Sudah bangun yaa??
Doa dulu nggih...
Mendengar sapaanku setiap pagi, dia akan membalasku dengan senyumnya yang menggemaskan.
***
Hana, Uma mau bercerita. Januari 1 tahun lalu, tepatnya tahun 2021. Saat itu rame-ramenya Covid-19 di tempat kita. Saudara jauh ada yang meninggal, rekan sesama guru sekecamatan juga meninggal. Corona yang awalnya hanya dilihat di televisi ki sudah sampai di dekat kita. Uma mulai khawatir, takut, karena Abi juga bekerja di Puskesmas. Meski staf TU, dan tidak bersinggungan langsung dengan pasien, rasa was-was itu ada.
Hingga akhirnya ada swab masal untuk semua karyawan. Abi dinyatakan positif. Astagfirullah, Uma bingung banget saat itu. Usiamu baru 2 bulan dikandungan. Kakakmu juga masih kecil. 6 th dan 20 bulan.
Berat banget rasanya Hana. Abi dan Uma menangis dalam kejauhan. Karena kami khawatir kamu akan tertular. Sampai tibanya Abi dijemput Ambulan ke tempat karantina. Abi menangis karena khawatir meninggalkan kita berempat. Uma biasanya sering sakit dan masuk angin kalau malam. Tapi saat itu, kamu memberi kekuatan untuk Uma. "Abi, Abi gak perlu khawatir. Ikut aja apa kata petugas. Anak-anak biar Umi yang urus. Yang penting Abi sehat. Kalau semisal kemungkinan terburuk kita gak bisa bertemu lagi, InsyaAllah Abi syahid karena ini adalah wabah." Begitulah berbicara lewat telpon dari ruang tamu ke kamar Abi sembari mengelus kamu yang ada di perut.
Keesokan harinya, Uma dan kedua kakakmu harus ke rumah sakit untuk swab. Hasilnya baru keluar sore. Hasil itu yang membuat Uma benar-benar harus belajar sabar. Kakakmu positif juga. Begitu kabar dari Abi, kemudian menyuruh kakakmu untuk berkemas ke temoat karantina. Bidan desa mengabarkan kakak dijemput hanya dengan sopir ambulan saja.
MasyaAllah... Uma benar-benar kaget. Tapi lagi-lagi tetap harus bertahan. Karena ada dua anak lagi yang harus dijaga. Alhamdulillah kakakmu hebat. Dia berani meski sendiri bersama orang yang belum pernah dikenal sama sekali.
Uma masih sibuk menata hati. Ternyata di sekolah Uma ditakuti, meski hasil menunjukkan bahwa Uma negatif. Akhirnya Uma harus karantina mandiri di rumah. Kita anggap aja ini liburan bersama kita. Uma punya izin untuk di rumah bersama kakak.
Selang 3 atau 2 mingguan Abi dan kakak pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar