Laman

Kamis, 22 Maret 2018

Loncat Kodok (Day 1 Level 9)



Hari ini Abi lagi nggak enak badan. Konsentrasi saya terfokus ke suami. Sementara anak minta perhatian. Hmmm,,, saya jadi kelabakan mondar-mandir. Cukup melelahkan juga.

Suami sakit, ngilu di tengkuk, dan mau istirahat. Sementara saya diminta pegangin kepalanya terus. Di waktu yang sama anak minta diambilkan minum. Sebenarnya di hari biasa anak bisa ambil sendiri. Mungkin karena butuh perhatian saya, jadi tambah rewel.

"Um, minum."
"Ambil sendiri ya Mas. Umi pegangin kepalanya Abi ki yang sakit."
"Nggak mau, ambilkan minum."
"Mas lo pinter, biasanya ambil sendiri." Saya mencoba nego.

"Nggak mau. Aku nggak bisa ambil. Maunya diambilkan Umi." Intonasinya mulai meninggi.

Saya diam sejenak. Apa ya proses kreatifnya??? Menyuruh tanpa anak merasa di suruh.

Aha... Dapat ide.
"Mas, kakinya Mas apa bisa diangkat?"
"Kakiku ini to?" Sambil pegang kalo.
"Iya."
"Bisa."
"Coba angkat."
Anak mengangkat kedua kaki.

"Kalau jongkok sambil loncat bisa nggak Mas?"
"Gini to Um?" Sambil praktik jongkok.
"Iya begitu. Kayak lompat kodok. Mas bisa?"
"Bisa." Anak mulai loncat², senang.

"Kita bermain peran ya. Umi jadi ikan, Mas jadi kodok."
"Iya." Masih sambil loncat.

"Hai kodok, kamu haus ya. Apa kamu mau minum?"
"Iya, aku haus." Jawab anak.
"Aku akan beritahu kamu dimana ada air minum. Kamu meloncat lurus keluar kamar, disebelah almari ada galon air. Nah, kamu bisa minum air di sana."
"Terimakasih ikan, aku pergi minum dulu ya."
"Iya, hati² ya."

Nggak seberapa lama anak udah balik lagi sambil loncat kodok terus.

"Udah minum, Mas?"
"Sudah." Sambil senyum².

Hehehe... Dapat ide buat ngerjakan tugas level 9. Menjadi ibu kreatif.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar