Laman

Sabtu, 20 Oktober 2012

AKU SAYANG BAPAK…!!!



            “Brakk…!” Kubanting pintu kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Aku marah dan kecewa dengan apa yang diputuskan Bapak. Bapak melarangku melanjutkan ke SMU Negeri 1 Trenggalek, SMU yang sekian lama aku impikan, bahkan sejak aku masih di bangku SD. Entah apa alasan Bapak, yang tetap menyuruhku untuk masuk pesantren. Impian yang aku bangunpun hancur berkeping-keping.
            Hari itu hari ke tujuh, perang dingin antara aku dan Bapak. Sudah berapa brosur yang ku tolak. Raden Paku, Tebu Ireng, Darul Ulum, Arrisalah, hingga Gontor Putri mantingan. Aku tak terarik sama sekali. Aku masih kukuh pada pendirianku, SMU Negeri 1. Hingga malam itu, suatu peristiwa terjadi. Bapak tak pulang. Ibuku gelisah, tak tahu harus menghubungi siapa. Waktu itu, HP belum banyak seperti sekarang. Telepon rumahpun kami masih belum punya. Aku merasa bersalah. Sangat, sangat, sangat bersalah.
 Pagi harinya, saat aku terbangun, kudengar suara Bapak di balik pintu kamarku. Dari situ aku tahu, ternyata Bapak sudah pulang. Bapak bercerita tentang perjalanannya mencari Pondok Gontor Putri. Dengan bermodal informasi yang dimiliki, Pondok Gontor ada di Ponorogo. Bapakpun berfikir, pasti pondok putrinya tak jauh dari situ juga. Ternyata, dugaan Bapak salah. Setelah bertanya sana sini dengan penduduk berkali-kali, dari Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Magetan pun terlewati, seolah tak sampai-sampai. Tapi Bapak tak menyerah, hingga menjelang asar Bapak baru sampai di Mantingan. Itulah alasan kenapa Bapak tak pulang semalam.
Diam-diam hatiku luluh, tak kuasa aku menahan deraian air mataku. Bapakku yang rela menempuh jarak sekian jauhnya, antara Trenggalek dan Ngawi yang hampir perbatasan Jawa Tengah dengan mengendarai Shogun Hitam seorang diri. Sedangkan orang tua yang ingin mendaftarkan putrinya disana, semuanya bermobil. Hanya Bapakku yang naik motor. Itu semua dilakukan Bapak demi aku.
Terakhir, Bapak menawarkan Pesantren Putri Al-Mawaddah padaku. Aku tak kuasa menolak tawaran Bapak, karena aku tahu Bapak sangat ingin aku masuk pesantren. Dan Bapak tak akan pernah berhenti mencari banyak pesantren untuk direkomendasikan padaku, dengan harapan aku akan memilihnya.
 Kupandang sosok lelaki yang kupanggil Bapak itu, guratan wajahnya menyimpan banyak tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai seorang Bapak untuk menjaga dan mendidik anak gadisnya. Bapak yang tak pernah marah saat harus mendatangi surat panggilan orang tua dari sekolahku, Bapak  yang pernah patah tulang karena terserempet kendaraan sepulang mengantarku sekolah, Bapak yang setiap hari kesawah demi membayar sekolahku.
Betapa jahatnya aku, jika aku bersikukuh pada keinginanku tanpa menghiraukan keinginan Bapak. Aku rasa, Bapak melakukan ini semua demi kebaikanku juga. Akupun menata hatiku, untuk menerima tawaran Bapak. Melanjutkan sekolahku di Pesantren, dan pilihan itu jatuh pada Pesantren Putri Al-Mawaddah Ponorogo. Aku lakukan ini semua demi Bapak. Meski dalam hatiku masih tersimpan impian itu, mungkin aku tak punya kesempatan masuk SMU 1 sebagai siswi, tapi aku masih punya kesempatan kedua. Aku akan masuk SMU itu sebagai seorang guru. 


*ini ikut event pengorbanan cinta 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar