Laman

Jumat, 17 Maret 2023

Self Awarenes

Efek dari masalah psikologis yang tak teratasi itu membuat aktivitas benar-benar kacau. Bagaimana tidak?! Saat kita melakukan sesuatu hal, yang pada dasarnya merupakan hal yang biasa, namun direspon negatif oleh orang lain hanya karena kondisi dia yang sedang lelah secara emosional membuat orang lain terkena imbasnya. 

Begitu juga dengan hal yang saya alami. Sebagai seorang guru junior yang terkena efek emosi dari guru senior. Padahal yang saya lakukan adalah mengklarifikasi dari perintah yang beliau berikan. Namun beliau bereaksi dengan marah dan malah mengatai saya "wong ra mbeneh". Rekan guru yang lain, meminta saya untuk bersabar. Karena memang karakter beliau seperti itu. 

Ditengah gejolak hati saya yang tersakiti, antara ingin membalas emosi, ada juga adab yang harus saya pegang, membuat saya memilih untuk diam sejenak. Membiarkan diri ini tak melakukan apapun sampai benar-benar akal dan perasaan ada pada posisi netral. 

Tak lama berselang, ada pesan wa masuk dari putri beliau yang menyatakan permohonan maaf. Saya pun mengiyakan, karena putri beliau kebetulan berada satu sekolah dengan saya. 

****

Selang beberapa hari, meski saya berupaya untuk mengikhlaskan, namun rasa sakit itu masih ada. Sampai-sampai cukup mengganggu aktivitas saya, termasuk dalam motivasi menulis setoran. Fisik saya berasa sangat lelah, setiap kali pulang sekolah, karena mengingat kejadian tersebut. Sampailah saya mendengar materi sefl awareness di kelas bunsay zona 1. 

Di dalam proses kehidupan ketika ada sesuatu kejadian yang terjadi pada diri kita, dan itu sudah terekam oleh indra tubuh kita, kemudian diproses dalam otak kita, maka dalam proses melupakan itu adalah sesuatu yang mustahil. Kecuali ada kecelakaan tertentu yang terjadi terhadap otak kita, sehingga menghilangkan beberapa memori yang ada di otak kita. 

 Nah, yang perlu kita garis garis bawahi di sini adalah memaafkan bukan melupakan,  karena melupakan itu bukan sebuah hasil dari pada memaafkan. Dari berbagai macam research ternyata memaafkan itu adalah sebuah proses yang akan bergulir yang akan berjalan dan bukan merupakan suatu hasil. Tapi dengan memaafkan itu akan terjadi proses yang baru, reaksi yang baru, terhadap diri kita. Jadi ketika ada sesuatu yang terjadi pada diri kita, maka dengan memaafkan, reaksi itu tidak akan mengganggu kesehatan mental kita. 

Contohnya, kalau dulu dengan mengingat yang hal yang membuat terluka, kita akan menangis dan bersedih. Tapi setelah melakukan proses pemaafan maka ketika mengingat kejadian tersebut kita akan lebih tertata. Waktu itu, oh ya, itu sudah berlalu. Itu membuat saya tidak nyaman, tapi saya berproses untuk memilih reaksi yang baru terhadap kejadian itu.

****

Dari sini akhirnya, saya merasa perlu untuk menuangkan uneg-uneg hati ini dalam sebuah tulisan. Setidaknya ini menjadi sarana untuk membuang semua energi negatif yang tertahan. 

Yup, pada dasarnya semua situasi itu bersifat netral. Tapi ia akan dipengaruhi oleh pikiran, emosi dan perilaku reaksi fisiologis. Melalui proses sefl awareness ini, saya mejadi observer pada diri saya sendiri tentang perilaku, perasaan, dan pikiran saya. 

Pertama, saya memahami tujuan yang saya inginkan dalam konflik ini. Saya ingin tetap bahagia, lebih bahagia dan memiliki well-being yang baik.

Kedua, saya berharap agar mampu mengendalikan diri dan menyelaraskan dengan standar atau nilai pribadi. Bagi saya, beliau adalah ayah dari rekan kerja saya. Secara usia, beliau seusia orangtua saya juga. Ada adab yang patut saya utamakan disini. Adab terhadap orangtua, adab terhadap guru, dan juga marwah saya sebagai guru yang tidak layak untuk berdebat di tempat umum. Meski tempat itu adalah grup wa. 

Ketiga, saya tau dan mampu menata kembali hal yang masih menghambat dalam pencapaian tujuan. Dengan menuliskan disini, saya merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hati saya mulai mereda. 

****

Closing statement, ketika kita sudah mempunyai kesadaran diri, kita akan lebih mudah untuk mengambil solusi dan menentukan akar masalah dari diri kita. 

So, hubungan self awareness dengan pengasuhan itu apa?

aware -> well being dan happy -> ready to learn as a mother dan confidence -> happy child make wonderful experience

not aware -> confused / burn out -> mother with mental problem -> adverse child experience



nah,,, mau jadi yang mana??

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar