“Brakk…!”
Kubanting pintu kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Aku marah dan kecewa
dengan apa yang diputuskan Bapak. Bapak melarangku melanjutkan ke SMU Negeri 1
Trenggalek, SMU yang sekian lama aku impikan, bahkan sejak aku masih di bangku
SD. Entah apa alasan Bapak, yang tetap menyuruhku untuk masuk pesantren. Impian
yang aku bangunpun hancur berkeping-keping.
Hari itu hari ke
tujuh, perang dingin antara aku dan Bapak. Sudah berapa brosur yang ku tolak. Raden
Paku, Tebu Ireng, Darul Ulum, Arrisalah, hingga Gontor Putri mantingan. Aku tak
terarik sama sekali. Aku masih kukuh pada pendirianku, SMU Negeri 1. Hingga malam
itu, suatu peristiwa terjadi. Bapak tak pulang. Ibuku gelisah, tak tahu harus
menghubungi siapa. Waktu itu, HP belum banyak seperti sekarang. Telepon
rumahpun kami masih belum punya. Aku merasa bersalah. Sangat, sangat, sangat
bersalah.
Pagi harinya, saat aku
terbangun, kudengar suara Bapak di balik pintu kamarku. Dari situ aku tahu,
ternyata Bapak sudah pulang. Bapak bercerita tentang perjalanannya mencari
Pondok Gontor Putri. Dengan bermodal informasi yang dimiliki, Pondok Gontor ada
di Ponorogo. Bapakpun berfikir, pasti pondok putrinya tak jauh dari situ juga. Ternyata,
dugaan Bapak salah. Setelah bertanya sana sini dengan penduduk berkali-kali,
dari Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Magetan pun terlewati, seolah tak
sampai-sampai. Tapi Bapak tak menyerah, hingga menjelang asar Bapak baru sampai
di Mantingan. Itulah alasan kenapa Bapak tak pulang semalam.
Diam-diam hatiku luluh, tak kuasa aku menahan deraian air mataku.
Bapakku yang rela menempuh jarak sekian jauhnya, antara Trenggalek dan Ngawi
yang hampir perbatasan Jawa Tengah dengan mengendarai Shogun Hitam seorang
diri. Sedangkan orang tua yang ingin mendaftarkan putrinya disana, semuanya
bermobil. Hanya Bapakku yang naik motor. Itu semua dilakukan Bapak demi aku.
Terakhir, Bapak menawarkan Pesantren Putri Al-Mawaddah padaku. Aku
tak kuasa menolak tawaran Bapak, karena aku tahu Bapak sangat ingin aku masuk
pesantren. Dan Bapak tak akan pernah berhenti mencari banyak pesantren untuk
direkomendasikan padaku, dengan harapan aku akan memilihnya.
Kupandang sosok lelaki yang
kupanggil Bapak itu, guratan wajahnya menyimpan banyak tanggung jawab. Tanggung
jawab sebagai seorang Bapak untuk menjaga dan mendidik anak gadisnya. Bapak
yang tak pernah marah saat harus mendatangi surat panggilan orang tua dari
sekolahku, Bapak yang pernah patah
tulang karena terserempet kendaraan sepulang mengantarku sekolah, Bapak yang
setiap hari kesawah demi membayar sekolahku.
Betapa jahatnya aku, jika aku bersikukuh pada keinginanku tanpa
menghiraukan keinginan Bapak. Aku rasa, Bapak melakukan ini semua demi
kebaikanku juga. Akupun menata hatiku, untuk menerima tawaran Bapak.
Melanjutkan sekolahku di Pesantren, dan pilihan itu jatuh pada Pesantren Putri
Al-Mawaddah Ponorogo. Aku lakukan ini semua demi Bapak. Meski dalam hatiku
masih tersimpan impian itu, mungkin aku tak punya kesempatan masuk SMU 1
sebagai siswi, tapi aku masih punya kesempatan kedua. Aku akan masuk SMU itu
sebagai seorang guru.
*ini ikut event pengorbanan cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar