Sepagi ini berjibaku sama urusan domestic, siangan ki punya waktu buat
me time sambil mijetin key board. Pengen ngelemesin jari-jari buat nulis. Jujur
aja saya bingung ki mau nulis apa. Cuman kata my mentor nih,,, kalo mau nulis
ya nulis aja. Kayak kita ngomel ituloh… atau kayak ketemu temen lawas trus
ngobrol ngalor ngidul panjang bingo nyeritain apa aja. Cuman yang ini mah dalam
bentuk tulisan. Well, saya coba tipsnya.
****
Menikmati masa jaya dengan menjadi orang yang paling wow dan serba tahu
buat anak. Saya nggak ngerti masa itu akan berlaku sampai kapan, yang pasti
saya mulai menikmati momentnya. Kegiatannya sih simple, Just Umbah-umbah alias nyuci baju. Tapi bakalan bikin kening
berkerut dan mulut berceloteh sepanjang cucian kalau nyucinya ngajak Fadhil.
“Mas, bantu Umi nyuci yuk…”
“Umi nggak boleh nyuci, temani main aja.”
Lhah, ini kesempatan emas lo, mumpung libur. Liburnya ya umbah-umbah.
Tapi beda buat anak, ternyata libur devinisinya adalah bermain.
“Kita mau bermain air hari ini. Mau?”
“Mau…!!!”
Padahal sama aja ya, cuman beda kalimat. Bagitulah rayuan maut ala emak.
****
“Ini sikat baju Umi, ini punya Mas.” Ucap saya sambil membagi sikat baju yang ada.
Lagi ayem nyikat ki baju mulai dech cerdas cermatnya. Pertanyaan pertama
pun dimulai.
“Umi, kok disikat-sikat ada bunyinya ya? Srek srek, kenapa Um?”
“Karena sikatnya bergesekan dengan baju, terus menimbulkan getaran di
sikatnya. Nah itu yang bikin bunyi srek-srek.”
Lolos dech soal pertama. Selanjutnya anak bereksperiment dengan
benda-benda lain. Ngamatin beda bunyinya kali ya... Lirik bentar, amanlah.
“Umi, lihat sini.”
Nah kalau minta dilihat ini bakal lama. Nggak bisa disambi.
“Bentar.” Sambil terus nggosok baju.
“Umi, tak kasih tahu.”
Saya melongo sebentar.
“Ini tadi kan kotor to Um, tak sikat jadi bersih lo Um. Kok bisa ya?
Kenapa itu Um?”
Soal kedua nongol tuh. Yaiyalah bersih
kalo disikat. Suara hati saya terburu-buru. Namun buat anak ini penemuan
besar. Saya harus apresiasi.
“Wah, keren Mas. Kok bisa bersih ya? Kan tadi kotor. Kenapa kira-kira?”
“Nggak tahu. Tadi tak sikat-sikat tok terus bersih.”
“Mungin karena ada gesekan sama sikatnya tadi. Jadi bisa bersih. Coba
kalau nggosoknya nggak pake sikat. Kira-kira bersih nggak ya?”
Sembari ngasih tugas, saya lanjut nyuci lagi. Nggak lama kemudian si
anak lari-lari dan terpleset.
“Mas, hati-hati loh licin.” Spontan saya mengingatkan.
“Kok licin ya Um?”
“Lha kenapa kira-kira, kok jadi licin?”
“Ya iya, kan ada airnya sama sabun, jadi ya licin.”
Saya mah senyum aja dengar jawabannya. Sementara, sementara Fadil masih dalam posisi semula ketika terpeleset. Sembari menatap langit biru. Dan muncul lagi pertanyaan.
"Umi, kenapa langit berwarna biru?"
"Karena posisi matahari ada di atas kepala kita."
"Mi, lha ini kok ndak ada di atas kepalaku?"
"Maksudnya Umi di atas juauh sana loh mas'"
"Owh, di atas jauh sana to. Itu yang putih bwrgerak-gerak kenapa? Terus ada yang hitam?" Tanyanya bertubi.
"Itu awan tertiup angin."
"Kena motor ya Um?"
Kening saya mengkerut, kok kena motor? Apa maksudnya?
"Maksudnya awannya bergerak karena ada asap motor, apa awannya dari asap motor?"
"Iya keluar dari motor."
"Owh itu. Asap motor naik jadi polusi, uap air juga, semua naik ke awan. Terus awan jadi gelap, pertanda hujan."
****
Hmmm... Percakapan kami panjang banget sampai selesai nyuci. Hehe... Ternyata kalau ditulis udah lebih dari 400 kata. Alhamdulilah,,, saya mulai belajar menulis.
"Umi, kenapa langit berwarna biru?"
"Karena posisi matahari ada di atas kepala kita."
"Mi, lha ini kok ndak ada di atas kepalaku?"
"Maksudnya Umi di atas juauh sana loh mas'"
"Owh, di atas jauh sana to. Itu yang putih bwrgerak-gerak kenapa? Terus ada yang hitam?" Tanyanya bertubi.
"Itu awan tertiup angin."
"Kena motor ya Um?"
Kening saya mengkerut, kok kena motor? Apa maksudnya?
"Maksudnya awannya bergerak karena ada asap motor, apa awannya dari asap motor?"
"Iya keluar dari motor."
"Owh itu. Asap motor naik jadi polusi, uap air juga, semua naik ke awan. Terus awan jadi gelap, pertanda hujan."
****
Hmmm... Percakapan kami panjang banget sampai selesai nyuci. Hehe... Ternyata kalau ditulis udah lebih dari 400 kata. Alhamdulilah,,, saya mulai belajar menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar