Laman

Kamis, 17 Februari 2022

Aku Lelah

Mirna benar-benar kelelahan. Ia ingin melambaikan bendera putih, tanda ia menyerah. Tapi tak ada yang berusaha menyelamatkannya. 

"Mas, aku capek. Tolong pijitin ya..." pintanya pada suaminya. 
"Iya. Tidurkan anak-anak dulu." Jawab suaminya santai seraya pergi meninggalkan Mirna yang masih menyusui bayinya. 
"Bu, bacakan cerita dunk.." rengek anak keduanya. Sambil ambil posisi tidur disebelah adiknya yg menyusu.
"Aku juga mau, dibacakan cerita." Anak sulungnya pun tak mau kalah. Ia langsung memeluk Mirna dari belakang. Ia tak punya pilihan lain, selain meladeni ketiga anaknya bersamaan. 

Mirna memiringkan badannya ke kiri, membiarkan bungsunya minum asi dengan nyaman, sedang lengan kirinya menyangga kepala bayi sambil mengelus rambut anak keduanya. Tangan kanannya memegang buku sambil membacakan cerita untuk ketiganya. 

"Berdoa dulu yuk, sebelum Ibu bacakan ceritanya.." ajaknya.
"Bismika Allohumma ahyaa wa bismika amut." Kedua anaknya melafalkan doa sebelum tidur. Mirna pun mulai bercerita.

****
Suatu ketika, ditengah malam, Khalifah Umar bin Khatab sedang berkeliling ke rumah warga. Beliau bersandar di dinding rumah untuk istirahat sebentar. Tak sengaja, Umar mendengar percakapan dua orang wanita. 
"Campurkan air ke dalam susu yang akan kita jual itu, Nak." Kata sang ibu. 
"Tapi Bu, Khalifah Umar melarang hal itu." Jawab si anak. 

"Kenapa susunya nggak boleh dicampur air? Kan susuku tak kasih air." Sela anak keduanya. 
"Karena pada saat itu, susunya susu murni. Bukan susu formula." Jawab Mirna, seraya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya yang tak terduga.
"Lanjut, lanjut. Gimana terus ceritanya?" Anak sulungnya tak sabar. 

"Ah, Khalifah Umar tak akan tahu." Sang Ibu mencoba membujuk anaknya. 
"Ibu benar, mungkin Khalifah Umar tak akan tahu. Tapi Allah Maha Tahu dan Maha Melihat, Bu." Sang anak tetap teguh pada mendiriannya. 

Khalifah Umar terkesan dengan keteguhan dan kejujuran gadis itu. Meski ia hidup sederhana, ia tetap memegang teguh nilai-nilai kejujuran. Dan tak mau berbuat curang.

Hingga akhirnya, Khalifah Umar mengumpulkan putra-putranya. Beliau meminta salah satu dari putranya untuk menikah dengan gadis penjual susu. Karena beliau yakin, kelak keturunannya akan melahirkan pemimpin besar yang akan membawa kejayaan Islam. 

Beliau adalah Ashim, putra Umar yang bersedia untuk menikah dengan gadis itu. Pernikahan berlangsung sederhana, dan penuh makna. Pernikahan mereka diliputi dengan keberkahan.

Apa yang disampaikan Khalifah Umar pun menjadi kenyataan. Keturunan Ashim dan Ummu Amarra kelak akan menjadi sosok pemimpin besar dari Dinasti Ummayyah. Salah satunya adalah Umar bin Abdul Aziz. 

"Selesai ceritanya. Sekarang bubuk ya. Semuanya merem." Pungkas mirna mengakhiri ceritanya sambil mencium satu persatu kening anaknya. 

Mirna mengubah posisinya. Ia membaringkan badannya terlentang. Punggungnya mengeluarkan bunyi gemeretak, setelah seharian bejibaku dengan urusan rumah dan pekerjaannya. Sudut netranya mulai mengembang, air matanya menetes. Ia melafalkan doa, sebelum menutup matanya malam itu.

****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar