“Ada energi yang berusaha menarikku untuk
kembali ke dunia percintaan. Tapi aku tak mau lagi. Aku hanya ingin sendiri.
Aku merasa tak pantas untuk bersanding dengan siapapun.” Ungkapnya suatu ketika
padaku. Ditengah keputusasaannya tentang cinta, yang menurutnya tak lagi
berpihak dengannya. Ditengah kegundahan yang kian mendera. Ia nafikkan segala
rasa tentang cinta yang saat ini mengusik jiwanya yang telah lama membeku.
Berulang
kali gadis-gadis itu mempermainkkan perasaannya. Untuk yang kesekian pula cintanya
tak berujung pada sebuah pernikahan yang ia dambakan. Pernikahan yang selalu ia
impikan, membangun sebuah keluarga, bersama dengan seorang wanita yang akan
mengisi hari-harinya dengan penuh keindahan tawa canda, yang senantiasa berbagi
dalam suka dan duka. Seorang yang akan membuatnya menjadi berharga dengan
memberikan separuh hidupnya untuk bersama. Yang membuat jiwa lelakinya
terpenuhi, untuk dicintai dan mencintai.
Sosok
Elang yang begitu tegar, kini mulai pudar. Terlihat pendar wajahnya menanggung
duka. Hati yang kian hari deselimuti kegundahan, berharap seseorang datang
menemani dalam kesunyian. Tapi sepertinya sia-sia, berkali dicoba namun selalu
gagal yang diterima. Apakah ini takdir yang harus dijalaninya, ataukah hanya
sebuah ujian dalam episode hidup yang harus dimainkan? Tak ada jawaban yang memuaskan.
***
Aku kini
adalah elang yang terhempas ke tanah padas. Jiwaku luruh dan terus merapuh.
Bulu-bulu sayapku rontok nyaris tanpa sisa. Ulu hatiku pedih bermandikan lara.
Bangunan impian 2016 yang baru terbangun fondasinya selama setahun hilang
diterjang gelombang lewat 5 jurusan, yaitu P, dua kali jalur U, T, dan S.
Aku
kini adalah seekor elang yang sendirian menikmati kesunyian tanpa ada pasangan.
Kubisikkan keputusasaanku pada sebagian penghuni semesta, “Aku lelah, kawan.
Aku tak sanggup terbang lagi. Biarlah kujejakkan kaki di atas bumi. Biarlah
kuberjalan terseok-seok sendirian mecari jawaban dari misteri tentang
kebenaran.”
Aku terpekur
tanpa dengkur. Bayang-bayang kemesraan masih terus menari-nari di pelupuk
mataku. Namun pelan tapi pasti kusadar kalau semuanya menjadi semakin samar
hingga akhirnya pudar. Lenyap dalam sekejap. Terbungkus dalam rasa sesal yang
menggumpal. Dadaku serasa terhimpit beban. Paru-paruku seolah berhenti
menikmati oksigen.
Masih
terngiang di telingaku kalimat-kalimat pengusiran dari orang-orang dekatnya.
Dan kulihat dia sama sekali tak menentang kehendak mereka. Dia memilih untuk
menyambut tarikan tangan mereka yang menerbangkannya menjauhi jangkauan
tanganku.
“Aaaaaaaaah...........!
Ini semua salahku. Harusnya kusadari sejak dulu kalau kedua tangan lemahku ini
takkan mampu menjangkaunya. Dia adalah kejora di timur cakrawala. Sedangkan aku
adalah elang yang baru kemarin belajar terbang. Dia dan bahasa cintanya selalu
sangat istimewa. Sedangkan aku telah menyia-nyiakan kesempatan setahun
bersamanya dengan hanya mampu memberikan bahasa cinta yang amat sederhana. Pantaslah
kalau dia menjauh mengikuti kehendak orang-orang terdekatnya. Ya.... memang
pantas semuanya kuterima.”
Mulutku
mengatup rapat. Kedua telapak tanganku terkepal memukul-mukul tanah. Aku
kecewa. Aku geram menahan marah. Bukan pada siapa-siapa. Tetapi pada diriku
sendiri.
Aku berusaha berdiri. Berusaha menegarkan
diriku. Berusaha setegar karang yang tak pernah bisa hancur oleh gelombang
lautan. Berusaha berani menatap bentangan jalan terjal di hadapanku.
Aku punya
satu alasan untuk tetap berusaha berdiri. Adik-adik bimbinganku. Mereka adalah
alap-alap yang selalu tulus menerima kehadiranku. Merekalah yang membuat
hidupku benar-benar punya makna, tak sekadar jasad bernyawa yang melanglang
buana. Semangat belajar mereka yang terus menyala-nyala membuatku mampu tetap
tersenyum meski sejenak. Mereka butuh uluran tanganku. Mereka butuh injeksi motivasi
dari aku. Mereka butuh transfusi ilmu dari aku. Aku tak mau menyeret dan
mengorbankan mereka dalam kesedihanku. Mereka tak tahu dan tak perlu tahu
kegetiran yang ada di kerongkonganku. Mereka tak perlu mendegar setiap desahan
nafasku. Biarlah kepiluan, kepahitan, kepedihan ini aku saja yang menikmatinya.
***
Hampir
saja Elang itu tenggelam dalam samudra kesedihan, menghantamkan diri pada batu
karang. Dan aku tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa memandanginya dari
kejauhan, berusaha mengirimkan separuh energi yang kumiliki agar ia mampu
bertahan. Kudengarkan semua kisah dukanya, luka dikakinya adalah saksi atas
kesetiaan cintanya. Ia masih terus menyalahkan dirinya dan mengutuki
kebodohannya. Menganggap seorang yang melukainya adalah sosok istimewa yang
tiada duanya.
Ia
mencoba menutup diri dari dunia luar. Mengunci rapat-rapat hatinya, agar tak
seorangpun dapat melukainya lagi. Membiarkan sebuah nama tetap terpahat indah,
sebagai saksi atas dukanya hari ini. Ingin rasanya kumarah, merasa cemburu, begitu
indahkah sosok kejora itu dimatanya? Mengapa ia masih saja memujanya, menolak
menghapus ukiran nama itu dari dinding kapal cintanya. Meski ia tahu, kejora
telah menorehkan luka yang teramat dalam.
“Ah…
kenapa aku ini, kenapa aku mau memperdulikannya?”. Aku menertawakan diriku
sendiri, yang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh menyeruak dalam hatiku.
Bukankah elang sendiri adalah symbol sebuah kesetiaan? Suatu hal yang wajar
jika ia begitu setia pada kejora yang telah melukiskan kisah indah dalam
lembaran hidupnya. Dan aku tak sebanding dengan kejora yang begitu mempesona.
Kini
aku melihat elang itu terombang-ambing oleh gelombang kehidupan, tak tahu
kemana ia harus melabuhkan kapal cintanya. Aku tak ingin ia karam dan
tenggelam. Kuutus sekawanan angin untuk merengkuhnya, menyampaikan isyarat sebuah pesan. “Lihatlah, diujung sana. Semua
orang berusaha menemukan pulau impiannya. Jangan biarkan kapalmu tenggelam, sebelum menemukan
pelabuhannya. Tetaplah berlayar, dan temukan pulau yang kau impikan.”
***
Aku
terus berjalan meski masih terasa pincang karena kaki kananku yang belum pulih
setelah menjadi saksi cintaku selama ini. Beberapa kali aku terjatuh namun
selalu kupaksakan untuk tetap berdiri lalu melangkah tanpa mempedulikan arah. Kulangkahkan
kakiku mengiringi detik-detik dimensi waktu. Aku terus berkelana menjelajahi
berbagai dimensi ruang. Aku sudah tak berharap lagi adanya cinta yang bisa
kujadikan dermaga untuk melabuhkan kapalku. Rasanya ingin kutabrakkan saja
kapal cintaku ini ke batu-batu karang hingga meledak dan karam.
Namun
entah pada kilometer dan detik keberapa, sebuah energi berusaha kuat menarik
kapal cintaku yang kecil ini untuk kembali berlayar.
Aku
berteriak melawan, “Tidak! Jangan! Aku tak mau lagi. Aku hanya ingin sendiri.
Biarlah kuberjuang sendiri. Aku tak mau ada lagi hati yang tersakiti. Jangan lagi!
Aku tak pantas bersanding dengan siapapun. Tidak! Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!”
Dengan
segala daya aku berusaha menolaknya. Namun rupanya energi itu cukup kuat dan
terlalu kuat untuk bisa kulemahkan. Hingga akhirnya kuikuti
saja keinginan hati untuk mencari dari
mana asalanya energi yang menyentuhku ini.
Kuselancari
samudera maya. Kubangkitkan lagi sebongkah asa dari kuburnya. Kutembus segala
sekat pembatas teritorial. Hingga tibalah aku di tanah Andalusia di depan
gerbang tapal batas Cordoba. Dan energi yang sedari tadi kurasa kini menjadi
makin kuat getarannya.
Tanganku
terangkat mencoba mengetuk gerbang besar itu. Namun keraguan menyergapku.
Bagaimanapun, aku hanya seekor elang yang sedang terluka, sedang menderita
lara. Pantaskah aku mengharapkan seorang putri suci dari negeri Cordoba
membasuh darah-darah di sekujur tubuhku dan menyembuhkannya?
Aku
jatuh bersimpuh. Kepercayaan diriku terbang meninggalkan ragaku. Aku tak berani
mengharapkan terbukanya gerbang itu. Hanya sebuah bisikan lirih yang kuharap
bisa tertangkap sinyalnya oleh hatinya yang peka.
“Puteri
Cordoba. Aku datang.”
***
Sebuah
kalimat yang diucapkan di tengah sisa tenaga yang dimiliki. Suara itu terdengar
begitu jelas di telingaku. Dalam batinku bertanya-tanya, berhalusinasikah
diriku? Ketepuk pipiku berulang kali, meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi.
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Sungguh suatu kata yang tiada kuduga.
Puteri
Cordoba, begitulah ia menyebutku namaku. Sejenak kuragu, apakah aku akan
membiarkan kapal itu berlabuh di pantaiku, sedang aku tahu dalam kapal itu telah
terukir indah sebuah nama? Sanggupkah aku membiarkan nama itu tetap melekat
erat di dinding kapalnya?!
Melintas
di benakku, sosok Thariq bin Ziyad yang membakar seluruh kapalnya, dan tak
pernah lagi menoleh kebelakang, meninggalkan samudera yang dilaluinya. Ia
memasuki Andalusia dengan penuh ketulusan, dan tiada keraguan. Ia bakar seluruh
kapal yang telah menemaninya melewati 13 mil selat Andalus.
Kutarik
nafas dalam-dalam. Argh… siapalah aku ini? Layakkah memintanya berkorban
sebagaimana Thariq? Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah sebuah
pulau kecil tak bernama, yang bermimpi menjadi kota seindah Cordoba. Beruntunglah
ia memilihku menjadi pulau tempat berlabuhnya. Mungkinkah ia adalah seorang yang
sengaja dikirim untuk menemaniku mewujudkan impianku?
Kutatap
sosok yang ada di hadapanku, Elang itu masih berdiri di sana menantikan jawaban.
Aku tak punya pilihan selain mempersilahkannya memasuki gerbang hatiku. Biarlah
kejora tetap manjadi bagian dari hidupnya di masa lalu. Dan biarlah kubasuh
lukanya, memberikan separuh energi, hingga ia mampu terbang lebih tinggi
bersamaku. Bersama membangun sebuah kota impian, seindah Cordoba.
“Selamat datang di Cordoba. Ia telah lama
menanti kedatanganmu”. Terlihat sebuah senyum terlukis indah di wajahnya.
*Juara Pilihan Juri dalam event WA-AWARD (Warung Antologi) 15/12/2012


Tidak ada komentar:
Posting Komentar