"Bu, kalau besar nanti, aku ingin bisa keliling dunia. "
Sang ibu menarik napas dalam-dalam. Dibenaknya tergambar kondisi ekonomi keluarganya, sebelum akhirnya berkata,
"Nak, buat makan sehari-hari saja susah. Kamu bisa sekolah juga alhamdulillah. Mau keliling dunia pake uang siapa? Westalah, kita mah orang kecil, nggak usah muluk-muluk. Yang penting bisa makan cukup."
***
Disisi lain,
"Bu, besok kalau gede aku pengin keliling dunia."
Sang ibu menelan ludah, melihat kondisi keluarganya. Namun ia juga tak ingin membuat anaknya kecewa. Dengan suara pelan ia menjawab,
"Kalian milik Allah Yang Maha Kaya, bukan milik bapak ibu, mintalah sama Allah, pasti dikabulkan dan diberikan jalan terbaik."
****
Kalau kita berada di posisi anak, jawaban mana yang akan kita pilih?? Jawaban mana yang kita harapkan keluar dari bibir ibu kita??
Dan jawaban apa yang kita dapatkan?
Terkadang kita sebagai orangtua sering Kali terpaku pada kondisi saat ini. Padahal, anak memiliki zamannya sendiri. Zaman yang jauh berbeda dengan kita. Seperti yang saya alami.
Suatu ketika anak saya minta mainan, saya mengingatkan kembali, kalau kita baru beli mainan sehari sebelumnya. Dan menjelaskan uang yang ada pada saya untuk keperluan lain. Bukan untuk beli mainan lagi. Kalau mau beli mainan harus nabung dulu, setelah cukup, terserah mau dibuat apa. Jelas saya panjang lebar.
Setelah itu anak saya bertanya, tepatnya memberi tawaran.
"Umi, kalau aku sudah besar gek punya yang banyak, Umi mau minta apa?"
Mendapatkan pertanyaan spontan dari balita saya seperti itu, membuat angan saya melambung tinggi. Antara rasa senang dan haru.
"Umi gak minta apa-apa Mas."
"Ya Umi mintao, nanti tak beri. Umi pengen apa?" Desaknya.
"Hmmm, ajak Umi ke Makkah ya."
"Iya, nanti tak ajak."
Duh... Mata saya mulai menganak sungai. Terbayang jika balita saya dewasa, apakah saya masih ada? Apakah saya masih sempat melihatnya berumahtangga?
Saat itu, bagaimana kesehatan saya, masihkah sekuat sekarang?
Terlalu lebay kali ya.. tapi begitulah. Sampai saya mendapatkan pertanyaan selanjutnya.
"Umi ke Makkah nya mau naik helikopter, kereta api, apa perahu?"
Ditengah haru, saya pun tertawa. Menyadari balita saya ternyata belum dewasa.
Ke Makkah pake helikopter?!
Ke Makkah naik kereta api?!
Ke Makkah naik perahu???
Apa bisa?
Begitulah kata hati saya.
Namun saya biarkan pertanyaan itu tak terjawab. Sampai saya bicarakan nanti dengan Abinya.
"Terserah Mas, mau naik apa. Umi suka." Begitulah jawaban yang saya berikan. Membiarkan balita saya berpikir apa yang cocok untuk kami.
***
Sesampainya di rumah, saya menceritakan semua dengan suami. Termasuk adegan tertawa spontan saya.
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Bisa jadi kecanggihan teknologi mungkinkan kesana naik kereta api. Atau kita yang pindah tempat tinggal, sehingga alat transportasi itu bisa kita gunakan. Kita tak pernah tahu, jangan tertawakan lagi mimpi anak."
Satu pelajaran berharga saya dapat dari dua orang terdekat saya. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar