Learning by Teaching, belajar
mengajar bersama anak.
Sejatinya ketika kita mengajarkan
sesuatu kepada anak, maka pada saat yang sama, kita juga sedang belajar. Ketika
kita mulai mengajarkan konsep kepada anak bahwa harta adalah sebagian rizki
dari Allah, maka kita pun perlu untuk belajar mengelola keuangan sebagai wujud
pertanggungjawaban atas rizki yang kita dapatkan. Belajar mengelola uang belanja
dari suami, meningkatkan potensi diri dari seorang kasir menjadi manager
keuangan.
Sebagai istri, sampai dimana posisi
kita?
1. Menghabiskan
jatah belanja dari suami. Ketika suami memberi nafkah, istri membelanjakannya
sesuai dengan keinginannya. Tanpa ada pencatatan, sehingga tak tahu kemana arus
perputarannya. Ujungnya ketika habis tinggal minta lagi. Mending kalau yang
diminta pas ada. Kalau nggak, tentu akan menjadi masalah.
2. Istri
menjadi “kasir”, sekedar mencatat pemasukan dan pengeluaran saja.
3. Sebagai manager.
Mengatur sedemikian rupa agar cukup untuk memenuhi kebutuhan, menyisihkan untuk
sedekah, tabungan pendidikan dan dana darurat misalnya dan seterusnya.
Semuanya memerlukan proses, bukan
hasil instant. Tak apa kita belajar bersama anak.
****
Begitu pula dengan yang kami alami. Seringkali saya menjelaskan ke anak bahwa tidak semua yang kita ingikan harus dibeli. Anak pun bertanya, kenapa? Jawaban saya adalah karena kita belum punya uang untuk beli itu. Sehingga kami ajarkan untuk menabung dulu dan berdoa kepada Allah. Agar ia tahu bahwa di dunia ini semua memerlukan perjuangan
dan proses untuk mendapatkannya.
Hingga hari ini berkali-kali saya dengar anak memanjatkan doa untuk kami.
"Umi, aku tadi berdoa sama Allah biar umi punya uang banyak." Ucapnya ketika menghantar keberangkatan Abi bekerja.
"Doakan punya uang yang berkah." saya meralat. Karena yang banyak belum tentu berkah.
"Abi juga doakan ya, Dik." pinta suami.
Sewaktu menemani saya mencuci baju, anak berdoa lagi.
"Ya Allah, aku minta mainan. Beri Umiku uang yang banyak biar aku dibelikan mainan Ya Allah."
Begitu juga ketika sholat maghrib, sambil tersenyum malu-malu minta sama Allah. Mungkin ia tahu permintaanya kali sangat banyaaaaak sekali.
Hingga hari ini berkali-kali saya dengar anak memanjatkan doa untuk kami.
"Umi, aku tadi berdoa sama Allah biar umi punya uang banyak." Ucapnya ketika menghantar keberangkatan Abi bekerja.
"Doakan punya uang yang berkah." saya meralat. Karena yang banyak belum tentu berkah.
"Abi juga doakan ya, Dik." pinta suami.
Sewaktu menemani saya mencuci baju, anak berdoa lagi.
"Ya Allah, aku minta mainan. Beri Umiku uang yang banyak biar aku dibelikan mainan Ya Allah."
Begitu juga ketika sholat maghrib, sambil tersenyum malu-malu minta sama Allah. Mungkin ia tahu permintaanya kali sangat banyaaaaak sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar