Mendengar kata “Ibu Profesional”
untuk pertama kali, langsung tergambar dalam benak saya adalah sosok wanita
karir yang dapat menyeimbangkan antara urusan keluarga dan pekerjaannya. Dapat
aktif dalam banyak kegiatan sosial, dan mandiri secara finansial. Punya anak
yang cerdas, pinter, berprestasi, dan dapat beasiswa ke luar negeri juga.
Pokoknya TOP BeGeTe dech. Jadi setelah tau ada pendaftaran, saya langsung saja
daftar. Gak tanggung-tanggung, saya juga bawa pasukan sampe 40 orang lebih.
Meski kebanyakan pada lupa gak transfer, akhirnya masuk dulu di kelas
Foundation.
Beberapa hari menjelang materi pertama, saya sangat antusias sekali. Suami sudah saya lobi, bersay hellow ke sesama peserta, sampe juga ngajakin kopdaran. Namun setelah jalan beberapa sesi, saya sempat kecewa. Ternyata matrikulasi sama saja dengan banyak kuliah online dan pengajian lainnya. Menitik beratkan pada “tugas utama seorang ibu adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga”. Kalimat klise itu sudah terlalu sering saya dengar. Dan sangat tidak aplikatif untuk realita kehidupan saat ini. Dimana kebutuhan semakin tinggi dan sempitnya lapangan pekerjaan. Hingga saya pun harus terjun membantu semampu saya.
Saat lelah, amarah saya sering meledak. Tentunya suami yang sering menjadi sasaran. Namun saat saya sadar, toh suami gak pernah minta saya bekerja. “Kalau lelah, gak usah kerja. Di rumah saja, biar aku yang kerja.” Kalimat itu yang menjadi andalan suami, saat saya mengeluh dan mulai lelah. Kalau sudah begitu, saya gak punya pilihan. Orangtua pengin saya bekerja, agar dapat hidup layak dan cukup untuk membiayai pendidikan anak. Disisi lain saya kasian anak juga, setiap hari harus ikut saya ke sekolah dan bangun pagi-pagi. Kalau sudah begini, saya jadi galau dan bingung sendiri. Sampe saya belain ikut kuliah online ibu profesional, dan ternyata malah berasa mojokin saya, mesti patuh suami dan jadi ibu rumah tangga. Hadew...!!!
Sempat gak mood buat lanjut, tapi saya terlanjur malu. Lha udah koar-koar ngajakin banyak orang, kok saya mutung. Kepalang tanggung saya ikutin saja semua sesi matrikulasi, just wait and see mau sampe mana ini nanti.
Teringat pesan Pak Direktur Pesantren dulu, "Jangan seperti kera MAKAN manggis." Baru menggigit sedikit, langsung dibuang. Padahal manisnya ada di dalam. Dan ternyata Subhanallah, tugas-tugas yang diberikan dapat mengubah persepsi saya yang salah selama ini tentang rizki. Meski konsep rejeki pasti sudah sering saya dengar dan yakini, tapi secara praktik riilnya, lebih mudah saya terima yang dari materi matrikulasi. Runtutan prosesnya benar-benar tergambar jelas. Meski perubahan secara materi belom signifikan, setidaknya perubahan secara nonmateri sudah bisa saya rasakan. Saya lebih bahagia dan tenang dalam menikmati sebuah proses perjalanan kehidupan bersama keluarga saya.
Untuk masalah pekerjaan, tips kandang waktu membuat saya
lebih bisa menikmati waktu dan lebih efisien. Hal ini membuat saya bisa lebih
rileks dan tidak emosional lagi. Dan alhamdulillah,
sebagai bonus rejeki saya dan suami dapat hadiah tanah beserta pondasi
rumahnya. Dari sini saya banyak merenung, “Bersungguh-sungguhlah di dalam,
niscaya kamu akan keluar dengan kesungguhan itu” atau “Berkerjanya kita adalah
salah satu bentuk upaya kita dalam menjaga amanah”. Kata-kata itu membuat saya
belajar banyak hal dalam kehidupan. Hingga saya tak perlu lagi galau, antara
bekerja membantu suami, atau fokus mendidik anak, dan juga bekerja karena
dorongan keinginan dari orangtua. Semuanya akan berjalan secara beriringan
menyusuri jalan kehidupan.
Terakhir yang lebih menyenangkan, testi dari suami saat
saya tanya apa komentarnya setelah saya ikut matrikulasi. Jawabnya, “Jadi lebih
sabar, lebih terstruktur dan terprogram rapi dalam mengurus rumah dan menemani
anak belajar.” Gak puas dengan jawabannya, saya bertanya lagi. “Dapat nilai
berapa?” Diawab lagi, “B”. Alhamdulillah...
#matrikulasiIIP
#MIIPBatch#3
#kuliahIIP
#IIP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar