Kata-kata Mbak Riza ini bikin otakku ngelayap kemana-mana. Saya udah terbiasa dengan barang lungsuran dari kecil. Seneng getu dikasih sama sodara. Begitu juga sebaliknya, pakaian yang sudah tidak muat, kembali dilungsurkan ke yang lebih kecil.
Tradisi ini sepertinya masih berlaku. Sampai punya anak tiga pun, hampir 80% pakaian mereka hasil lungsuran. Bukannya eman membelikan mereka barang baru, tapi lebih karena kondisi, yang membuat kita untuk memilih hal lain yang lebih urgen. Selagi masih bagus dan layak, kenapa tidak. Tak perlu mburu gengsi, selama itu masih dalam tahap yang wajar. 😉
****
"Belum saatnya kita hidup dengan gaya minimalis." Begitu kata sang Qawwam.
Saat makmumnya gelisah tergiur trend gaya hidup minimalis, intip seni beberes Konmari, masuk satu barang baru berarti keluarin satu barang lama. Semua benda harus rapi sebelum jam tidur, dan seterusnya sebagainya.
Tak ngguyu dulu, biar ada emotnya. 🤣🤣🤣
Ternyata, semua itu belum cocok sama saya, dan bikin lelah.
Gimana nggak??! Baru aja rapikan almari baju anak pertama, tau-tau anak kedua udah nyelinap bubuk ditumpukan baju kakaknya. Lain waktu, udah nyusun rapikan almari anak kedua, ganti anak ketiga ngeluarin semua isinya sampe bersih. Belum lagi kalau mereka bawa bola tanah karya mereka masuk ke dalam rumah. Atau mainan yang paling berharga, menurut versi mereka, pasti bakalan masuk bareng di almari pakaian. 🤧
Kalau mereka bertiga lagi main bareng, jangan harap di rumah ada ruang yang tersisa rapi. 🤭
****
Ubah midset, dan ganti kacamata. Sepertinya itu yang perlu dilakukan. Jika sebelumnya barang bekas identik dengan rosokan, sekarang jadi memperpanjang kebermanfaatan. Konotasinya lebih positif sepertinya. 😊
Sepertinya saya baru menemukan suatu alasan yang tepat untuk mendukung hobi sang Qawwam. Beliau suka mengumpulkan barang elektronik bekas yang sudah tidak dipakai untuk diperbaiki. Barang-barang ini bikin rumah berasa tambah berantakan dan sering membuat kami berbeda pendapat. Meski saya membiarkannya dengan terpaksa, karena posisi sebagai istri.
Kini, memperpanjang kebermanfaatan menjadi alasan, kenapa kita masih enggan melepas barang yang tidak lagi diperlukan. Senyampang masih bisa diperbaiki, dan dimanfaatkan, kenapa harus dibuang??!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar