Rabu kemarin, Suami kebetulan pulang awal karena motornya rusak. Akhirnya nggak jadi berangkat kerja, dan setengah hari nunggu di bengkel. Jadi beliau luang untuk jemput Ara di KBIT.
Sore harinya, suami mengingatkan saya untuk antar anak-anak ngaji lagi. Ya, memang anak-anak sudah lama sekali tidak masuk TPA. Karena saya masih takut untuk bawa ketiga anak pergi ngaji, setelah kejadian kecelakaan 3 bulan lalu. Kali ini saya mutuskan untuk pindah tempat ngaji yang tidak perlu menyeberang jalan raya.
"Ara mau ngaji di Al Azhar?"
"Mau."
"Kalau mau, segera mandi. Terus berangkat."
Ara terlihat senang sekali. Ia mandi sendiri, sementara saya masih membujuk kakaknya untuk ikut. Setelah perbincangan panjang, sang kakak fix nggak bisa dibujuk lagi. Dia tidak mau ikut ngaji. Dengan alasan dia masih malu karena pernah muntah disana, sewaktu ngaji. Baiklah, aku mencoba buat menerima keputusannya, meski dalam hati, saya tetap ingin dia yang menuruti keinginan saya. Dengan satu alasan ngaji itu penting buat masa depannya.
Namun sekali lagi, "Anak pintar itu ada masanya. Yang penting adalah anak bahagia." Pemikiran ini kadang buat saya ketar-ketir. Pasalnya sampai usia berapa saya akan menuruti keinginan anak terus-menerus?? Tapi okelah, sore ini saya masih perlu waktu untuk kembali membujuk kakak. Aku harus bergegas antar Ara berangkat ngaji.
****
Ara terlihat supel dan mudah mendapatkan teman. Meski tidak kenal, dia berani berbaur dengan anak seusianya.
"Tanya dunk, ajak kenalan. Namanya siapa? Gitu." Aku memberi saran, saat ia malu-malu mendekati temannya. Dua anak yang usianya lebih besar dari Ara pergi. Mereka bergabung dengan anak yang lain.
Tak lama kemudian, ada seorang nenek yang mengantar cucunya. Kutaksir, usia anak itu seumuran Ara.
"Taksih ditunggu?" Aku mencoba menyapa.
"Mboten, wong nikilo, wangsul ngaji kok mbeto yotro kathah. Sanjange diparingi koncone. Wong diparingi kok kathah temen. Pitungewu. Ajrih kulo nek nyuwun-nyuwun koncone. Gek niki bade kulo balekne, tapi sanjange larene dereng dugi." Beliau menjawab.
"Owh, nggih. Pancen lare alit. Kadang dereng ngertos." Jawabku.
Obrolan kami mengalir seputar kegiatan sekolah. Dari beliau aku tahu, TPA sini baru buka kelas baru. Rumah tahfidz.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar