Laman

Selasa, 14 Februari 2017

🐣🐣JANGAN RUSAK FITRAH BELAJAR ANAK🐥🐥

Beberapa anak yang daftar les di rumah saya, memang memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang memang karena anaknya semangat belajar. Ada yang karena orangtua mereka sibuk bekerja. Dan ada juga yang karena orangtua mereka merasa tidak mampu untuk mengikuti pelajaran anaknya, sehinggga memilih untuk bekerja, mencari uang sehinggga cukup untuk membayar biaya pendidikan anaknya, mulai dari biaya sekolah dan les.
Terlepas dari alasan masing-masing orangtua di atas, yg jelas saya jadi ketiban peluang rizki. 🙈🙈😊😊
Tapi bukan itu yang mau saya bahas kali ini. Terkait obrolan kelas semalam, yaitu FITRAH BELAJAR ANAK.
Bunda, setiap anak memang memiliki fitrah belajar. Dan inilah mengapa juga menuntut ilmu diwajibkan sejak dari buaian sampai liang lahat. Kenapa??? Karena ilmu inilah yang akan membimbing anak dalam menjalani kehidupannya.
Mari kita ingat kembali masa kecil anak kita. Saat baru lahir, bukankah anak mulai belajar mengisap ASI?
Pada kasus anak saya, saya sempat bingung kenapa ia sering di ujung dan digigit, ternyata setelah cari referensi, anak saya kena bingung puting. Berati ia mulai belajar membedakan antara minum ASI dan botol dot. 😌
Setelah itu ada fase oral, dimana anak akan memasukkan semua benda ke mulutnya. 
Giliran mulai belajar berjalan, anak akan terjatuh berkali kali, tapi apakah ia berhenti? Tidak. Ia kana terus belajar.

Dan saat bisa berjalan, ia akan belajar untuk menjangkau apa saja di atas meja, dan melemparkan ke lantai. Ia belajar ketinggian, dan mengenal seberapa keras bunyi lemparanya.
Sampai di sini, bunda pasti masih aman. Karena anak masih ada di lingkungan rumah. Namun saat ia bisa berjalan, minat anak bertambah. Ia ingin belajar ke luar rumah. Disinilah rata2 bunda mulai berubah.
Awalnya anak nyaman digendong, dipangku, dan dipeluk. Kini anak ingin belajar lebih banyak hal, mengeksplor apa saja yang ditemuinya. Dan Bunda mulai sering mengeluarkan suara stereo.
Ini banyak fakta di lapangan.
Saat anak belajar berlarian. Apa kata Bunda??
"Jangan lari, ntar jatoh lo...!"

Anak berhenti berlari. Dia ganti muter-muter, gak lari lagi. Apa kata Bunda?
"Weh, kok malah muter-muter? Ntar pusing loh..! Udah stop..!"

Anak mulai bingung. Lari gak boleh, muter gak boleh. Karena gak tau mesti ngelakuin apa, akhirnya ia lari lagi.
Volume bunda makin kencang. 
"Nah, kan. Kok lari lagi. Jatuh ntar. JATUH,,, JATUH,,, JATUH!"

Anak jatuh beneran. Bunda merasa menang. 
"Tuh, kan. Udah dibilang juga dari tadi. Makanya jangan lari-lari." Digendonglah si anak, sambil ditabok bokongnya. Anak nangis, bundanya ngomel sepanjang jalan.

Hal ini terjadi sampai usia anak masuk sekolah. Berapa tahun coba?? Belum tambah label kita pada anak. Anakku nakal, bandel, mrusul, pokoke kekek, jegek. Wes banyaklah pokoke. Siapa yang kasih? Bundanya sendiri. Nah loh????
Kalo di sekolah tuh, sering gini. 
"Anak saya kalo nakal, dijewer saja bu. Gak apa-apa."

Saya yang jadi gurunya jadi mikir. Emang seberapa jauh dampak jeweran saya buat merubah kenakalan anak???
Ilmu saya jauh banget, masih jongkok banget. Mungkin kalo saya sekaliber Syeikh Aaq Syamsudin, sekali tampar bisa buat Muhammad Al Fatih menjadi panglima terbaik penjemput bisyarah Rasulullah saw penakluk Konstantinopel, yang bentengnya aja belom pernah kalah dalam kurun waktu 1000 tahun lebih.
Yuk ah bunda, kita belajar bersama mendidik anak sesuai fitrahnya. Jangan matikan semangat belajar mereka dan masa depannya karena ketidaktahuan kita.
Gigit lidah, jangan ucapkan hal buruk ke anak. Belajar sabar, dan jangan lupa doa. Getarkan sisi positif anak, lejitkan potensinya.
Ibunda Syeikh As Sudais saat marah pun masih keluar kata doa.
"Kun imam haramain. 
Jadilah kamu imam masjidil haram." 
Akhirnya, jadilah beliau imam masjidil haram.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar