Sevilla Attauriyah, ia adalah sahabatku sekaligus sepupuku. Gadis
yang ramah, periang dan memiliki daya khayal yang tinggi. Ia pandai
menyembunyikan perasaannya. Meskipun ia masih sepupuku, aku kadang bingung
dengan semua sikapnya yang mudah berubah-ubah.
“Brak…!!” Sevilla
melemparkan lima novel kesayangannya ke lantai. Lagi-lagi pemuda yang
disukainya memilih gadis lain.
Dia sangat marah dan jengkel, bukan karena kegagalannya. Tapi
karena adegan dalam kehidupannya tak
seindah ending adegan tokoh dalam novel yang dikaguminya. Menurutnya tak
satupun dari mereka yang cocok dengan kehidupannya. Mulai dari Edensor, Diorama
Sepasang Albana, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, termasuk novel
terakhir yang dibacanya, Diwan Cinta Islam.
Tak puas dengan novelnya, iapun mencari kumpulan diary-diary lamanya.
Ia punya kebiasaan memberi kado khusus untuk dirinya sendiri, yaitu diary baru
di setiap hari ulang tahunnya. Dibukannya koleksi diary yang lama tak
disentuhnya. Ia mencari tahu, apakah ia salah menulis dalam proposal rencana
hidupnya. Hingga hari ini, di usiannya yang genap 24 tahun tak jua ada lelaki
yang tulus mencintainya. Semua cintanya kandas ditengah jalan.
“Planning yang meleset.” Gumamnya. Ia ingin melanjutkan studi S2,
tapi ternyata orang tuanya tidak mengizinkan sebelum ia menikah. Di desa
tempatnya tinggal, hanya ia satu-satunya gadis yang berusia di atas 20 tahun
yang belum juga menikah. Batinnya menjerit, “Apakah Tuhan kelupaan menciptakan
jodohku? Hingga kini kenapa ia tak kunjung hadir juga?”
Diliriknya novel karya Andrea Hirata, “Edensor” kisah kegigihan
Ikal dalam mencari A Ling, gadis berjari lentik yang mempesonanya diwaktu
kecil. Cinta Ikal kecil pada gadis itu tak pernah pudar, mesti mereka terpisah
oleh ruang dan waktu. Bahkan apapun dilakukan Ikal demi gadis bernama A ling.
Kisah Edensor itu mengingatkanya pada seorang pemuda yang pernah mengungkapkan
perasaannya dimasa lalu.
Aldi Ramadhan. Dialah seorang
pemuda yang memikat Sevilla untuk pertama kalinya. Dialah sahabatnya semenjak
kecil, mereka bersama mulai di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah
Pertama. Keduanya tak tau apa arti kedekatanya itu. Mereka baru menyadari rasa
itu saat keduanya saling berpisah untuk studi masing-masing. Sampai suatu
ketika takdir mempertemukan keduanya melalui jejaring sosial. Saat itu Aldi
telah berada di luar negeri.
Jalinan yang begitu indah, antara dua insan yang saling berpisah
dalam waktu yang lama. Kisah merekapun dimulai, gayung bersambut penuh
romantisme cinta masa muda. Meski Aldi berada di Negeri Fir’aun, tak
menghalangi mereka untuk memadu kasih. Pemuda itu memintanya untuk menanti, dan
Sevilla pun berjanji akan menanti Aldi hingga pulang ke tanah air.
Tapi kenyataan tak seindah angan, Aldi menghianati cintanya.
Setelah kepulangannya ke tanah air, Aldi menjalin kasih dengan Tania, temannya sewaktu
SMA. Sevilla merasa hatinya benar-benar hancur, semudah itukah ia berpaling?
Sekian lama mereka menjalin hubungan, masa penantian yang telah dilewati,
semuanya kandas.
“Ikalku tak sesetia Ikalnya A Ling” gumamnya sambil mengusap air
matanya yang mulai menetes. Itulah saat tersulit dalam hidupnya, cinta
pertamanya kandas.
***
Masih jelas dalam ingatanku, saat kami menginjak semester 5,
tepatnya setahun setelah kehilangan Aldi, Ia mencoba untuk bangkit dari
keterpurukannya. Siang itu sepulang acara seminar kampus, Ia menghampiriku
dengan senyum mengembang sambil membawa sebuah novel “Diorama Sepasang Al-Bana”
yang mengisahkan cinta seorang eksekutif muda yang pernah menjadi aktifis
Kampus.
“Kamu kenapa? Keliatannya seneng
banget?” Tanyaku penasaran.
“Aku jatuh cinta pada sosok Ryan
Fikri.”
“Kamu harus berubah dulu menjadi
sosok seperti Rani, seorang aktifis kampus yang jago dakwah.”
Sevi menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. Seraya berkata,
“Aku akan berubah seperti Rani, yang seorang aktivis kampus. Percayalah,
aku akan mendapatkan sosok Ryanku.”
Saat itu aku hanya terdiam mendengar apa yang diucapan sahabatku
itu. Dan ia benar-benar berubah dalam waktu singkat. Ia tampil menjadi seorang
akhwat yang lengkap dengan jilbab besar dan juga berkaos kaki. Ia terhipnotis
dengan sosok Ryan.
Obsesinya menemukan sosok Ryan Fikri membawanya bertemu dengan
Ruslan. Seorang pengusaha muda beromzet milyaran dari daerah Jakarta. Pertemuan
yang berawal dari acara kampus. Kebetulan Ruslan yang juga seorang trainer menjadi
pemateri dalam acara itu.
“Inilah Ryan Fikri. Eksekutiv muda”, gumamnya dalam hati.
Tapi sayang, ternyata ia telah beristri. Sevilla kalah cepat,
ternyata pemuda itu menikah muda sejak usia 20 tahun.
***
Ari adalah figur lelaki ideal dimata Sevilla, teman sesama aktifis
kampus. Ia lah yang membantunya keluar dari keterpurukan. Hingga suatu ketika
Ia mendengar kabar bahwa Ari telah mengkhitbah seorang gadis yang masih saudara
dengan murabinya. Sevilla sangat terpukul mendengar berita itu. Selama ini dia
diam-diam memendam rasa pada pemuda itu.
Malam itu, kisah pahit harus terulang lagi. Sevilla tak dapat
membendung perasaannya, ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghubungi
Ari, ingin mendengar langsung darinya.
Sevilla: “Assalamu’alaikum. Ini Sevi…”
Ari : “Wa’alaikum Salam.
Ada apa?”
Sevilla : “Aku ingin tanya,
apa kau akan pergi?”
Ari : “Maksudnya…?”
Sevilla : “ Apa kau akan pergi
jauh, membangun kota dengan yang lain?”
Ari : “Aku hanya
mengikuti arah takdir.”
Sevilla : “Kemana ia menuju?”
Ari : “Ketempat yang
jauh, ke suatu tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya.”
Sevilla : “Katakan padaku,
apakah selama ini hanya aku seorang yang membangun kota impianku?”
Ari : “Jangan berfikir
begitu. Kamu tak pernah sendirian membangun kota itu.”
Sevilla : “Beritahu aku, peran
apa yang harus aku mainkan dalam adegan ini?”
Ari : “Jadilah Gadis
yang dicintai Umar tapi tak menikah dengannya, atau jadilah Gadis yang memiliki jiwa seperti Umar, yang mampu
mengendalikan perasaannya.”
Sevilla : “Itu bukan hal mudah.”
Ari : “Aku tahu itu.
Tapi aku tahu pula kau adalah gadis yang tegar”.
Sevilla : “Bagiamana kalau aku
tak mampu bersikap seperti Umar, dan kisah Maria akan terulang?”
Ari : “Itu tidak akan
terjadi, aku tahu siapa kamu. Jadilah sosok Ar-Rumaisya yang mampu menyembunyikan kerapuhan hatinya. Dan
tampillah seperti tak terjadi apa-apa. Ada hal lain yang lebih penting yang harus kita
upayakan. Yakni Ummat dan dakwah ini. Assalamu’alaikum.”
Sevilla : “Wa’alaikum salam.”
***
Malam itu, Sevi
menangis dalam pelukanku.
“Manangislah, agar hilang separuh bebanmu.” Ucapku menengankannya.
“Kanapa Yan, kenapa semua kisahku berakhir seperti ini?”
“Bersabarlah..”
“Ikalku tak sesetia Ikalnya A Ling. Ryan Fikriku tak berjodoh
denganku. Kenapa ending kisahku tak seindah novel itu Yan?” Tanyanya padaku.
“Kenapa kau tak buat kisahmu sendiri Sev? Kamu tak perlu jadi Rani,
A ling ataupun Maria. Ryan Fikri itu tokoh fiktif, ditengah kesempurnaannya, Ia
tak tau asal usulnya. Fahri, kamu bukan Aisya dalam lakon itu. Kau berperan
sebagai Maria, apa kamu sanggup hanya menjadi yang kedua? Sedang kisah Islam,
apakah tak terlalu sakit berperan sebagia Azka yang tahu bahwa Islampun mencintainya,
setelah ia menikah dengan orang lain?”
Sejenak ku pandang matanya yang basah oleh air mata.
“Kau benar Yan, aku harus membuat kisahku sendiri. Aku tak akan
terpaku pada novel-novel ini lagi. Akan kutuliskan kisah yang ingin kugapai.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
“Ah… Benar-benar Gadis
novel. Aku tak tau seberapa besar kekuatan pena yang mampu menembus banyak
kepala, dan menggerakkan orang-orang seperti Sevilla untuk menyusun cinta
seperti yang diinginkan penulisnya.” Gumamku dalam hati.
Sejak saat itu, ia tak lagi terlihat dengan novel-novel
kesayangannya. Ia mengalihkan kesedihannya dengan menekuni dunia kepenulisan.
Karyanya berhasil menghiasi Koran harian dan juga beberapa majalah.
“Yan, makan yuk. Aku yang traktir, tulisanku dimuat lagi. Hmm… aku
bosan hanya menjadi korban tulisan, aku ingin tulisanku juga bisa menghipnotis
banyak orang dengan nilai-nilai Islam, dan mampu menggerakkan mereka untuk
dakwah.”
***
Dua tahun kemudian…
“Yana…!” Suara yang tak asing lagi. Ku arahkan pandanganku ke sumber
suara. Terlihat sosok Sevi sedang menggendong bayi mungil. Eits… siapa pria
yang ada disampingnya. Sepertinya aku kenal. Yaps.. Aldi, aku tak salah lagi.
Dia adalah Aldi.
Kupeluk Sevi, dan kutarik menuju tempat yang agak sepi.
“Hei, apa yang terjadi dengan novelmu? Kenapa kamu bersama Aldi
lagi?”
Dia tersenyum cerah. Dua tahun lalu, aku harus mengikuti suamiku
keluar negeri. Sejak saat itu kami kehilangan kontak karena kesibukan
masing-masing.
“Ini semua berkat kamu. Aku mencoba menulis kisahku sendiri. Aku
bukan Maria, Rani, Azka, ataupun A ling. Aku hanya jadi diriku sendiri. Maria
berkorban penuh ketulusan, Rani gadis yang periang dan juga aktivis, Azka yang
senantiasa teguh memegang dakwahnya, A Ling yang berjuang keras demi hidupnya,
aku hanya belajar dari mereka untuk menjadi diriku sendiri. Dan terus mengasah
penaku untuk berdakwah melalui tulisan-tulisanku.
Dan lihatlah, tulisan itu
menggerakkan Ikalku kembali. Setelah menempuh S2 nya, Ia merubah dirinya
menjadi sosok Islam yang aktivis dan datang kembali padaku dalam kondisi Ryan
Fikri yang seorang Eksekutive muda. Tambah lagi dia juga lulusan Kairo seperti
Fahri.” Kisahnya padaku dengan penuh semangat.
Gadis novel, ternyata kamu belum berubah. Meski kini kamu telah
memiliki kekuatan pena yang mampu menggerakkan setiap pembacamu, tapi masih
saja kisah novel itu mewarnai hari-harimu.
*Cerpen PerdanaQ di Antologi Cinta bernilai Dakwah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar