"Bang, lihat tuh tetangga udah manasin mobil. Kita boro-boro, tiap hari cuman bisa manasin sayur." Celoteh Imah ke Ali, suaminya.
Laki-laki itu hanya tersenyum meladeni ocehan istrinya di sore itu. Ia masih asik dengan oli bekas yang ada ditangannya. Barang elektronik bekas yang ia kumpulkan, dipilah mana yang masih bisa dipakai dan tidak. Barang-barang yang masih berfungsi akan dirakit kembali agar bisa dipakai.
Ali tahu, gajinya sebagai karyawan kontrak belum mampu menutup semua kebutuhan rumah tangganya. Namun ia tak pernah menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga sesuai yang ia bisa.
"Alhamdulillah, nyala." Ucap Ali puas.
Kipas angin bekas yang sudah mati dan pecah, ia bongkar, menganti bagian yang rusak. Hanya dengan modal sepuluh ribu rupiah saja, barang itu sudah bisa dipakai.
"Dik, lihat kipasnya. Nyala." Ditariknya tangan Imah, untuk melihat karyanya.
"Hmmm… bongkar terus, dandan terus, tapi nggak ada hasilnya." Gerutu Imah.
"Dik, kipas ini mau tak kasih Bapak. Kamu tahu kan, aku belum bisa bantu apa-apa. Kemarin Bapak bilang kipasnya rusak. Aku mau belikan yang baru, tapi kamu juga ngerti sendiri, uangku belum ada." Jawab suaminya kalem.
Imah tersenyum, dalam hatinya ada rasa haru. Ditengah kehidupannya yang sederhana, Ali, suaminya masih menyempatkan diri untuk memenuhi keinginan orangtuanya. Meski bukan kipas baru, setidaknya masih bisa dipakai.
"Aku pengen menyenangkan orangtuaku. Mumpung mereka masih ada, aku butuh ridha mereka. Semoga dengan ridha mereka, kehidupan kita ini diliputi berkah." Jelas Ali.
"Aaamiin…" Imah mengaminkan harapan suaminya.
Imah mengakui, suaminya itu nyaris sempurna. Sabar, baik, penuh kasih, dan nggak neko-neko. Suaminya itu juga rajin beribadah, malam-malamnya ia lewati dengan munajat pada Sang Khaliq. Siang hari sering dilalui dengan puasa sunnah. Apa yang diinginkan wanita, tentang kepribadian seorang suami, ada padanya. Hanya satu saja yang belum ada pada suaminya. Kelapangan harta.
Ya, sependek yang Imah tahu, itu saja yang menurutnya kurang dari suaminya. Ia tahu betul, suaminya sudah bekerja keras. Tak kurang juga usaha yang telah dilakoni suaminya itu. Tapi ya tetap saja, hasil yang dibawa pulang hanya cukup untuk kebutuhan sederhana sehari-hari saja.
"Sini, ikut sebentar." Ali menggandeng tangan istrinya menuju teras rumah.
"Kamu lihat kebun itu, Dik?"
"Kenapa?"
"Tanaman itu, dulu Abang yang nanam. Kamu tahu kan, saat berbuah kemarin, kita bisa berbagi dengan tetangga. Menurutmu, siapa yang mengatur pohon pisang dikebun itu bisa berbuah bersamaan? Sampai rata dan cukup untuk berbagi?"
"Terus?"
"Kamu lihat sekarang, di tanah yang sama, dan tanaman yang sama, hanya saja berbeda status kepemilikan. Pohon pisang itu tak sesubur dulu."
"Abang benar."
"Begitulah, Dik. Bukan Abang tak ingin, Abang juga ingin memberi kalian penghidupan yang layak. Tapi apa daya, bukan Abang yang mengatur dan menakar rejeki. Yakinlah, apa yang Allah beri ke kita adalah yang terbaik untuk kita."
"Iya, Bang. Imah paham. Rejeki yang tertakar tak akan tertukar."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar