Laman

Selasa, 14 Maret 2017

EMAK EVERYTIME AND ANYWHERE

Sejak anak pertama saya berusia 5 bulan, saya sudah membawanya ke sekolah tempat saya berkerja. Sebenarnya saya bukan PNS, hanya guru sukwan yang dibayar 200-300 ribu per bulannya. Tapi berhubung saya sudah mengajar di situ sejak awal masuk kuliah, dan orangtua saya meminta untuk bertahan, ya saya jalani saja. Orangtua mungkin lebih banyak makan asam garam kehidupan, karena mereka juga pasangan suami istri yang sama-sama bekerja. Ditambah lagi, latar belakang mertua yang berprofesi sebagai petani dan pedagang, sangat bangga dengan prestise punya menantu yang bekerja sebagai guru. Disisi lain, pekerjaan suami saya juga sama dengan saya. Pernah suatu ketika kita ingin jualan ke pasar, biar ada tambahan penghasilan. Ya realistis saja, gaji segitu mana cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi mertua malah mencak-mencak gak ridho kalau anak sulungnya yang sudah dikuliahkan, pada akhirnya juga terjun ke pasar. ⌣𝩀

Akhirnya bertahanlah kita hingga empat tahun dengan kehidupan seperti itu. Menjelang ulang tahun ke empat pernikahan, mertua sudah agak lunak. Kami boleh terjun ke sawah, mulai bercocok tanam. Sedang orangtua saya masih melarang saya kalau ninggalin sekolah, ikut suami bantu di sawah dan tinggal di mertua. Khawatir kangen sama cucu. Secara kami sama-sama anak sulung. Weleh... weleh....

Apapun pilihannya, yang penting orangtua ridho. Buat saya, yang penting suami ridho. Dan akhirnya hingga saat ini kamu menjalani kehidupan yang apa adanya. Anak kemanapun saya bawa, termasuk ke sekolah.

Pada mulanya, banyak orang yang bertanya dan komentar.
"Panas-panas diajak sekolah, kasihan. Kenapa gak dicarikan pamong saja?"
"Cari pamong yang lulusan S1 belom dapat-dapat." Jawab saya enteng.

Whak...wkwkwk... Kalo punya ijazah S1 juga gak pilih kerja jadi pamong kali, Mak???!!! :-) kecuali pamong buat anak sendiri. Hehehe... Dalam benak saya, lha ngajar anak orang dengan gaji sekian ratus saja mesti kuliah S1. Itupun kalo belom linier disuruh kuliah lagi. Gimana dengan anak sendiri?? Kita harus lebih extra up grade ilmu banget kan, Mak??!!! Ini mah, jurus motivasi diri saya, saat suara-suara sumbang mulai menggempur semangat jadi Ibu terbaik buat anak. Alhamdulillah sukses.

Hari berganti hari saya jalani aktivitas ini dengan segala macam konsekwensi. Termasuk saat piket, mesti berangkat awal, ternyata anak masih belom mau berangkat. Atau pas udah siap berangkat, ternyata anak lagi pup. Hehehe telat lagi dech... Lha gimana lagi, namanya juga berjuang.

Kadang jadwal libur, di sekolah ada kegiatan wisata. Ini saya sering izin. Soalnya waktu bareng sama suami dan anak. Pernah ditegur kepala sekolah, "Ya mesti tegas donk, ini kan urusan dinas." Saya cuma senyum kecut. Buat saya, anak dan suami yang lebih penting. Dengan berharap suatu saat nanti akan tiba waktunya untuk mengerti dan memahami. Cie...

Alhamdulillah, seiring berjalan waktu, saya mengenal komunitas Ibu Profesional. Dari sini saya belajar banyak hal. Termasuk menyelaraskan antara pekerjaan dan keluarga. Bekerja, dan mengurus anak bukanlah hal yang bertentangan. Dengan bekerja di lingkungan sekolah, anak saya tumbuh baik dan kondusif. Saya sendiri, dengan mengajar, dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Bersinggungan dengan banyak orangtua dan anak-anak, dapat melatih ketrampilan saya sebagai orangtua untuk anak saya.

So... its my me time. Saat bisa menjalankan peran sebagai seorang pendidik generasi dan ibu, dimanapun dan kapanpun. Meski sambil kerja, meski sambil menuntut ilmu, meski juga sambil berbagi ilmu. Tak lupa selalu bawa anak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar