Siapa sih yang nggak pengin punya anak yang lucu, imut, nggemesin sekaligus cerdas? Tentulah semua orang ingin memiliki anak yang demikian. Tak jarang kebanyakan ibu muda yang tergiur punya anak balita cerdas, berinisiatif untuk segera memasukkan balitanya ke sekolah. Tentu dengan segudang harapan dan keinginan agar anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Ngomong-ngomong soal cerdas, ternyata masih banyak orang yang beranggapan bahwa cerdas itu adalah identik dengan kemampuan anak dalam membaca, menulis dan berhitung. Dengan menjamurnya pendidikan anak usia dini yang menawarkan calistung, seolah menjadi gayung bersambut antara orangtua dan penyelenggara yang terkadang mengabaikan perasaan si anak.
Dulu saya sempat juga mengajar di PAUD. Di sana saya dapati banyak anak yang enggan membaca, namun dipaksa oleh orangtuanya yang menunggu. Atau anak membaca sebatas menghapal symbol huruf dan cara bacanya saja, tanpa mengerti makna dari apa yang dibaca. Ketika saya pindah mengajar anak usia SD, saya menemukan adanya kesulitan anak dalam memahami teks bacaan. Saya pun bertanya-tanya, kenapa? Bukankah jawaban dari semua pertanyaan sudah ada di dalam teks? Tidak ada larangan juga untuk tidak membuka buku, jika memang ketidaktahuannya karena lupa.
Dari sini saya mulai menyadari, ternyata kemampuan membaca dengan memahami bacaan adalah suatu yang berbeda. Untuk membuat anak memahami dan mengkaitkan antara apa yang dibaca dengan sesuatu yang di sekitarnya memerlukan serangkaian proses berpikir yang kompleks. Ada beberapa unsur yang saling berkaitan, seperti adanya informasi sebelumnya, fakta yang dapat di indera dan otak. Informasi sebelumnya pada umumnya di dapat dari orangtua atau orang dewasa di sekitar anak dengan perantara bahasa ibu. Informasi tersebut akan disimpan dalam memori ingatan yaitu otak, yang akan dimunculkan kembali saat anak menangkap sesuatu yang semisal dengan panca inderanya. Dengan demikian, informasi dan stimulasi ini sangatlah penting untuk diberikan ke anak sebelum belajar membaca.
Apa saja yang perlu diketahui orangtua sebelum mengajarkan membaca kepada anak?
1. Kenali cara kerja otak anak laki-laki dan perempuan.
Pada dasarnya, pemberian informasi pada anak dapat dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya. Meski pada saat ini janin belum dapat bicara dan bahkan mendengar. Namun demikian, informasi yang disampaikan oleh ibu akan disimpan dalam memori otak si janin. Hingga kelak ketika semua inderanya berfungsi, dan telah dapat berbicara anak akan mengeluarkan apa saja yang pernah disimpan oleh memori otaknya.
Perlu diketahui oleh orangtua, bahwa struktur lokasi pusat kosakata antara anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Sehingga jumlah kata yang dihasilkan pun berbeda. Itulah kenapa anak laki-laki umumnya lebih hemat kata dari anak perempuan.
2. Kenali gaya belajar anak.
Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Anak dengan tipe visual, lebih memanjakan mata dengan tampilan yang indah dan menarik. Sedangkan anak auditory lebih memanjakan diri dengan pendengarannya. Ia mudah tertarik dengan lagu, nada, atau musik. Hal ini akan berbeda dengan anak dengan tipe kinestetik yang lebih menyukai banyak aktifitas. Dengan mengenali tipe gaya belajar pada anak, kita akan lebih mudah untuk memberikan stimulasi yang menyenangkan.
3. Ketahui rentang konsentrasi anak.
Anak-anak memiliki rentang konsentrasi yang sangat singkat disbanding dengan orang dewasa. Lama konsentrasi pada anak adalah satu menit dikali dengan usianya. Jika uasia anak 3 tahun, maka ia akan mampu konsentrasi selama 3 menit saja. dengan demikian, kita dapat dengan bijak menentukan apa yang akan kita lakukan selama 3 menit tersebut.
Apa saja yang perlu dilakukan untuk merangsang anak gemar membaca?
Mengajarkan anak pandai membaca tidaklah sama dengan membuat anak suka membaca. Karena suka adalah masalah rasa dan selera. Ibarat makanan, makanan itu harus sesuai dengan selera lidah kita. Bagi orang Jawa, nasi pecel adalah sarapan yang nikmat. Akan berbeda rasa dengan orang Eropa yang terbiasa makan roti. Atau mungkin orang Jawa yang terlahir di Eropa, ia mungkin akan terbiasa dengan sarapan beberapa potong roti. Dengan kata lain, gemar dan suka itu merupakan selera yang muncul karena terbiasa.
Berikut adalah kegiatan yang dapat dilakukan:
1. Rajin membacakan buku untuk anak
Bagaimana anak akan gemar membaca jika kita tidak mengenalkan mereka dengan buku?
Saya sendiri pun tak ingat kapan saya mulai bisa membaca. Namun yang saya ingat ibu saya selalu berlangganan majalah anak setiap bulan semenjak saya bisa membaca. Cerita dalam majalah itu yang membuat saya ketagihan dan ingin selalu membacanya. Bahkan ada satu buku yang menurut saya sangat sulit dipahami, kalau nggak salah berjudul “Setangkai Daun Surga”. Cerita di dalamnya rumit. Namun saya enggan untuk bertanya, waktu itu. Setelah lulus kuliah baru ketemu lagi, dan saya pun membaca ulang. Hehehe… baru tuntas rasa penasaran saya.
2. Mengenalkan huruf-huruf
Mengenal huruf adalah kemampuan dasar untuk bisa membaca. Kita dapat mengenalkannya melaui berbagai media sesuai dengan gaya belajar anak. Bisa berupa lagu, poster, atau dalam bentuk permainan.
3. Bermain kata dan membaca tulisan di sekitar
Saya punya cerita khusus tentang hal ini. Saat melakukan perjalanan, saya membaca keras-keras tulisan yang ada di sepanjang jalan. Menyebutkan berbagai macam tempat dan kantor. Ternyata hal ini efektif untuk menarik rasa ingin tahu anak. “Umi kok tahu?” begitulah komentarnya penasaran. Dari sini saya menjelaskan betapa menyenangkannya jika kita bisa membaca. Kita dapat mengetahui berbagai tempat dan juga arah agar tidak tersesat di jalan.
4. Memperbanyak aktifitas bercerita untuk anak
Bercerita merupakan bank kosa kata bagi anak. Semakin banyak kita bercerita, akan semakin banyak kosa kata yang akan ditampung oleh otak anak. Kelak jika ia telah dapat membaca, ia akan mengkaitkan dengan apa yang telah diketahui. Sehingga saat medapati sesuatu bacaan yang asing atau mungkin salah dalam penulisan, ia dapat segera menemukannya.
Sumber:
Materi kuliah Bunda Sayang batch 2 level 5
Alya Zulfa & Lathifah Musa, Paud Berbasis Islam, Raudhah Pustaka (2012)
Seri Ibu Profesional “Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak”, Gaza Media (2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar