Alhamdulillah hari ini bertemu anak. Kali ini saya ajak ke pasar, buat betulkan jam tangan saya yang mati. Kebetulan di depan tempat servis jam ada penjual soto. Dari awal saya ingin belikan, namun anak saya menolak. Alasannya tadi sudah makan di Rumah Uti.
Okelah, saya terima alasannya. Ada 3 jam tangan dan 1 jam dinding yang perlu ganti batre. Cukup lama buat anak saya menunggu. Gerobak soto ayam depan kami lumayan juga. Pembeli datang silih berganti, dan aromanya itu loh... Hmmm, menggoda banget. Ditambah lagi beberapa ibu membawa anak membeli soto juga. Ada yang dibungkus, ada yang dimakan ditempat.
"Um, aku mau itu." Ucap anak saya pada akhirnya.
"Katanya tadi sudah kenyang pas ditanya Umi."
"Sekarang lapar..." rajuknya sambil nunjukin ekspresi sakit perut. Baiklah, saya pun membelikannya.
***
Lima menit kemudian, beberapa bungkus selesai. Eh,,, dikasih ke orang. Sepuluh menit berikutnya setelah motong sayang goreng, dan membungkus lagi, dikasih juga ke orang yang baru datang.
"Um. Punyaku mana?" Tanya anak saya. Saya pun ikutan baper. Lhah kan saya yang duluan pesan, kok orang lain yang didahulukan. Akhirnya saya beranikan bertanya, apa pesanan saya sudah. Ealah... Ternyata si bapak emang mengakhirkan saya yang masih antre servis jam. Kalau dibungkus duluan keburu dingin saat sampai rumah. Jadinya begitu juga saya jelaskan ke anak.
Alhamdulillah anak bisa mengerti dan mau sabar menunggu.
***
Belajar antre saat berbelanja merupakan suatu keterampilan juga. Karena dengan membiasakan budaya ini, anak akan mampu menimbang dan memilih. Misalkan belanja di toko A, harga mahal, tapi pelayanan cepat, karena tak begitu ramai. Belanja di toko B, harga lebih murah, namun pelayanan lama, karena bisa jadi banyak pembeli. Sehingga kita bisa menyesuaikan, tak apa membayar mahal demi waktu jika sedang terburu. Atau pas luang, tak apalah ikut antree demi harga miring.
Njih Pak. Membudayakan antre adalah suatu proses pembiasaan yang memerlukan waktu.
BalasHapus