Laman

Senin, 28 Maret 2022

DIARY RAHMAN 2

Aku meringsut dari kasur, langsung ke kamar mandi. Hatiku galau, antara bingung dan sedih. Ingin segera mandi, tapi air ini brr... rasanya dingin banget. Kumainkan gayung sambil menunggu airnya menghangat.
"Kak, segera mandinya. Gantian Ibu.." Deg, terdengar kembali suara ibuku. Aku bergegas mengguyur badanku dengan air. Menggosok sabun dengan cepat dan membilasnya kembali. Setelah itu aku langsung berlari keluar. 

"Handukan dulu. Udah siakatan apa belum? Kalau belum balik lagi." Tanya ibuku. Aku enggan menurutinya. Langsung kusambar handuk di kamar dan segera memakai seragam. Kulihat ibuku masuk ke kamar mandi. Aku sudah selesai memakai seragam saat ibu keluar kamar mandi. 
"Kak, lihat giginya." Ibu memeriksa gigiku. Aku meringis memperlihatkan deretan gigi yang belum aku sikat. 
"Gosok gigi dulu. Malu kalau giginya kotor dan masih bau." Ujar ibuku lagi.  

Ah, aku malas masuk kamar mandi lagi. Lagian aku tadi mandinya udah cepat-cepat, kenapa sekarang malah diminta masuk lagi? Lagian menurutku gigiku juga masih bersih. Ke sekolah juga pakai masker, jadi gak bakalan kelihatan kok kalau aku belum sikat gigi. Kulirik ibuku yang mulai sibuk bersiap ke sekolah. "Mas, sini Hani." Ibu mengambil alih Hani yang sedari tadi digendong Bapak. Kini gantian Bapak yang memandikan Hagia. Ibu menggendong hani sambil menyusui. Tangan kanannya sibuk mengusapkan bedak di wajahnya, sembari badannya terus bergoyang agar adikku tenang dan nyaman. 

Ibuku memang cekatan. Bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Bapak saja kalah. Lihat saja saat ini, ibuku menyusui sambil dandan. Kadang menyusui sambil menemaniku mengerjakan PR dan membacakan cerita untuk Hagia, adik keduaku. Atau menggendong Hani sambil memasak. Jarang, ibuku mengerjakan satu pekerjaan saja dalam satu waktu. 

"Assalamualaikum..." Buk Pit datang. 
"Waaikum salam." Kami semua menjawab salam. Buk Pit adalah orang yang menjaga Hani ketika ibu harus bekerja. Ibu langsung memberikan Hani pada Buk Pit. Lalu tangan cekatannya beralih ke Hagia, menyisir, dan merapikan bajunya. Tak terlewat rambutku juga, yang menurut ibu belum rapi. "Kak, minum sudah? Bekal taru di jok motor." Pinta ibuku. Aku hanya menurut saja. Ibu lalu memasukkan bekal Hagia ke dalam tasnya. Tak lupa mengambil tas kerjanya sendiri, dan mengeluarkan motor dari rumah.  

"Hani, ibu berangkat dulu ya.. Pak, ibu berangkat dulu. Assalamualaikum. " Ibu berpamitan, pada Hani dan Bapak. Aku dan Hagia mengikuti di belakang. Selanjutnya, kami pun berangkat ke sekolah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar