Tadi pagi Pak Mer berkunjung, bawakan terung, jagung dan kelapa hasil panen kebun. Kelapa yang muda bisa dibuat es degan. Yang tua bisa buat bubur kacang ijo. Lumayan lah buat dimasak besok. Jadi besok gak perlu belanja.
****
Begitulah cara Allah yang selalu ada celah untuk menyampaikan rejeki. Karena rejeki tak hanya berbentuk gaji.
Kalau kita mau jeli, dan membuka hati, kadang emang gak bisa dilogika banget. Siapa juga yang menggerakkan hati mereka buat kirim aneka makanan ke rumah coba? Matematika kita jelas gak bakal nyampe buat berhitung bagaimana cukup uang dua puluh lima ribu rupiah buat makan berlima selama sehari. Makan juga tiga kali, nggak cuman sekali aja loh. Dan itu cukup.
Seringkali kita kurang percaya bahwa Allah mampu melakukan apapun, jauh diluar nalar dan logika kita. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan rejeki. Itulah yang harus kita yakini.
***
Hari ketiga challenge ini, saya seperti diajak untuk mencari dan memahami bahwa logika kita nggak bakalan sampai untuk mengakses cara kerja rejeki. Seperti tantangan hari ini. Saat saya udah seneng bisa punya sisa belanja, dengan menu yang sudah saya buat, ternyata ada hal tak terduga. Anak minta lauk yang lain. Akhirnya pres banget, hanya sisa seribu lima ratus rupiah ajah.
Padahal itu rencana untuk jajan. Akhirnya saya sounding diri. Kalau emang rejeki buat anak saya, ya udah tak beli. Yang penting nggak samapai terlewat budget harian. Lha ternyata malah dapat kiriman roti goreng gratis. Alhamdulillah dapat jajan dari jalan lain.
Nggak cuman itu, malam harinya menjelang maghrib ortu mampir, sepulang kondangan. Brekatnya ditinggalin semua di rumah. MasyaAllah... alhamdulillah 'ala kulli hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar