Laman

Sabtu, 15 Desember 2012

ELANG LARA DI GERBANG CORDOBA



“Ada energi yang berusaha menarikku untuk kembali ke dunia percintaan. Tapi aku tak mau lagi. Aku hanya ingin sendiri. Aku merasa tak pantas untuk bersanding dengan siapapun.” Ungkapnya suatu ketika padaku. Ditengah keputusasaannya tentang cinta, yang menurutnya tak lagi berpihak dengannya. Ditengah kegundahan yang kian mendera. Ia nafikkan segala rasa tentang cinta yang saat ini mengusik jiwanya yang telah lama membeku.
                Berulang kali gadis-gadis itu mempermainkkan perasaannya. Untuk yang kesekian pula cintanya tak berujung pada sebuah pernikahan yang ia dambakan. Pernikahan yang selalu ia impikan, membangun sebuah keluarga, bersama dengan seorang wanita yang akan mengisi hari-harinya dengan penuh keindahan tawa canda, yang senantiasa berbagi dalam suka dan duka. Seorang yang akan membuatnya menjadi berharga dengan memberikan separuh hidupnya untuk bersama. Yang membuat jiwa lelakinya terpenuhi, untuk dicintai dan mencintai.
                Sosok Elang yang begitu tegar, kini mulai pudar. Terlihat pendar wajahnya menanggung duka. Hati yang kian hari deselimuti kegundahan, berharap seseorang datang menemani dalam kesunyian. Tapi sepertinya sia-sia, berkali dicoba namun selalu gagal yang diterima. Apakah ini takdir yang harus dijalaninya, ataukah hanya sebuah ujian dalam episode hidup yang harus dimainkan? Tak ada jawaban yang memuaskan.
***
Aku kini adalah elang yang terhempas ke tanah padas. Jiwaku luruh dan terus merapuh. Bulu-bulu sayapku rontok nyaris tanpa sisa. Ulu hatiku pedih bermandikan lara. Bangunan impian 2016 yang baru terbangun fondasinya selama setahun hilang diterjang gelombang lewat 5 jurusan, yaitu P, dua kali jalur U, T, dan S.
  Aku kini adalah seekor elang yang sendirian menikmati kesunyian tanpa ada pasangan. Kubisikkan keputusasaanku pada sebagian penghuni semesta, “Aku lelah, kawan. Aku tak sanggup terbang lagi. Biarlah kujejakkan kaki di atas bumi. Biarlah kuberjalan terseok-seok sendirian mecari jawaban dari misteri tentang kebenaran.”
Aku terpekur tanpa dengkur. Bayang-bayang kemesraan masih terus menari-nari di pelupuk mataku. Namun pelan tapi pasti kusadar kalau semuanya menjadi semakin samar hingga akhirnya pudar. Lenyap dalam sekejap. Terbungkus dalam rasa sesal yang menggumpal. Dadaku serasa terhimpit beban. Paru-paruku seolah berhenti menikmati oksigen.
Masih terngiang di telingaku kalimat-kalimat pengusiran dari orang-orang dekatnya. Dan kulihat dia sama sekali tak menentang kehendak mereka. Dia memilih untuk menyambut tarikan tangan mereka yang menerbangkannya menjauhi jangkauan tanganku.
“Aaaaaaaaah...........! Ini semua salahku. Harusnya kusadari sejak dulu kalau kedua tangan lemahku ini takkan mampu menjangkaunya. Dia adalah kejora di timur cakrawala. Sedangkan aku adalah elang yang baru kemarin belajar terbang. Dia dan bahasa cintanya selalu sangat istimewa. Sedangkan aku telah menyia-nyiakan kesempatan setahun bersamanya dengan hanya mampu memberikan bahasa cinta yang amat sederhana. Pantaslah kalau dia menjauh mengikuti kehendak orang-orang terdekatnya. Ya.... memang pantas  semuanya kuterima.”
Mulutku mengatup rapat. Kedua telapak tanganku terkepal memukul-mukul tanah. Aku kecewa. Aku geram menahan marah. Bukan pada siapa-siapa. Tetapi pada diriku sendiri.
 Aku berusaha berdiri. Berusaha menegarkan diriku. Berusaha setegar karang yang tak pernah bisa hancur oleh gelombang lautan. Berusaha berani menatap bentangan jalan terjal di hadapanku.
Aku punya satu alasan untuk tetap berusaha berdiri. Adik-adik bimbinganku. Mereka adalah alap-alap yang selalu tulus menerima kehadiranku. Merekalah yang membuat hidupku benar-benar punya makna, tak sekadar jasad bernyawa yang melanglang buana. Semangat belajar mereka yang terus menyala-nyala membuatku mampu tetap tersenyum meski sejenak. Mereka butuh uluran tanganku. Mereka butuh injeksi motivasi dari aku. Mereka butuh transfusi ilmu dari aku. Aku tak mau menyeret dan mengorbankan mereka dalam kesedihanku. Mereka tak tahu dan tak perlu tahu kegetiran yang ada di kerongkonganku. Mereka tak perlu mendegar setiap desahan nafasku. Biarlah kepiluan, kepahitan, kepedihan ini aku saja yang menikmatinya.
***
Hampir saja Elang itu tenggelam dalam samudra kesedihan, menghantamkan diri pada batu karang. Dan aku tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa memandanginya dari kejauhan, berusaha mengirimkan separuh energi yang kumiliki agar ia mampu bertahan. Kudengarkan semua kisah dukanya, luka dikakinya adalah saksi atas kesetiaan cintanya. Ia masih terus menyalahkan dirinya dan mengutuki kebodohannya. Menganggap seorang yang melukainya adalah sosok istimewa yang tiada duanya.
Ia mencoba menutup diri dari dunia luar. Mengunci rapat-rapat hatinya, agar tak seorangpun dapat melukainya lagi. Membiarkan sebuah nama tetap terpahat indah, sebagai saksi atas dukanya hari ini. Ingin rasanya kumarah, merasa cemburu, begitu indahkah sosok kejora itu dimatanya? Mengapa ia masih saja memujanya, menolak menghapus ukiran nama itu dari dinding kapal cintanya. Meski ia tahu, kejora telah menorehkan luka yang teramat dalam.
“Ah… kenapa aku ini, kenapa aku mau memperdulikannya?”. Aku menertawakan diriku sendiri, yang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh menyeruak dalam hatiku. Bukankah elang sendiri adalah symbol sebuah kesetiaan? Suatu hal yang wajar jika ia begitu setia pada kejora yang telah melukiskan kisah indah dalam lembaran hidupnya. Dan aku tak sebanding dengan kejora yang begitu mempesona.
Kini aku melihat elang itu terombang-ambing oleh gelombang kehidupan, tak tahu kemana ia harus melabuhkan kapal cintanya. Aku tak ingin ia karam dan tenggelam. Kuutus sekawanan angin untuk merengkuhnya, menyampaikan isyarat  sebuah pesan. “Lihatlah, diujung sana. Semua orang berusaha menemukan pulau impiannya. Jangan biarkan  kapalmu tenggelam, sebelum menemukan pelabuhannya. Tetaplah berlayar, dan temukan pulau yang kau impikan.”
***
Aku terus berjalan meski masih terasa pincang karena kaki kananku yang belum pulih setelah menjadi saksi cintaku selama ini. Beberapa kali aku terjatuh namun selalu kupaksakan untuk tetap berdiri lalu melangkah tanpa mempedulikan arah. Kulangkahkan kakiku mengiringi detik-detik dimensi waktu. Aku terus berkelana menjelajahi berbagai dimensi ruang. Aku sudah tak berharap lagi adanya cinta yang bisa kujadikan dermaga untuk melabuhkan kapalku. Rasanya ingin kutabrakkan saja kapal cintaku ini ke batu-batu karang hingga meledak dan karam.
Namun entah pada kilometer dan detik keberapa, sebuah energi berusaha kuat menarik kapal cintaku yang kecil ini untuk kembali berlayar.
Aku berteriak melawan, “Tidak! Jangan! Aku tak mau lagi. Aku hanya ingin sendiri. Biarlah kuberjuang sendiri. Aku tak mau ada lagi hati yang tersakiti. Jangan lagi! Aku tak pantas bersanding dengan siapapun. Tidak!    Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!”
Dengan segala daya aku berusaha menolaknya. Namun rupanya energi itu cukup kuat dan terlalu kuat untuk bisa kulemahkan. Hingga akhirnya kuikuti saja keinginan hati untuk  mencari dari mana asalanya energi yang menyentuhku ini.
Kuselancari samudera maya. Kubangkitkan lagi sebongkah asa dari kuburnya. Kutembus segala sekat pembatas teritorial. Hingga tibalah aku di tanah Andalusia di depan gerbang tapal batas Cordoba. Dan energi yang sedari tadi kurasa kini menjadi makin kuat getarannya.
Tanganku terangkat mencoba mengetuk gerbang besar itu. Namun keraguan menyergapku. Bagaimanapun, aku hanya seekor elang yang sedang terluka, sedang menderita lara. Pantaskah aku mengharapkan seorang putri suci dari negeri Cordoba membasuh darah-darah di sekujur tubuhku dan menyembuhkannya?
Aku jatuh bersimpuh. Kepercayaan diriku terbang meninggalkan ragaku. Aku tak berani mengharapkan terbukanya gerbang itu. Hanya sebuah bisikan lirih yang kuharap bisa tertangkap sinyalnya oleh hatinya yang peka.
“Puteri Cordoba. Aku datang.”
***
“Puteri Cordoba. Aku datang”.
Sebuah kalimat yang diucapkan di tengah sisa tenaga yang dimiliki. Suara itu terdengar begitu jelas di telingaku. Dalam batinku bertanya-tanya, berhalusinasikah diriku? Ketepuk pipiku berulang kali, meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Sungguh suatu kata yang tiada kuduga.
Puteri Cordoba, begitulah ia menyebutku namaku. Sejenak kuragu, apakah aku akan membiarkan kapal itu berlabuh di pantaiku, sedang aku tahu dalam kapal itu telah terukir indah sebuah nama? Sanggupkah aku membiarkan nama itu tetap melekat erat di dinding kapalnya?!
Melintas di benakku, sosok Thariq bin Ziyad yang membakar seluruh kapalnya, dan tak pernah lagi menoleh kebelakang, meninggalkan samudera yang dilaluinya. Ia memasuki Andalusia dengan penuh ketulusan, dan tiada keraguan. Ia bakar seluruh kapal yang telah menemaninya melewati 13 mil selat Andalus.
Kutarik nafas dalam-dalam. Argh… siapalah aku ini? Layakkah memintanya berkorban sebagaimana Thariq? Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah sebuah pulau kecil tak bernama, yang bermimpi menjadi kota seindah Cordoba. Beruntunglah ia memilihku menjadi pulau tempat berlabuhnya. Mungkinkah ia adalah seorang yang sengaja dikirim untuk menemaniku mewujudkan impianku?
Kutatap sosok yang ada di hadapanku, Elang itu masih berdiri di sana menantikan jawaban. Aku tak punya pilihan selain mempersilahkannya memasuki gerbang hatiku. Biarlah kejora tetap manjadi bagian dari hidupnya di masa lalu. Dan biarlah kubasuh lukanya, memberikan separuh energi, hingga ia mampu terbang lebih tinggi bersamaku. Bersama membangun sebuah kota impian, seindah Cordoba.
 “Selamat datang di Cordoba. Ia telah lama menanti kedatanganmu”. Terlihat sebuah senyum terlukis indah di wajahnya. 

*Juara Pilihan Juri dalam event WA-AWARD (Warung Antologi) 15/12/2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar