Mengamati Gaya Belajar Anak
Mengamati Gaya Belajar Anak dengan panduan, sungguh merupakan hal yang sangat menarik. Lagi-lagi saya dibuat terhenyak dengan hasilnya.
Dua bulan terkahir pas ada banyak tugas sekolah, dan kebetulan bangun rumah juga. Pas dapat giliran korlan, yang awalnya saya isi Agustus jadi mundur di Sepetember. Sedang tantangan game level 4 perlu sekali persiapan dalam praktiknya. Tambah juga amanah jadi sekretaris di IIP Kediri Raya. Otomatis saya yang belom pernah bersinggungan dengan rekap² data jadi rempong banget. Serasa pengin nangis...
Akhirnya, saya turunkan standar setrika dan beresin kamar. Mas Fadhil lagi aktif eksplorasi almarinya. Tiap saya rapikan, dibongkar lagi dan lagi, buat sembunyi. Yang saya jaga adalah, gimana agar saya tetap stabil dan gak puyeng. Kalo emak sampe puyeng, bakal berantakan semua. Akhirnya baju sementara saya masukkan dalam keranjang.
Begitulah kalau fenomena ibu bekerja. Sebenarnya managemen waktu sangat membantu, namun adakalanya ada tugas tambahan dan berhubungan dengan hajat orang banyak, mau gak mau lobi keluarga solusinya. Beruntung suami tipe orang yang sabar banget.
Eh, sampe lupa hasil pengamatan ya... Selama 12 hari ini Mas Fadhil masih eksplorasi semua gaya belajar. Meski cenderung ke kinestetik, saya belum ingin terburu menyimpulkan. Karena usia 3 tahun adalah masa anak belajar dengan bermain, bermainnya anak adalah belajar.
Puncaknya saya harus ikut pelatihan selama 10 hari di Malang. Mas nunjukin sifat yang dewasa banget.
Langkah awal saya adalah sounding sejak 3 hari sebelumnya. Awalnya Mas menolak dan ingin ikut. Sounding saya gencarkan, sekalian meyakinkan diri sendiri bahwa Mas adalah anak yang bisa diajak bicara baik².
Hari terakhir saya ajak Mas jalan², disitu saya kerahkan the power of sounding dengan sepenuh hati.
"Mas, Umi besok pagi ke Malang. Banyak hari. (Sambil mengangkat semua jari. Karena itu bahasa Mas untuk arti jumlah yang banyak)"
Mas diam.
"Mas nanti di rumah nurut sama Uti ya."
"Gak Mau...!"
Teriaknya keras. Saya ambil nafas, biar intonasi tetep slow. Hehehe...
"Hmmm... Terus Mas maunya nurut sama siapa?"
"Nurut sama Abi."
Huft... Tuh kan. Mas Fadhil pinter.
"Mas nanti di rumah sama siapa?"
"Sama Uti"
"Lagi"
"Mbah kung, Abi, Om Iwam."
"Terus siapa lagi?"
"Sama mbak Putri, adek Nada."
"Sip. Baik² ya Mas."
"Iya."
Subhanallah... Alhamdulillah, semoga Umi dan Abi mampu menjaga dan menghantarkan Mas, menjadi seorang anak yang shaleh.
wah udah tidak nulis lagi mom?
BalasHapusmulai jarang Bund... Ini mau katif lagi
Hapus