Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar.
Bertambah tahun, bertambah hari, semoga bertambah sabar, dan syukur dalam menjalani peran sebagai hamba. Januari ini mendapat tugas mendampingi anak kedua yang sakit, bapil, dan muntah. Setelah anak kedua sembuh, ganti anak ketiga yang sakit panas sejak 2 hari ini. Ada rasa nggak sempat buat nulis dan wegah. Tapi rasanya saya perlu menumpahkan uneg-uneg ditulisan ini. Sekedar menulis dan bercerita tentang kedua anak yang sedang sakit.
2 Januari mulai masuk sekolah. Seperti biasa aku harus menghandel tagihan laporan tahunan. Laporan Bos, PK Guru, SKP dan juga pastinya perangkat pembelajaran yang menjadi tugas pribadi saya. Berhubung Kepala sekolah hanya Plt, otomatis PK Guru dan penilaian SKP jadi dilimpahkan ke saya juga. Saya mengerjakan semuanya di sela saya mengajar dan setelah anak pulang. Kadang kala harus saya bawa pulang jika mendesak.
****
Puncaknya hari Jumat. Saya pulang sekolah membawa belanjaan ikan segar dan tempe, hasil beli dari sayur yang biasa mampir di sekolah. Sampai di rumah sekitar jam sebelas siang, saya minta tolong mbak buat goreng ikan. Sedang saya melanjutkan pekerjaan yang belum selesai di sekolah. Lanjut Print berkas teman guru. Smentara anak kedua dan ketiga saya, makan dengan lahap.
Waktu terasa cepat berlalu, tak terasa sudah jam tiga sore, mbak izin pulang. Saya menyudahi pekerjaan, dan mematikan laptop. Kedua anak saya masih tidur pulas. Saya pun mengambil makan karena kebetulan saya belum makan. Sedang suami, baru pulang kerja. Beliau puasa.
"Um,," panggil anak kedua saya. Ia sudah bangun rupanya.
"Sini, Umi di meja depan sama Abi." Kita berdua lagi ngobrol seperti biasa. Aya berjalan dan langsung duduk dipangkuan. Tiba-tiba dia muntah, hampir semua yang dimakan ia muntahkan.
Selepas asar, saya merasa kepala ini pusing. Mungkin efek seharian di depan laptop, pikirku santai. Setetah rebahan, toh bakal reda. Sementara si bungsu, badannya mulai panas. Sedang anak kedua saya muntah lagi di malam hari. Perutnya terasa kosong. Sampai kejadian ini, tak ada rasa curiga. Barangkali anak-anak memang staminanya kurang dalam mengadapi pergantian musim.
***
Keesokan harinya, saat masih sibuk di sekolah, suami meminta saya segera pulang. "Rasanya pusing banget." Keluhnya.
"Kenapa? Tadi makan apa?" Saya cemas.
Suami bilang hanya makan nasi dan lauk ikan sisa kemarin. Saya bergegas mencari air kelapa untuk menetralkan keracunan. Alhamdulillah suami membaik.
"Jangan beli ikan yang seperti iti lagi" pesannya.
"Nggih." Hanya itu jawaban yang bisa saya berikan.
Pantas saja kemarin saya pusing. Aya bisa muntah sampai 2 kali, mungkin itu yqng membuatnya sehat. Sedang suami minum air kelapa, begitu juga saya. Beda dengan si bungsu, ia susah minum air kelapa. Badannya masih panas sampai saat ini. Maunya cuman asi saja. Semoga lekas sembuh ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar