Adik berangkat lebih
awal bareng Abi, sementara Kakak bareng saya nyusul belakangan. Ditengah jalan,
sandal Kakak putus. Meski demikian Kakak tetap melanjutkan langkahnya sampai ke
masjid, meski dengan terseok karena harus menyeret sebelah sandalnya yang
putus.
Untungnya jarak antara mushola
dan rumah nggak terlalu jauh, sekitar 100 meteran lah...
Sesampai di mushola, kakak
langsung ambil shaf pertama, sedang adiknya duduk didekat jendela. Saya ada
dibarisan belakang bersama jamaah ibu yang lain. Dalam hati aku bersyukur,
alhamdulillah ya Allah, berkahi anak cucuku, agar senantiasa terpaut dengan
masjid.
“Kakak, Umi pengen punya anak
yang sholih.” Itu yang senantiasa kuulang dan kusampaikan. Rasanya tak berlebih
jika aku berharap kelak anak-anakku menjadi generasi shalih-shalihah, yang
senantiasa saling menolong dalam ketaatan.
Bulan depan kakak genap 7 tahun.
Aku ingin dia sudah bisa membaca Al-Qur’an. Meski saat ini jilid 4 saja masih
terbata. Namun aku optimis dia pasti bisa InsyaAllah. Tentang sholat, memang
aku tidak menggegas dia utuk sholat. Hanya saja yang aku tekankan saat usia 7
harus belajar sholat. Karena itu perintah Allah.
“Bulan depan, kakak usia 7. Dan
itu pas bulan Ramadhan. Jadi kita harus bersiap mulai sekarang. Umi pengen
kakak sudah bisa baca Al-Qur’an di usia iitu.” Begitulah, saat kuungkapkan harapanku
kemarin sore.
“Penting mana bisa membaca buku
sama membaca Al-Qur’an?” tanya kakak.
“Penting baca Al-Qur’an.” Jawabku
mantab. Karena aku tahu kakak sudah bisa membaca buku.
Hanya perlu waktu sekitar 1
sampai 3 bulan untuk mengajari dia bisa membaca. Mengingat kakak hanya beberapa
minggu saja masuk PAUD, dan selebihnya dia ikut saya ke sekolah. Aku sendiri
hanya akan mengajarkan dia membaca saat dia bertanya. Jika tidak, aku pun hanya
membacakan buku yang dia minta.
Upss... ceritaku ngelantur
kemana-mana dan nggak fokus. Tapi biarlah, sebagai coretan ringan yang kelak
pasti akan bermanfaat sebagai terapi stok 300 kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar