Pada tantangan 14 hari zona 1 kita diajak untuk mengenal diri sendiri, memahami emosi yang muncul, apa sebab dan bagaimana cara kita mengekspresikannya. Apakah cara tersebut sudah sesuai dengan harapan ataukah belum.
Tak dapat dipungkiri, kondisi saat ini memang sangat rentan membuat kaum ibu mengalami gejolak emosi. Ada banyak faktor internal maupun eksternal yang berperan membuat para ibu harus menanggung beban melebihi kapasitas diri mereka. Ibu yang seharusnya bisa lebih bersabar menghadapi proses belajar anak-anak yang masih sangat memerlukan waktu, ternyata harus terburu karena ia sendiri dikejar waktu.
Hal seperti itulah yang seringkali saya alami di pagi hari. Di saat saya berjibaku dengan masakan di dapur, saya berharap si sulung segera mandi. Kemudian bergantian setelah masakan siap, sulungku harus sarapan, sedang saya yang bergantian mandi. Namun realita yang sering terjadi, kadang sulungku memilih asik gegoleran di kasur, menungguku sampai selesai memasak dan makan dulu, atau kadang ia bermain kemudian lari menerobos ke arah kamar mandi ketika saya mau mandi. 🤦♀️
Itu baru si sulung, belum Bapaknya yang mendadak minta disetrikakan baju saat jarum jam mendekati jam darurat sekolah. Atau si tengah yang mendadak mogok nggak mau sekolah, dan si bungsu yang nggak mau turun dari gendongan. 😔 emosi di pagi hari sudah mulai beranjak naik.
Kejadian serupa tentunya banyak sekali, karena pastinya ada banyak ibu yang mengalami kondisi seperti saya. Dan di zona ini kita sedang berlatih untuk mengendalikan emosi dan mengendalikannya.
Berikut tips yang telah saya coba saat kegiatan padat merayap dan memicu emosi.
Pertama, istirahat yang cukup. Setelah saya mengenali alasan kenapa saya mudah marah, salah satunya adalah faktor kelelahan. Banyaknya kegiatan yang berlompatan di kepala untuk segera diselesaikan, membuat saya midah tersulut emosi bahkan tingkah anak yang seharusnya biasa saja menjadi heboh dimata saya.
Kedua, tentukan batas waktu kapan aktivitas satu harus segera bergantian ke aktivitas yang lain. Hal ini penting sekali. Kadang kegiatan sekolah pas kebetulan padat membuat saya lupa jam jemput anak. Akhirnya guru anak saya bolak balik telpon, dan membuat saya kacau. Pesan WA yang sebenarnya biasa pun, jadi bukin hati dongkol.
Ketiga, turunkan standar. Jika memang posisi kita sebagai ibu yang harus ikut membantu suami menjemput rizqi, sedang anak-anak masih perlu perhatian, tentunya akan ada banyak kompromi dan lingkungan kerja dan juga rumah. Misal, saat jam istirahat, rekan kerja bisa santai ngobrol, kita harus pumping, harus jemput anak-anak, dan seterusnya.
Terakhir yakinlah bahwa Allah tak pernah salah. Yakinlah bahwa anak-anak yang Allah titipkan pada kita adalah anak-anak yang telah dibekali fitrah untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan kita. So, tetaplah berproses dan nikmati setiap belajar yang kita lalui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar