Sebuah SMS masuk ke hapeku. Ting...ting...ting...ting.... "An, jam tangan kamu pecah." Tanteku meberi kabar. "Gimana bisa pecah, Tan?" Buru-buru kuketik pertanyaan. Jam tangan butut itu berharga banget buatku. "Gak sengaja, kejepit meja, trus tak tarik, pecah." Dug...! Gemuruh batinku, hatiku bertanya, apakah ini sebuah pertanda?
Melayang anganku seketika tentang jam tangan jadul itu. Aku mendapatkannya dari Bapak, di ulang tahunku yang ke-14. Hingga kini usiaku yang ke-24, ia masih setia menemani. Sampai teman lamaku sewaktu Aliyah pun heran saat aku masih setia memakai jam tangan jadul itu. Buatku, bukan jam tangannya yang bermasalah, tapi lebih pada siapa yang memberikan jam tangan itu.
Aku punya filosofi tersendiri tentang jam tangan. Ia selalu ada di saat genting, menemani agar tak terlambat sekolah, atau bisa mengatur waktu agar tak kehabisan saat ujian berlangsung. Dan jam tangan adalah sesuatu yang istimewa.Karena selama ini hanya ada dua jam tangan yang melingkar manis di lengan kiriku. Waktu kecil, ibuku yang membelikannya. Saat aku remaja, bapakku yang memberikannya.
Jika sekarang jam tanganku rusak, apakah ini pertanda jodohku bakal datang sebentar lagi ya?
Well, aku gak akan pakai jam tangan setelah ini. Aku akan menanti dibelikan jam tangan dari suami aja. :)
Jika sekarang jam tanganku rusak, apakah ini pertanda jodohku bakal datang sebentar lagi ya?
Well, aku gak akan pakai jam tangan setelah ini. Aku akan menanti dibelikan jam tangan dari suami aja. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar