Laman

Sabtu, 25 Februari 2017

MARAH YANG BIJAK

Alhadulillah, setelah sekian lama vakum dari aktivitas menulis, kini bisa hadir kembali. Semoga kali ini lebih istiqamah. 

Status saya yang sudah berubah menjadi seorang ibu, mulai mempengaruhi jenis tulisan saya saat ini. Lebih sering menulis tentang tema keluarga dan anak. heheh... biar lenih mudah saja.

Marah yang Bijak adalah judul buku yang saya baca minggu ini. Ditulis oleh Bunda Wening, seorang trainer, terapis dan konselor parenting. Buku ini tebal 108, harga juga cukup terjangkaulah, 25.000 saja. Lumayan irit daripada ikut workshop, atau trainingnya. ☺ Maklum buat keluarga muda kayak saya perlu banyak irit. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali marah ke anak. Padahal bisa jadi anak gak paham akan kesalahannya, dan gak ngerti juga kenapa kita ibunya selalu marah. Lha kan, kadang capek, marah sama suami, eh... anak yang jadi sasaran. Bener gak? 

Pada bab 1 di buku ini, Bunda Wening mengajak kita untuk mengenal arti marah. Dan hal apa yang biasanya membuat orangtua menjadi marah. Seperti: Anak belum mandi, anak belum gosok gigi, anak belum mau tidur, anak terlambat bangun, anak belum makan, dan lain-lain. 

Sedangkan pada bab 2, dipaparkan apa sih sebenarnya tujuan orang tua marah???
Kebanyakan kita, orangtua, marah agar anak mau mengerti apa yang kita maksudkan. Agar mereka tidak mengulanginya lagi. Tapi faktanya, anak hanya akan melakukannya saat ada kita, atau mereka akan melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dari kita. Ini akan menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi.

Selanjutnya, pada bab 3, kita para orangtua diajak untuk mengenali macam-macam pemicu marah. Kenapa? "Jika selalu ada alasan untuk marah, berarti juga selalu ada alasan untuk TIDAK marah." Berikut adalah contoh hal-hal yang memicu orangtua untuk marah:
1. Lelah fisik dan mental
2. Panik
3. Tidak siap dan terbiasa dengan perbedaan
4. Menggunakan standar orang tua untuk anak


#ODOPFor99days
#Week8
#Days4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar