Memiliki rumah yang bersih dan senantiasa rapi merupakan dambaan setiap wanita. Namun ada kalanya beberapa faktor lain buat hasil karya berbeda.
Tiga bulan ini kami menempati rumah baru kami. Dalam waktu yang sama, suami dapat kerja yang kebetulan agak jauh dari rumah. Bisa pulang sih, tapi sampe rumah udah lelah banget, gak bisa di ganggu gugat. Pokoke bubuk.
Sebagai istri saya berusaha memaklumi. Memberi waktu istirahat yang cukup, dan mengalihkan perhatian anak sementara dari bapaknya. Membuat suami nyaman, dan anak nyaman dengan mainannya, ternyata cukup membuat rumah berantakan. Tas kerja yang tak pada tempatnya, baju kotor yang habis dipake selama nginep, mambahin daftar kerjaan rumah saya. Sedang saya pun juga bekerja. Pagi sekolah, siang ngelesin anak di rumah. Beres² rumah masuk rutinitas yang harus benar² terkandang waktunya, biar saya nggak stress dan kelelahan.
Hingga pilihan akhir saya adalah menurunkan standar kerapian dan kebersihan. Meski saya tetap berupaya seefektif mungkin untuk menghemat waktu dan energi.
****
Kemarin ada kasak kusuk teman sekolah, yang pada cerita nggak bisa tidur kalau kerjaan di rumah belum beres, atau saling bantu sama suami tentang pekerjaan rumah.
Saya mah nimbrung, kalo buat saya, yang penting anak keurus dan seneng. Kalau urusan rumah bisa di tunda, kalo nggak capek. Kalo capek yang mending tidur, biar tetep waras saat menemani anak.
Emang rata² suaminya pada kerja di rumah, ngolah sawah dan nunggu toko. Lha suami saya kerja di.luar rumah. Tapi kasak kusuk itu bikin hati saya lebay juga.
Akhirnya sepulang suami kerja, saya todong dengan pertanyaan standar kebersihan nasional rumah tangga kita. Hehehe...
"Bi, seneng nggak kalo rumahnya beraih?"
"Seneng."
"Runah kita udah bersih dan rapi belom?"
"Belom."
Grrr... Nggak peka banget ya. Tapi kan pertanyaan saya di jawab jujur.
"Tadi tu di sekolah kasak kusuk tentang standar kebersihan rumah. Lha rumah kita lp nggak bersih², selalu berantakan. Mereka pada dibantu suaminya beresin rumah."
Ngarep minta bantuan sejenak...
"Hmm... Kalau maksudnya Umi minta bantuan Abi, ya belum rutin bisa bantu. Kan namanya bantuan. Perjalanan Abi jauh,dan medannya juga susah. Abi pulang karena pengin ketemu Umi dan Adik."
"Terus?"
"Kalau mengharapkan rumah yang selalu rapi, itu namanya bulan rumah tempat tinggal, tapi rumah percontohan. Kalo yang selalu rapi ya di hotel. Lha ini rumah kita, markas kita, tempat mendidik anak. Namanya anak² belum bisa untuk selalu rapi. Tugas Umi, temani adik belajar. Merapikan rumah kerjakan di waktu luang, pas nggak capek. Kalau capek ya biarkan aja dulu. Tinggal istirahat."
"Jadi Abi nggak nuntut rumah harus selalu cling dan rapi?"
Panggah maksa tanya... Hehehe
"Nggak. Toh kalo Umi nggak capek dan sehat, rumah ini selalu bersih kan? Yang penting jaga dan didik anak dengan baik. Atur emosi, biar nggak labil karena lelah."
Duh... Meleleh Bi... Standar Bersih Kita emang beda. Begitu juga standar nyaman dan bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar