Laman

Selasa, 23 Oktober 2012

AKHIR CINTA GADIS NOVEL


Sevilla Attauriyah, ia adalah sahabatku sekaligus sepupuku. Gadis yang ramah, periang dan memiliki daya khayal yang tinggi. Ia pandai menyembunyikan perasaannya. Meskipun ia masih sepupuku, aku kadang bingung dengan semua sikapnya yang mudah berubah-ubah.
 “Brak…!!” Sevilla melemparkan lima novel kesayangannya ke lantai. Lagi-lagi pemuda yang disukainya memilih gadis lain.
Dia sangat marah dan jengkel, bukan karena kegagalannya. Tapi karena adegan dalam  kehidupannya tak seindah ending adegan tokoh dalam novel yang dikaguminya. Menurutnya tak satupun dari mereka yang cocok dengan kehidupannya. Mulai dari Edensor, Diorama Sepasang Albana, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, termasuk novel terakhir yang dibacanya, Diwan Cinta Islam.
Tak puas dengan novelnya, iapun mencari kumpulan diary-diary lamanya. Ia punya kebiasaan memberi kado khusus untuk dirinya sendiri, yaitu diary baru di setiap hari ulang tahunnya. Dibukannya koleksi diary yang lama tak disentuhnya. Ia mencari tahu, apakah ia salah menulis dalam proposal rencana hidupnya. Hingga hari ini, di usiannya yang genap 24 tahun tak jua ada lelaki yang tulus mencintainya. Semua cintanya kandas ditengah jalan.
“Planning yang meleset.” Gumamnya. Ia ingin melanjutkan studi S2, tapi ternyata orang tuanya tidak mengizinkan sebelum ia menikah. Di desa tempatnya tinggal, hanya ia satu-satunya gadis yang berusia di atas 20 tahun yang belum juga menikah. Batinnya menjerit, “Apakah Tuhan kelupaan menciptakan jodohku? Hingga kini kenapa ia tak kunjung hadir juga?”
Diliriknya novel karya Andrea Hirata, “Edensor” kisah kegigihan Ikal dalam mencari A Ling, gadis berjari lentik yang mempesonanya diwaktu kecil. Cinta Ikal kecil pada gadis itu tak pernah pudar, mesti mereka terpisah oleh ruang dan waktu. Bahkan apapun dilakukan Ikal demi gadis bernama A ling. Kisah Edensor itu mengingatkanya pada seorang pemuda yang pernah mengungkapkan perasaannya dimasa lalu.
 Aldi Ramadhan. Dialah seorang pemuda yang memikat Sevilla untuk pertama kalinya. Dialah sahabatnya semenjak kecil, mereka bersama mulai di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Keduanya tak tau apa arti kedekatanya itu. Mereka baru menyadari rasa itu saat keduanya saling berpisah untuk studi masing-masing. Sampai suatu ketika takdir mempertemukan keduanya melalui jejaring sosial. Saat itu Aldi telah berada di luar negeri.
Jalinan yang begitu indah, antara dua insan yang saling berpisah dalam waktu yang lama. Kisah merekapun dimulai, gayung bersambut penuh romantisme cinta masa muda. Meski Aldi berada di Negeri Fir’aun, tak menghalangi mereka untuk memadu kasih. Pemuda itu memintanya untuk menanti, dan Sevilla pun berjanji akan menanti Aldi hingga pulang ke tanah air.
Tapi kenyataan tak seindah angan, Aldi menghianati cintanya. Setelah kepulangannya ke tanah air, Aldi menjalin kasih dengan Tania, temannya sewaktu SMA. Sevilla merasa hatinya benar-benar hancur, semudah itukah ia berpaling? Sekian lama mereka menjalin hubungan, masa penantian yang telah dilewati, semuanya kandas.
“Ikalku tak sesetia Ikalnya A Ling” gumamnya sambil mengusap air matanya yang mulai menetes. Itulah saat tersulit dalam hidupnya, cinta pertamanya kandas.
***
Masih jelas dalam ingatanku, saat kami menginjak semester 5, tepatnya setahun setelah kehilangan Aldi, Ia mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya. Siang itu sepulang acara seminar kampus, Ia menghampiriku dengan senyum mengembang sambil membawa sebuah novel “Diorama Sepasang Al-Bana” yang mengisahkan cinta seorang eksekutif muda yang pernah menjadi aktifis Kampus.  
“Kamu kenapa? Keliatannya seneng banget?” Tanyaku penasaran.       
“Aku jatuh cinta pada sosok Ryan Fikri.”
“Kamu harus berubah dulu menjadi sosok seperti Rani, seorang aktifis kampus yang jago dakwah.”
Sevi menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. Seraya berkata,
“Aku akan berubah seperti Rani, yang seorang aktivis kampus. Percayalah, aku akan mendapatkan sosok Ryanku.”
Saat itu aku hanya terdiam mendengar apa yang diucapan sahabatku itu. Dan ia benar-benar berubah dalam waktu singkat. Ia tampil menjadi seorang akhwat yang lengkap dengan jilbab besar dan juga berkaos kaki. Ia terhipnotis dengan sosok Ryan.
Obsesinya menemukan sosok Ryan Fikri membawanya bertemu dengan Ruslan. Seorang pengusaha muda beromzet milyaran dari daerah Jakarta. Pertemuan yang berawal dari acara kampus. Kebetulan Ruslan yang juga seorang trainer menjadi pemateri dalam acara itu.
“Inilah Ryan Fikri. Eksekutiv muda”, gumamnya dalam hati.
Tapi sayang, ternyata ia telah beristri. Sevilla kalah cepat, ternyata pemuda itu menikah muda sejak usia 20 tahun.
***
Ari adalah figur lelaki ideal dimata Sevilla, teman sesama aktifis kampus. Ia lah yang membantunya keluar dari keterpurukan. Hingga suatu ketika Ia mendengar kabar bahwa Ari telah mengkhitbah seorang gadis yang masih saudara dengan murabinya. Sevilla sangat terpukul mendengar berita itu. Selama ini dia diam-diam memendam rasa pada pemuda itu.
Malam itu, kisah pahit harus terulang lagi. Sevilla tak dapat membendung perasaannya, ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghubungi Ari, ingin mendengar langsung darinya.
Sevilla: “Assalamu’alaikum. Ini Sevi…”
Ari       : “Wa’alaikum Salam. Ada apa?”
Sevilla : “Aku ingin tanya, apa kau akan pergi?”
Ari       : “Maksudnya…?”
Sevilla : “ Apa kau akan pergi jauh, membangun kota dengan yang lain?”
Ari       : “Aku hanya mengikuti arah takdir.”
Sevilla : “Kemana ia menuju?”
Ari       : “Ketempat yang jauh, ke suatu tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya.”
Sevilla : “Katakan padaku, apakah selama ini hanya aku seorang yang membangun kota                                impianku?”
Ari       : “Jangan berfikir begitu. Kamu tak pernah sendirian membangun kota itu.”
Sevilla : “Beritahu aku, peran apa yang harus aku mainkan dalam adegan ini?”
Ari       : “Jadilah Gadis yang dicintai Umar tapi tak menikah dengannya, atau jadilah Gadis yang                 memiliki jiwa seperti Umar, yang mampu mengendalikan perasaannya.”
Sevilla : “Itu bukan hal mudah.”
Ari       : “Aku tahu itu. Tapi aku tahu pula kau adalah gadis yang tegar”.
Sevilla : “Bagiamana kalau aku tak mampu bersikap seperti Umar, dan kisah Maria akan                               terulang?”
Ari       : “Itu tidak akan terjadi, aku tahu siapa kamu. Jadilah sosok Ar-Rumaisya yang mampu                     menyembunyikan kerapuhan hatinya. Dan tampillah seperti tak terjadi apa-apa. Ada hal lain yang lebih penting yang harus kita upayakan. Yakni Ummat dan dakwah ini. Assalamu’alaikum.”
Sevilla : “Wa’alaikum salam.”
***
            Malam itu, Sevi menangis dalam pelukanku.
“Manangislah, agar hilang separuh bebanmu.” Ucapku menengankannya.
“Kanapa Yan, kenapa semua kisahku berakhir seperti ini?”
“Bersabarlah..”
“Ikalku tak sesetia Ikalnya A Ling. Ryan Fikriku tak berjodoh denganku. Kenapa ending kisahku tak seindah novel itu Yan?” Tanyanya padaku.
“Kenapa kau tak buat kisahmu sendiri Sev? Kamu tak perlu jadi Rani, A ling ataupun Maria. Ryan Fikri itu tokoh fiktif, ditengah kesempurnaannya, Ia tak tau asal usulnya. Fahri, kamu bukan Aisya dalam lakon itu. Kau berperan sebagai Maria, apa kamu sanggup hanya menjadi yang kedua? Sedang kisah Islam, apakah tak terlalu sakit berperan sebagia Azka yang tahu bahwa Islampun mencintainya, setelah ia menikah dengan orang lain?”
Sejenak ku pandang matanya yang basah oleh air mata.
“Kau benar Yan, aku harus membuat kisahku sendiri. Aku tak akan terpaku pada novel-novel ini lagi. Akan kutuliskan kisah yang ingin kugapai.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
“Ah… Benar-benar  Gadis novel. Aku tak tau seberapa besar kekuatan pena yang mampu menembus banyak kepala, dan menggerakkan orang-orang seperti Sevilla untuk menyusun cinta seperti yang diinginkan penulisnya.” Gumamku dalam hati.
Sejak saat itu, ia tak lagi terlihat dengan novel-novel kesayangannya. Ia mengalihkan kesedihannya dengan menekuni dunia kepenulisan. Karyanya berhasil menghiasi Koran harian dan juga beberapa majalah.
“Yan, makan yuk. Aku yang traktir, tulisanku dimuat lagi. Hmm… aku bosan hanya menjadi korban tulisan, aku ingin tulisanku juga bisa menghipnotis banyak orang dengan nilai-nilai Islam, dan mampu menggerakkan mereka untuk dakwah.”
***


Dua tahun kemudian…
“Yana…!” Suara yang tak asing lagi. Ku arahkan pandanganku ke sumber suara. Terlihat sosok Sevi sedang menggendong bayi mungil. Eits… siapa pria yang ada disampingnya. Sepertinya aku kenal. Yaps.. Aldi, aku tak salah lagi. Dia adalah Aldi.
Kupeluk Sevi, dan kutarik menuju tempat yang agak sepi.
“Hei, apa yang terjadi dengan novelmu? Kenapa kamu bersama Aldi lagi?”
Dia tersenyum cerah. Dua tahun lalu, aku harus mengikuti suamiku keluar negeri. Sejak saat itu kami kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing.
“Ini semua berkat kamu. Aku mencoba menulis kisahku sendiri. Aku bukan Maria, Rani, Azka, ataupun A ling. Aku hanya jadi diriku sendiri. Maria berkorban penuh ketulusan, Rani gadis yang periang dan juga aktivis, Azka yang senantiasa teguh memegang dakwahnya, A Ling yang berjuang keras demi hidupnya, aku hanya belajar dari mereka untuk menjadi diriku sendiri. Dan terus mengasah penaku untuk berdakwah melalui tulisan-tulisanku.
 Dan lihatlah, tulisan itu menggerakkan Ikalku kembali. Setelah menempuh S2 nya, Ia merubah dirinya menjadi sosok Islam yang aktivis dan datang kembali padaku dalam kondisi Ryan Fikri yang seorang Eksekutive muda. Tambah lagi dia juga lulusan Kairo seperti Fahri.” Kisahnya padaku dengan penuh semangat.
Gadis novel, ternyata kamu belum berubah. Meski kini kamu telah memiliki kekuatan pena yang mampu menggerakkan setiap pembacamu, tapi masih saja kisah novel itu mewarnai hari-harimu.
*Cerpen PerdanaQ di Antologi Cinta bernilai Dakwah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar