Tak
hanya anak usia PAUD saja yang senang hatinya mendapat bintang. Ibu pun senang
ketika dapat menemukan "Bintang" Anaknya. Itulah tantangan level 7
yang telah kami lewati bersama. Target saya gak hanya
dapat badge dasar, minimal “You’re Excellent” lah kalau belum bisa “Out
Standing Performance”. Soalnya sampe level 6 dapat dasar terus. Sebenarnya
untuk aktifitas sangat menyenangkan, namun beratnya itu pas posting laporannya.
Whuuuaaa… sampek diketawain suami gegara
ngigau usap-usap telapak tangan kiri pake telujuk. Atau pas tengah malam
bangun, Tanya “Ini jam berapa, Bi? Udah telat belom?”. Beruntung itu cuman 2
hari saja. Alhamdulillah, habis itu
saya mulai nemu polanya dan bias teratur.
****
Next, membersamai
balita 3 tahun 10 bulan, merupakan tantangan tersendiri
buat saya. Pada usia ini anak telah memiliki cukup kosa kata untuk mengungkapkan
isi hatinya, dan mulai kritis dalam menilai sikap dan kebijakan orangtuanya.
Seringkali saya ditegur ketika lupa dengan aturan yang telah saya sampaikan
sebelumnya. Ada dua rasa, kadang eghhh…
getu. Namun disisi lain hal ini merupakan indikator bahwa anak ingat dan paham
atas apa yang pernah saya sampaikan. Alhamdulillah.
Yang paling berkesan itu, di level kita
dituntut untuk benar-benar membuka mata dan pasang telinga gede-gede, buat
memperhatikan setiap detail aktifitas
anak. Apapun itu. Sampe pada celoteh remeh-temeh yang kadang gak bermakna sama
sekali. Hohoho… begitulah, kayak tugas guru di sekolah. Mengamati, menanya,
menalar, mencoba, mengolah dan menyajikan.
Mengamati tiap detil aktifitas anak,
bertanya 5W1H, melatih daya nalarnya, mencoba berbagai kegiatan bersama, dan
tugas saya untuk mengolah kata dan menyajikan laporan ke suami sebagai kepala
sekolahnya. Gak terasa dokumentasi dan narasi yang saya kumpulkan semakin
bertambah seiring waktu. Layaknya portofolio anak-anak di sekolah. But its all abaout my little son. Wuih…
seneng banget saya. Terimakasih Bunda Fasil atas ilmunya.
****
Berikut
beberapa hal yang bisa saya simpulkan:
- Saat melihat anak melakukan kesalahan, jangan terburu menghakimi. Tahan dulu untuk berkomentar, tanya dulu kenapa. Untuk anak yang belum bias mengungkapkan alasannya, kasih pertanyaaan dengan jawaban “iya atau tidak”. Karena alasan anak tentu berbeda dengan cara pikir orang dewasa.
- Fitrahnya setiap anak adalah pemberani. Tanpa sadar kitalah yang membuat gambaran jelek, baik, jijik dan juga takut. (Ini pengalaman anak pegang tikus pertamakali dengan penuh kasih sayang. Padahal emaknya udah lari terbirit-birit ke halaman.)
- Biarkan mereka mendapat pengalaman sebanyak-banyaknya. Mumpung mereka belum baligh. Tugas kita mengarahkan dan mengenalkan fitrahnya kearah yang baik.
- Dengan mencoba berbagai macam kegiatan, peluang anak untuk menemukan bintangnya semakin besar dan cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar