Ada hal yang aku tidak suka. Teriakan ibuku. Teriakan ibuku terdengar sangat menyebalkan. Seperti pagi ini, suaranya selalu membuatku enggan untuk bangun.
"Kak, udah pagi. Ayo bangun, sholat." Ujarnya sambil menggendong adik bungsuku yang menangis. Kulirik adikku yang nomor dua. Ia masih tidur, tapi dibiarkan saja. Kenapa cuman aku yang dibangunkan.
Aku hanya menggeliat, masih ngantuk banget. Lagian aku bangun pagi-pagi, nanti ujungnya juga disuruh bantu-bantu. Kan males aku. Kalau bangun agak siangan aku nggak perlu bantu jaga adikku selagi ibu masak.
Tak berapa lama, adikku Hagia bangun. "Ibu.." dia barenjak dari tempat tidur dan menyusul ke dapur. "Assalamualaikum Kakak cantik.." terdengar ibuku menyapa ramah. Aku sudah tidak mengantuk lagi. Rasanya ingin ibuku juga memanggilku demikian. Tapi ibu tak kunjung masuk kamar.
"Dik, bangunkan Kakak. Sudah siang." Pinta ibu ke Hagia.
"Kak, bangun. Sudah siang lo." Suara kecilnya membangunkanku. Tapi aku malas. Aku ingin ibu yang membangunkanku dengan lembut. Terdengar suara kajian subuh. Bapakku sudah pasti yang menyalakan radio. "Mas, tolong bangunkan kakak." Suara ibuku terdengar lagi.
Tak berapa lama, Bapak muncul sambil menggendong Hani, adik bungsuku yang berusia tujuh bulan. "Kak, bangun. Dah siang." Suara baritonnya terdengar olehku. Aku malas bangun. Karena yang kutunggu adalah Ibu. Tapi aku takut kalau tidak bangun. Akhirnya kuputuskan untuk bangun. Aku hanya duduk di kasur, belum beranjak dari kamar. Kulirik bapak yang sudah beranjak keluar sambil menggendong Hani.
Aku masih menunggu, semenit, dua menit, ibuku tak juga datang. Entah apa yang dikerjakan di dapur.
"Kak, bangun. Udah siang itulo, mau bangun jam berapa?" Ibuku sudah berdiri di pintu dengan wajah garang. Tak lama kemudian, beranjak lagi ke dapur. Aku merasa kaget, segera aku berdiri dan ke kamar mandi. Kenapa ibuku galak banget, beda sama adik.
*bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar