Laman

Selasa, 23 Oktober 2012

TABIR TAKDIR


Daun itu kering berguguran
Satu demi satu, menyela kesakralan malam
Saat hati tak lagi dapat menerka
Kemana arah cinta bermuara

Betapa tidak??!
Hati yang  meranggas, kian mengganas
Berharap setetes embun menghampiri
Menyapa daun yang kian melayu

Kuseka air mata yang membanjir
Menghiasi bait-bait panjang istiqarahku
Menanti malam sempurna dalam kelam
Menemani bintang dalam diam

Biarlah terus kususuri arah musim
Yang kelak pasti kan berganti
Menepis gundah raungan di hati
Dalam keyankinan memburu tabir takdir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar