Laman

Minggu, 11 Maret 2018

Belajar Gadget Time

Suatu hari saya bertanya kepada anak² tentang cita² mereka, karena kebetulan tema pelajarannya adalah "cita-citaku". Dari semua anak perempuan, bercita² menjadi dokter, kecuali 2 anak. 1 ingin jadi profesor, 1 lagi ingin jadi ibu rumahtangga.

Yang menarik adalah komentar dari anak² tentang cita² sebagai ibu rumahtangga.
"Cita² kok ibu rumahtangga, iku ki opo masuk cita²." Komentar teman perempuan.
"Cita² ibu rumah tangga ki muk pengen penak tok. Nek omah, ndilok tv karo hapenan terus. Anake kon sekolah, les, nggak boleh hapenan." Yang ini diiyakan oleh sebagian besar anak².

Wait... Apakah peran ibu seperti itu?? Hati kecil saya menolak. BIG NO!!! Menjadi ibu tak semudah yang kalian pikirkan, Nak...

Saya pun mengajak anak² untuk berfikir, menggali makna tentang ibu. Terlihat buliran mutiara memenuhi sudut mata mereka. Mungkin mereka mulai menyadari betapa mulianya peran yang dilakukan oleh ibu mereka. Namun entahlah, harapan saya seperti itu.

****

Sesampai di rumah, saya pun mulai berpikir, seberapa jauh hape meningkatkan rasa cemburu anak. Untuk hal ini, saya bertanya pada teman belajar saya.

"Mas, apa yang Mas nggak suka dari Umi?"
"Aku nggak suka kalau Umi main hape."

Hmm, ternyata anak balita pun tak suka melihat kita sibuk dengan hape. Sedang mereka merasa terabaikan.

"Terus, kalau Umi pas perlu untuk cek hape gimana?"
"Ya Umi bilang dulu. Dek, Umi main hape sebentar ya. Gek nanti tak bilang, iya boleh. Tapi nggak lama² ya."

Eh,,,. Sebentar, itu Kan pola kalimat saya kalau dia minta izin. Kok di jiplak???

"Terus apa yang Mas suka dari Umi?"
"Aku suka Umi masak, nemani main, terus aku bantu Umi bersihkan rumah, getu. Biar Umi gak capek."

****

Gadget ini kadang bikin bingung. Banyak banget materi yang harus di simak lewat grup online. Ilmu parenting, menulis, belajar bahasa Arab, grup berkisah sampe grup bakulan juga. Kalau di cek satu² cukup menyita waktu emang. Beruntung pernah nyimak 30 menit lebih dekat dengan bu Septi.

Akhirnya saya mencoba tips beliau untuk mengkandangkan jam buat online dan bergadget dengan durasi 30 menitan. Biar anak nggak terlalu lama dan jenuh. Dengan catatan,  diluar jam itu adalah waktu untuk keluarga.

Pagi sebelum anak² bangun, buat baca resume kulwap. Jam istirahat sekolah, buat nyimak kuliah online. Jam pulang sekolah, ceki² grup bakulers. Sore intip² berita medsos. Yang malam durasi 1 jam khusus buat nulis, laporan hasil belajar dll, antara jam 8 sampai 9.

Ternyata buat nggak pegang gadget itu perlu perjuangan Mak. Apalagi kalau materi kuliahnya pas butuh dicerna pelan² getu, nggak cukup dibaca scanning dan bikin penasaran. Euuuh... Riuhnya.

Sebelum umur 3 tahun mah anak selalu nurut sama apa yang kita bilang. Setelah lewat 3 tahun, logika nalarnya mulai berkembang. Nggak cukup hanya dengan di suruh dan mulai bertanya kenapa begini, kenapa begitu.

Tapi alhamdulillah, setelah jalan semingguan anak hafal ritme schedule emaknya. Jadi kalo malam getu dia suka bilang, "Umi sekarang boleh ngetik, aku mau menggambar. Nanti kalau sudah, aku bacain cerita, terus bubuk."

Terimakasih buat Ibu Septi Peni, yang telah berbagi ilmu. Emang di jaman digital kayak gini, nggak bisa dipungkiri bahwa gadget adalah bagian dari kehidupan kita. Meski demikian, perlu jugalah buat dimanage dengan bijak, biar nggak nyerap dan menyita banyak waktu. Termasuk bisa juga buat ikutan tantangan #kompaknulis #OPEyPart6 #ODOPfor99Days dan sekalian buat laporan #Tantangan10hari. Sekali tulis 3 tugas terlampaui.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar