Menulis adalah impianku sejak lama yang beku dalam
pelukan catatan harianku. Mimpi yang menghiasi deretan pertama baris
harapan-harapan dan mimpi-mimpi saat detik akhir malam, di awal tahun usiaku
baruku. Ia menjadi impian yang membuatku hampir putus asa tuk mengejarnya. Yang
hanya tertulis dalam proposalku untuk Tuhan, yang aku ajukan untuk kesekian
kalinya. Hampir putus asa aku meraihnya, karena aku tak tahu cara mendapatkan
perhatiannya.
Hingga episode do’a perpisahan itu
terjadi. Berpisah dengan seseorang yang pernah menghiasi hari-hari seindah
pelangi. Membuat suasana hati kian terpuruk, tertimbun takdir yang tak
berpihak. Seolah ia mencibir, mempermainkan aku dengan segala kisah dukaku. Aku
yang menghiba, mengharap setitik bahagia menyapa dengan senyum ceria. Tapi
apalah daya, aku tak kuasa melawan kehendak takdir. Biarlah kucoba berdamai
dengannya.
Kucoba
untuk bangkit. Aku tak mau kalah oleh waktu yang akan menghanguskan masaku
dengan tanpa belas kasih. Waktu yang akan merenggut banyak peluang
kesuksesanku, peluang meraih mimpi dan harapanku. Aku tak ingin kalah untuk
yang kesekian kalinya. Ingin ku tahklukkan waktu, agar ia tak menebas urat
leherku. Akan kutuliskan sebuah karya, puluhan karya, ratusan, ribuan, bahkan
jutaan karya yang akan terukir namaku sebagai penciptanya.
Biar
kubuktikan pada semua. Kegagalan bukanlah alasan untuk tetap dalam
keterpurukan. Perpisahan dengan seseorang yang pernah mendapat posisi yang
istimewa dihati, adalah titik awal pertemuan dengan seseorang yang akan
senantiasa ada menemani, menggapai mimpi yang telah lama terpatri.
Kini,
telah kutanggalkan segala kisah suram. Telah kudamaikan takdirku, kususuri
lorong waktu, mencari secercah kedamaian dalam dunia tulisan. Bersama-sama
berpacu, bergandengan tangan, saling mendukung dan berbagi kekuatan. Dalam tulisan,
aku bisa luapkan semua masalah, semua kesedihan, semua impian dalam bait-bait
karya, dalam paragraph-paragraf harapan, demi meraih masa depan yang gemilang.
“Maka;
lakukanlah sesuatu yang layak untuk ditulis, atau tulislah sesuatu yang layak
untuk dibaca. Agar banyak orang yang mengambil manfaat darimu, dan kamu akan
menjadi barisan orang-orang yang
terbaik. Karena sebaik-baik kamu adalah yang lebih bermanfaat bagi manusia
lainnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar