Sesampai di sekolah, kulihat banyak motor telah terparkir rapi di pinggir pagqr sekolah. Semoga belum terlambat banget, doaku dalam hati. Kusalami Ustadzah anakku yang jaga di gerbang.
"Pertemuannya di ruang mana Us?" Tanyaku setalah salam.
"Di ruang kelas. Monggo langsung mawon."
"Njih, terimakasih." Jawabku lantas berlalu menuju ruang kelas.
Kulihat anakku sedang bermain dengan temannya dan ditunggu salah satu Ustadzah.
"Umi..." Aya menghambur dipelukqnku. Dia senang sekali melihqtku datang.
"Maaf ya, Umi terlambat. Tadi ada perlu sebentar." Bisikku di telinganya.
Kugandeng dia ke dalam kelas dan duduk dipangkuanku.
"Udah lama, Mbak?" Tanyaku pada ibu Dzakiir di sebelahku.
"Belum, baru mau mulai."
"Alhamdulillah, nggak terlambat berarti."
Kusimak pelan-pelan suara Ustadzah yang terdengar sayup-sayup di telingaku. Maklum saja, anak-anak KBIT masih jam istirahat dan mereka ramai sekali, asyik bermain di teras dan halaman kelas.
"Rapor ananda kami sampaikan, dan untuk rapor plusnya, ada yang sudah diisi dan belum. Jika belum, berarti memang ananda masih belum mau untuk mengikuti. Dan mohon maaf, jika mendapati ananda pulang sekolah bajunya kotor, atau kejedot, dan lain sebagainya karena kurangnya pengawasan kami. Kami sudah berusaha sebaik yang kami mampu." Kutajamkan pendengaranku agar bisa mengakap pesan. Karena posisi duduk ku ada di bagian paling belakang.
Sambutan selesai dengan pemanggilan satu per satu nama santri untuk pembagian rapot. Ternyata nama anakku dipanggil yang pertama. 😄 Gegara huruf awalnya adlah abjad A.
Alhamdulillah, kulihat anaku dapat dua rapor. Artinya dia sudah mau mengikuti pelajaran tambahannya. Sekilas kulihat ada wali murid lain yag dapat satu rapot saja. Karena mereka memiliki anak-anak yang spesial dengan kecerdasan yang unik juga. Dari sini aku merasa benar-benar bersyukur, anak-anak ku tumbuh dengan baik dan sehat, tidak kurang suatu apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar