Assalaamu'laikum, Sobat Umma...
Kali ini pengen ikut tantangan menulis mingguan bertema flexing yang ternyata diperpanjang. Yeay...!!!
Suatu ketika, saya sedang bermain bersama anak-anak. Dan tingkah mereka yang menurut saya lucu, saya abadikan dalam bentuk video ataupun foto. Kemudian saya unggah ke medsos. Ataupun saat sedang makan, berlibur bersama keluarga, seringkali hal ini saya lakukan. Namun, aktivitas ini seringkali mendapat teguran dari suami. "Jangan posting di medsos, khawatir kena ain, anak-anak masih kecil. Atau tolong jaga perasaan orang lain, karena tidak semua orang senang dan mendapatkan nikmat yang sama dengan nikmat yang kita peroleh. Riya' itu halus banget." Kurang lebih begitu yang beliau pesankan.
Sebagai seorang istri, saya hanya ikut saja. Toh pinta suami juga demi kebaikan. Sebagai gantinya, saya hanya posting kegiatan anak-anak ke suami atau ke uti dan kakungnya. Jadi, begitu marak istilah flexing akhir-akhir ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri seberapa flexing-kah saya?? 🤭
*****
Apa sih flexing itu???
Saat ini, perilaku flexing marak sekali dan sudah dianggap hal yang wajar dan lumrah. Bahkan kita sendiri tidak tahu, bahkan tidak merasa bahwa perilaku kita masuk pada tahap flexing. Sebenarnya apa sih flexing itu???
Flexing merupakan istilah dari bahasa Inggris yang berarti 'pamer'. Lebih spesifik, menurut Prof. Rhenald Kasali, flexing adalah istilah yang digunakan untuk pamer kekayaan.
Flexing dikalangan anak muda
Istilah flexing mulai marak dikenal dan cenderung melekat pada anak muda yang sering menunjukkan kekayaan, harta, uang di sosial media. Hal itu bisa dilihat dari unggahan mereka di sosial media. Sehingga wajar bila saat ini medsos menjadi wadah untuk aktivitas flexing alias pamer. Makan di tempat makan, posting ke medsos. Jalan-jalqn ke luar negeri, upload ke medsos. Beli barang mewah, unggah lagi, dan seterusnya.
Inilah potret mirisnya kondisi generasi pada sistem kapitalis saat ini. Kesenangan materi seolah-olah adalah segalanya. Sehingga wajar jika yang dikejar dan diincar adalah harta dan ketenaran. Mereka akan bangga memamerkan kekayaan agar terkenal dan dianggap keren oleh orang lain. Mereka akan bangga karena merasa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mereka menganggap pamer ini dapat meningkatkan ketenaran dan status sosial mereka.
Parahnya, kondisi generasi saat ini yang semakin jauh dari agama, membuat mereka merasa boleh melakukan apapun sesukanya. Termasuk flexing. Mereka beranggapan, boleh dong pamer kekayaan toh ini kan punyaku sendiri. Konten-konten flexing yang menjamur, seolah-olah ingin mengedukasi bahwa orang kaya itu mudah mendapatkan segalanya yang ia mau. Mereka lupa bahwa harta yang saat ini dimiliki adalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Carilah perhatian dan ridho Allah
Bulan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk kembali merefleksi diri, menata hati dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." QS. Al-Hujurat[49]:13
Stop flexing, hanya karena ingin mendapat pujian manusia, hanya karena biar terlihat lebih uwuw di mata mereka. Karena di sisi Allah yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.
Gunakan harta yang Allah anugerahkan untuk sarana beribadah, dan mendekatkan diri padaNya. Bukan untuk pamer semata. Karena kelak, tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari amat sampai dia ditanya atau dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkan, dan tentang hartanya dari mana diperolehnya dan kemana di belanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa yang digunakannya.
Jadikan sosmed untuk sarana syiar Islam dan kebaikan yang dapat menginspirasi generasi muda lainnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Sehingga amal dan ilmu yang kita bagikan akan bernilai sebagai ibadah.
Waallahu a'lam.
Wassalamualaikum wr.wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar