Pagi ini sebelum sekolah, sambil setrika baju, dan memutar radio, ada qoutes yang menarik. "History selalu lebih kaya dari yang tertulis di atas kertas". Pungkas pembaca siaran pagi itu.
"Eh, apa Bi maksudnya?" Aku penasaran dan bertanya kepada suami yang kebetulan berada disamping saya.
"Ya history, sejarah. Itu lebih kaya dari apa yang tertulis di atas kertas." Jawab beliau.
"The real, contohnya apa?" Saya tidak sedang tertarik membahas isu sesuai konteks berita pagi itu. Tapi saya sedang tertarik pada quote yang sesuai dengan lingkup kecil keseharian kami.
"Ya kayak kita di bulan Desember lalu. Uang gaji dua bulan full, buat bayar hutang. Kita pasti mikir, mau makan apa?! Tapi faktanya kita tetap makan. Iya kan?" Jawab suami menjelaskan.
"Hmm..." hanya komentar itu yang saya berikan. Tanganku masih sibuk menggosok baju sekolah anak-anak dan suami dengan setrika.
Anganku mulai melayang. Awal tahun kemarin, tahun 2022 kami memutuskan untuk melanjutkan kuliah suami yang pernah tertunda. Otomatis setahun ini harus benar-benar berhemat, gaji bulanan harus dialokasikan untuk biaya kuliah. Bismillah, semoga bisa.
Setelah mengurus transkrip nilai di kampus lama, alhamdulillah bisa transfer di kampus lain yang full online. Beberapa mata kuliah yang telah ditempuh masih diakui. Ini sangat berharga bagi kami, mengingat suami sudah DO, tapi nilai masih bisa keluar. Dulu di awal menikah, suami masih bisa kuliah. Namun setelah kelahiran anak pertama kami, dan banyaknya kebutuhan, membuat suami ambil keputusan berhenti kuliah adalah pilihan terbaik saat itu.
****
Setelah suami kuliah kembali, kami harus berhemat agar kuliah lancar dan segera selesai. Biaya kuliah telah kami perhitungkan dan benar-benar kami sisihkan. Namun ternyata, qadarullah ada saja kejadian tak terduga. Adik ipar sakit, perlu biaya berobat. Adik ipar lainnya menikah. Sampai 3 motor kami masuk bengkel bergantian, salah satunya ditabrak anak SMP. Dan semuanya cukup menguras tabungan biaya kuliah yang telah kami sisihkan.
Tepatnya di bulan November jelang akhir tahun, kami harus berhutang karena kebutuhan. Kami minta keringanan waktu 3 bulan jatuh tempo pengembalian. Beliau setuju.
****
"Aku nggak enak mananggung hutang. Bagaimana kalau gajiku dua bulan ini aku bayarkan semua untuk melunasi hutang?" Tanya suami.
"Lha buat sehari-hari gimana?" Tanya saya meminta kejelasan.
"Aku nggak mau terhalang buat sedekah karena masih ada tanggungan hutang."
"Kan masih belum jatuh tempo."
"Buat berhati-hati, bukankah kamu pernah bilang jika kita termasuk orang yang dzalim jika menunda membayar hutang?"
"Iya, Mas. Tapi konteksnya kan nggak begitu juga."
"Yakinlah in syaa Allah ada jalan." Pungkas suami meyakinkan sekaligus mengakhiri perdebatan kami.
Sebagai istri saya memilih untuk mengukuti apa yang telah diputuskan. Meski dalam hati ada banyak pertanyaan atas suatu ketidakpastian.
Namun akhirnya semua keraguan itu sirna. Bahan makanan datang dari jalan yang tiada kami duga. Saya nggak perlu belanja, dan makanan itu selalu ada dan cukup untuk kami berlima. Subhanallah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar