Laman

Sabtu, 18 Maret 2023

Hebohku Pagi Ini.

Tantangan zona 1 kelas Bunsay hampir saja terlewat. Sudah dua hari pertama sejak setoran dimulai, saya masih belum bisa menata hati. Beruntung perasaan saya mulai membaik setelah ikut materi self awareness dan menuliskan semua yang saya rasakan pada postingan kemarin. 

Hari ini mulai mengejar target setoran agar tidak sampai di kelas klip. Malam ini pengen nulis tentang tantangan sudah 1, tantangan di zona ini rasanya kok pas banget, berasa gue banget, ketika mengerjakannya. Emosi saya pas lagi diaduk-aduk, efeknya tentu saja pada pengasuhan saya. Anak-anak selalu kena imbas dari emosi saya. 

Menyesal, itu pasti. Terkadang ketika saya sedang dikejar deadline sekolah, anak-anak tak kunjung kooperatif dengan tugas mereka, ditambah lagi pasangan yang ikut memojokkan. Huft... rasanya pengen ngamuk ke semua. Pengen berteriak sekencang-kencangnya, saya lelah. Kenapa semua tugas dilimpahkan ke saya. Kenapa suami nggak mau turun ambil peran ketika saya sedang sibuk. Kenapa, kenapa dan kenapa???

Taruhlah saja seperti kehebohan pagi ini. Mbak yang mengasuh anak bungsu tak kunjung datang. Suami, saya tanya apa kemarin dimintai izin? Kebetulan kemarin saya pulang terlambat, karena acara tilik bayi salah satu teman. Begitu sampai di rumah, mbak sudah pulang. Suami menjawab tidak tahu. Saya mencoba berulang kali menghubungi mbak, tak kunjung diangkat. Anak kedua ada kegiatan gebyar Ramadhan dan harus kumpul jam 6.30. 

Emosi saya mulai beranjak naik. Pasalnya siswa saya sedang PTS, sejak minggu lalu mbak pengasuh bersedia mendampingi kegiatan anak kedua saya. Lha, kemarin mendadak konfirmasi kalau ada acara peringatan 1 tahun meninggal ibu mertuanya. Saya pun okey, disinilah letak miss-nya. Saya hanya menerka seperti biasa. Ketika mbak ijin saya tidak bertanya, karena biasanya anak ketiga saya akan diajak bersamanya. 

Fokus saya kemarin adalah mencari pendamping anak kedua saya. Adik yang biasanya Sabtu libur, kali ini masuk karena PTS. Adik ipar hari ini wisuda. Akhirnya Adik keponakan, alhamdulillah Sabtu libur. Jadi dia bersedia mendampingi anak kedua saya. 

Jarum jam menunjuk pukul 6.30, saya belum berhasil menghubungi mbak pengasuh. Suami mulai bersuara sumbang, khawatir mbak pengasuh minta berhenti. "Minta tolong antarkan saja Kakak ke sekolah." Pinta saya ke suami. Suami pun segera bersiap dan berangkat. Tingal saya bersama si sulung dan bungsu yang masih menunggu kepastian. Jarum jam terus berputar, menunjuk pukul 6.45, sulungku mulai gusar. Hari ini PTS juga, kebetulan dia satu sekolah dengan saya. 

Dering di seberang mendapat jawaban. Mbak nggak datang ke rumah, sudah ijin sama suami. Huft, berulang kali saya menarik dan mengeluarkan napas agar emosi yang telah saya tahan sedari tadi tidak meledak. Akhirnya kubawa kedua anakku ke sekolah. 

****
Ini kali pertama si bungsu ikut sekolah, sejak pagi sampai pukul 11 siang tak kunjung turun dari gendongan. Masyaa Allah, punggung saya rasanya udah nano-nano. Dia baru mau turun ketika kakak keduanya sampai dan semua siswaku pulang. Genaplah sudah, aku membawa ketiga anakku ke sekolah hari ini. Kuhubungi suami via video call. Mencari dukungan sejenak untuk mengobati lelahku, dan support energi. Saya memanfaatkan waktu tunggu jam pulang bersama anak-anak. 

Selang beberapa jam kemudian, suami menelepon. 
"Ada dimana? Kok di rumah sepi."
"Lho, sudah pulang to?" Tanyakubtak kalah heran.
"Sudah."
"Kok nggak mampir sekolah, kenapa nggak bantu jemput anak-anak?" Saya ke sekolah dengan sepeda listrik. 
Sepeda ini kami naiki berempat, saya dan anak-anak usia 9, 4 dan 1,5 th. Belum ditambah barang bawaan kami bertiga. Kebayang kan gimana mbriyutnya saya hari ini. 
"Aku ngantuk." Dengan entengnya suami menjawab. 

Teman-teman satu sekolah yang searah menawarkan bantuan untuk mengantarkan anak-anak. Cuman mereka nggak mau semua. Okelah anak-anak, your mamak semoga selalu strong๐Ÿ’ช. 

****
Tiba di rumah, berpapasan dengan suami yang pulang dari mushola. 
"Karena aku yakin dan percaya kamu bisa diandalkan." His simple answer. 
Allahu Akbar... Allahumma ajirni, wakhlufliyal khairan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar